Siswa SMA Negeri 7 Gorontalo Belajar di Kelas, Begini Penjelasan Kepsek Wahyudin
SMA Negeri 7 Gorontalo berlakukan pembelajaran tatap muka (PTM). Sekolah memberlakukan kuota 100 persen yang dibagi dalam dua shift.
TRIBUNGORONTALO.COM, Limboto - SMA Negeri 7 Gorontalo Kota Gorontalo berlakukan pembelajaran tatap muka (PTM). Sekolah memberlakukan kuota 100 persen yang dibagi dalam dua shift, masing-masing 50 persen, sejak September 2021.
Demikin diungkapkan Kepala SMA Negeri 7 Gorontalo Wahyudin Humonggio. Kepada TribunGorontalo.com Sabtu (5/2/2022) pukul 08.20 Wita, Wahyudin menyatakan bahwa pihak sekolah memilih untuk mendatangkan semua kemudian dibagi dalam paruh waktu pertama dan kedua dengan rasio 50 persen.
Dari 276 siswa, sekolah membagi kegiatan belajar berdasarkan SKB dan edaran dari Dinas Dikbudpora, setiap sekolah hanya berhak menyelenggarakan 50 persen dari jumlah siswa.
Untuk paruh pertama mulai pukul 07.30-10.30, kemudian dilanjutkan pada paruh kedua mulai pukul 11.00-15.00 dengan jeda istirahat pada pukul 12.00.
Akan tetapi kebijakan dari sekolah yang berlokasi di Kota Selatan Limba U1 ini mendapatkan tanggapan yang berbeda-beda dari pihak orangtua murid. Meskipun banyak yang setuju, namun tak sedikit yang tidak setuju bahkan ada orangtua yang tidak peduli dengan kebijakan sekolah tersebut.
"Kalau yang tidak setuju itu, karena mereka masih khawatir dengan penyebaran Covid," ujar Wahyudin.
Meski sempat menuai protes, pembelajaran tatap muka pada akhirnya mendapat respons positif dari kalangan orangtua.
Sebab pihak sekolah tidak menekan syarat khusus untuk para siswanya, seperti siswa harus divaksin terlebih dahulu, baru bisa mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas.
"Karena seusai dengan SKB 4 menteri, bahwa vaksin siswa itu bukan syarat untuk mengikuti PTM. Dan didalam SKB, pemda dilarang menambah syarat yang tidak tercantum di SKB," lanjut Wahyudin.
Namun terlepas dari aturan yang ada, pihak sekolah masih menemui kendala diantaranya beberapa siswa sering terlambat datang ke sekolah. Menurut Wahyudin, pihaknya sebelumnya jauh sebelumnya, sudah memberlakukan aturan khusus untuk menekan tingkat ketelambatan siswa.
Baca juga: Restorasi Mahasiswa Bone Bolango-Gorontalo, dari Literasi hingga Vaksinasi
"Kami menerapkan bagi siswa yang 3 kali terlambat dihitung 1 kali alpa. Kemudian akumulasi alpa itu akan berpengaruh pada kelulusan siswa tertentu," katanya.
Aturan tersebut pada akhirnya mampu menekan tingkat keterlambatan siswa. Hanya dalam waktu seminggu angka siswa yang terlambat menurun drastis.
"Tapi setelah daring, semua terhenti dan anak-anak jadi tidak terbiasa lagi. Nah pas berlaku PTM, didukung dengan kebiasaan mereka (siswa)yang sering tidur lat, jadi susah untuk membiasakan (aturan) itu lagi," ucap dia.
Wahyudin menambahkan, walaupun sudah menjalani PTM, untuk pelaksanaan ujian akhir semester (UAS) itu masih dilakukan secara daring dengan pertimbangan tertentu.
"Pertama, kalau daring itu tidak seribet seperti tatap muka. Terus dari segi biaya ketertiban dan sebagainya, itu lebih murah dengan kualitas yang sama," tandasnya. (jil)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/050222-Belajar-di-Kelas-222.jpg)