Wisata Murah Meriah Spot Hiu Paus Gorontalo Idola Turis, Ini Tarifnya

Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo fokus menyasar segmen pasar wisatawan nusantara dan mancanegara. Ivonela Larekeng Ketua Bidang Promosi Dispar.

Editor: lodie tombeg
Tribun Gorontalo
Ivonela Larekeng Ketua Bidang Promosi Dispar Provinsi Gorontalo 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo fokus menyasar segmen pasar wisatawan nusantara dan mancanegara. Ivonela Larekeng Ketua Bidang Promosi Dispar Provinsi Gorontalo mengatakan, Dispar tahun 2022 akan fokus pada quality tourism atau perjalanan yang berkualitas.

Tahun ini Dispar akan fokus pada segmentasi pasar wisatawan. Artinya mereka wisatawan tidak hanya datang di Gorontalo itu sekadar singgah, namun Dispar kata Ivonela Larekeng, akan memberikan nilai experience yang bisa mereka bagikan ke negaranya sehingganya hal itu akan mengakibatkan adanya kunjungan lagi.

“Kita akan berikan nilai perjalanan berkualitas semisalkan, mereka datang ke sini, kita memaparkan jika mereka ke hiu paus karena wisata itu keren, apalagi itu dekat dengan permukiman dan dapat dijangkau dengan mudah, dan tidak perlu ketengah laut dan tarifnya cukup murah. Nah, ini tentu sebagai narasi yang menjadi poinnya, ke depan tingkat kunjungan itu kita perbaiki dalam artian kualitas perjalanan mereka yang kita perbaiki,” terang Ivonela.

Ke depan sambung Ivonela, Dispar akan melaksanaan event atraksi destinasi semisalkan pagelaran budaya. Ini menambah daya tarik kunjungan, sehingga jika ada wisatawan yang ke Gorontalo berhari–hari wisatanya maka atraksi ini yang akan menjadi instrumen untuk perjalanan mereka.

Baca juga: Spot Wisata Baru Gorontalo: Hamim Launching Longalo River Tubing

“Kita akan memberikan wilayah atraksi ini atas inisiatif desa agar mereka bisa mandiri untuk memberikan pelayanan yang lebih baik ke wisatawan yang datang. Kalau dinas yang turun lagi maka mereka akan berpikir ada pendampingan lagi dan ini akan membuat mereka tidak mandiri. Mereka yang mengisi kontennya ke depan namun kita dampingi dari sisi sistem informasi atau membantu dengan aplikasi yang ada. Karena destinasi itu berada di kabupaten kota maka mereka tentu yang memiliki kewenangan. Dispar dalam kolaborasi ini hanya pada men-support,“ katanya.

Kata Ivonela, destinasi yang masih menjadi primadona di Gorontalo, yaitu masih spot kemunculan hiu paus. Itu tidak ditemukan di daerah lain yang lokasi hiu pausnya dekat. Di Teluk Cendrawasi juga ada dengan spesies hiu pausnya juga sama akan tetapi jika wisatawan yang ingin melihat langsung harus berada di tengah laut dan tarifnya terbilang mahal.

Sehingga ini menjadi pembeda di wilayah Gorontalo. Di Gorontalo tarif untuk wisatawan itu sangatlah murah hanya dengan membayar tiket Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu sudah dapat mengakses wisata tersebut.

Menurut Ivonela, wisatawan mancanegara ketika akan berkunjung ke Gorontalo sudah sangatlah muda jika ingin menikmati petualangannya karena saat ini kita di Gorontalo setiap tempat wisatanya sudah memiliki transleter yang bekerja sama dengan pokdarwis.

“Dulu kami Dispar sulit untuk membentuk transleter (penerjemah) namun sekarang sudah lebih mudah karena sudah terbentuk dengan sendirinya, jadi masyarakat itu sudah mulai sadar bahwa pariwisata ini mau bikin kehidupan lebih baik, jadi mereka sudah meningkatkan fasilitas pelayanan dengan inisiatif membentuk pokdarwis, tetapi kita dinas pariwisata turun langsung membantu dengan mendampingi mereka, memberikan penguatan serta kesadaran guna meningkatkan kemampuan mereka,” tukasnya.

Terbentuknya pokdarwis sangat membantu Dispar untuk meningkatkan data pengunjung ke destinasi wisata di Gorontalo. Setiap pengunjung yang datang ke Gorontalo, pokdarwis inilah yang memaparkan ke mereka terkait dengan sejarah wisata, serta mereka juga memberikan edukasi atas keselamatan dalam berwisata yang lebih safety.

“Dengan hal ini tentu akan meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat setempat dengan larisnya dagangan lokal yang didagangkan oleh masyarakat, karena tidak mungkin seorang wisatawan datang ke situ tidak belanja bahkan tidak makan di situ, tentu mereka akan adaptasi dengan penduduk lokal. Semisalkan ada 100.000 orang ke Gorontalo, minimal ia belanja Rp 10 ribu, paling banyak Rp 50 ribu, maka ada Rp 5 miliar yang berputar. Memberdayakan masyarakat melalui wisata tentu dengan mendagangkan produk lokal di setiap destinasi wisata,“ tandasnya. (ris)

 

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved