Intip Tumbuhan Endemik Gorontalo: Malahengo hanya ada di Tilongkabila dan Bongohulawa

Provinsi Gorontalo tidak hanya menyimpan keanekaragaman satwa, namun juga memiliki banyak flora (tumbuhan) yang sangat unik.

Editor: lodie tombeg
Tribun Gorontalo
Bibit pohon endemik, Malahengo di Persemaian Permanen Gorontalo, Sabtu (29/1/2022). 

TRIBUNGORONTALO.COM, Limboto - Provinsi Gorontalo tidak hanya menyimpan keanekaragaman satwa, namun juga memiliki banyak flora (tumbuhan) yang sangat unik dan jarang diketahui oleh masyarakat, entah penduduk lokal maupun internasional.

Satu di antaranya tumbuhan Malahengo. Tumbuhan endemik Gorontalo yang kini populasinya mulai terancam punah. Kepunahannya diakibatkan penggunaan batang pohon yang berlebihan oleh masyarakat sebagai tiang penyangga bangunan rumah dan kesadaran masyarakat untuk membudidayakannya kembali.

"Setelah diidentifikasi BPDAS (Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung), indukan Malahengo hanya bisa dijumpai di dua tempat di antaranya Hutan Tilongkabila terdapat 20 pohon dan di Hutan Bongohulawa Kabupaten Gorontalo terdapat 21 indukan pohon, sementara di wilayah lain itu tidak ada sama sekali,’’ kata Wajir Tontoiyo kepada tribungorontalo.com, Sabtu (29/1/2022).

Manager Persemaian Permanen Gorontalo ini mengatakan, agar tidak punah tanaman endemik itu, BPDAS Provinsi Gorontalo lakukan pembudidayaan tumbuhan tersebut dengan cara memindahkan bibit – bibit yang berada di hutan liar untuk dipelihara kembali dan diperbanyak di Persemaian Permanen Gorontalo.

Wajir mengatakan di Gorontalo terdapat jenis tanaman endemik Gorontalo yang mulai mengalami kepunahan. Nama tanaman itu Malahengo semakin hari itu semakin berkurang pepohonannya, namun adanya persemaian ini, BPDAS membudidayakan kembali agar tanaman tersebut tidak punah.

300122-Pohon Malahengo
Pohon endemik, Malahengo di Persemaian Permanen Gorontalo, Sabtu (29/1/2022).

Dia jelaskan sistem budidaya tanaman ini. "Awalnya kami cari di hutan liar, di hutan itu pasti ada indukan pohonnya yang sudah lebat, kemudian kami cabut bibitnya yang tumbuh di bawah pepohonan itu dan kami tanam lagi di polibag yang sudah tersedia di persemaian ini, dirawat selama 3 bulan di-seding area setelah itu, dipindahkan ke open area ketika tanaman tersebut sudah terbiasa dengan sinar matahari," katanya.

Untuk pembudidayaan, kata Wajir, persemaian juga memiliki 1 indukan pohon Malahengo yang ditanam sejak tahun 2015 hingga saat ini, sekiranya usia indukan sudah 6 tahun lamanya.

‘’Alhamdulillah kesadaran masyarakat untuk membudidayakan pohon ini sudah terbilang baik dibuktikan dengan berkurangnya bibit Malahengo di persemaian, tahun kemarin BPDAS menyediakan sekitar 20 ribu bibit pohon, sekarang bibit di persemaian tinggal 2 ribu bibit,’’ katanya.

Jenis pohon ini, kata Wajer, selain berfungsi untuk penggunaan bahan bangunan rumah, tumbuhan ini juga memiliki buah yang bisa dikonsumsi, buahnya itu seperti anggur memiliki tekstur yang lembut dan warna yang sama.

‘’Besar harapan kami agar seluruh masyarakat yang berada di Kabupaten Kota Gorontalo untuk dapat membudidayakan tanaman malahengo ini, karena memiliki fungsi yang sangat baik.’’ Pintanya.

Manager Persemaian juga mengimbau agar masyarakat dapat menanam kembali tanaman endemik Gorontalo ini agar jauh dari kepunahan, bagi masyarakat yang ingin memiliki bibitnya, cukup membawa foto copy KTP dan tentu bibitnya segera bisa dibawa pulang sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan,’’ terangnya.

Wajer juga menegaskan agar masyarakat tidak menjual bibit yang diberikan BPDAS kepada orang lain, karena menurutnya tanaman ini tergolong sebagai tanaman bersubsidi apalagi ini endemik Gorontalo, jika ada yang menjual bibit tersebut maka tentu akan berhadapan dengan rana hukum. (ris)

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved