Breaking News
Minggu, 8 Maret 2026

Memaknai Sejarah 23 Januari 1942 dan Meneladani Jasa Para Pahlawan Gorontalo

SEJARAH rakyat Gorontalo dalam memproklamasikan kemerdekaan Indonesia yang dilaksanakan 3 (tiga) tahun lebih awal dari Proklamasi Kemerdekaan.

Tayang:
Editor: Lodie Tombeg
zoom-inlihat foto Memaknai Sejarah 23 Januari 1942 dan Meneladani Jasa Para Pahlawan Gorontalo
Tribun Gorontalo
Apris Nawu 

SEJARAH rakyat Gorontalo dalam memproklamasikan kemerdekaan Indonesia yang dilaksanakan tiga tahun lebih awal dari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jakarta tahun 1945 oleh Soekarno dan Moh Hatta.

Kemerdekaan Indonesia di Gorontalo dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 23 Januari 1942 atau tanggal 6 Muharram 1361 yang dibacakan oleh Pemimpin Pergerakan Nani Wartabone didampingi oleh Kusno Danupoyo.

Keduanya dikenal oleh rakyat Gorontalo sebagai “Dwi Tunggal” dari tanah Sulawesi. Proklamasi kemerdekaan mengambil tempat di halaman Kantor Pos Gorontalo, diikuti oleh pembacaan teks proklamasi dan pengibaran bendera merah putih sekitar pukul 10 pagi waktu setempat.

Proklamasi Gorontalo merupakan momentum bagi para pejuang kemerdekaan Indonesia yang saat itu tengah mempersiapkan perlawanan diplomatik dan kekuatan perang dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah Belanda. Peristiwa patriotik 23 Januari 1942 merupakan proses panjang dari perlawanan bangsa Indonesia, khususnya rakyat Gorontalo.

Awal pergerakan di Gorontalo karena Pemerintah Belanda merencanakan akan membumi hanguskan segala aset di daerah jajahannya, termasuk aset-aset yang berada di Gorontalo. Propaganda Belanda ini untuk mengantisipasi adanya serbuan tentara Jepang yang akan masuk ke Indonesia.

Saat itu bermula setelah salat subuh di hari Jumat, pasukan Nani Wartabone mulai bergerak masuk ke wilayah pusat pemerintahan Belanda di Gorontalo. Pasukan Wartabone yang dikenal dengan julukan “Pasukan Rimba” akhirnya berhasil menarik simpati masyarakat yang dilaluinya, mulai dari tanah Suwawa, hingga akhirnya berhasil mengajak ribuan orang dari berbagai daerah yang dilaluinya untuk ikut bersama-sama menyerbu pusat kota pemerintahan Belanda.

Rakyat Gorontalo kemudian bersatu dan semakin banyak yang ikut dalam rombongan massa pasukan rimba yang dipimpin oleh Nani Wartabone. Pasukan Rimba bersama rakyat kemudian menguasai markas atau tangsi polisi hingga melakukan penangkapan terhadap para pejabat pemerintah Belanda, orang-orang Belanda, serta aparat Kepolisian Belanda di Gorontalo.

Di depan Kantor Pos Gorontalo, bendera Merah Putih pun dikibarkan sebagai pertanda Gorontalo telah dibebaskan dari penjajah belanda, bebas dan merdeka, serta menjadi bagian dari Negara Indonesia. Pada momen ini, lagu kebangsaan Indonesia Raya pun turut dinyanyikan oleh seluruh rakyat Gorontalo yang begitu riuh dan ramai memenuhi halaman Kantor Pos, tempat digelarnya proklamasi kemerdekaan tersebut.

Pada tanggal 23 Januari 1942, Nani Wartabone membacakan naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Gorontalo 3 (tiga) tahun lebih awal sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jakarta.

Adapun naskah proklamasi kemerdekaan yang dibacakan di hari tersebut adalah sebagai berikut:

“Pada hari ini tanggal 23 Januari 1942, kita bangsa Indonesia yang berada di sini sudah merdeka, bebas lepas dari penjajahan bangsa manapun juga. Bendera kita yaitu Merah-Putih, lagu kebangsaan adalah Indonesia Raya. Pemerintahan Belanda sudah diambil alih oleh Pemerintah Nasional. Mari kita menjaga keamanan dan ketertiban”. (Sumber Wikipedia Bahasa Gorontalo).

Jenderal Abdul Haris Nasution, pada bulan Maret tahun 1986 sempat memberikan testimoni khusus kepada Pahlawan Nani Wartabone, di antaranya sebagai berikut:

“Dengan pimpinan Nani Wartabone dan kawan-kawan menggeser kekuasaan Belanda dengan gilang gemilang, adalah hari yang pantas dicatat di dalam rangkaian ukiran sejarah perjuangan fisik, dan perlu kiranya diketahui oleh seluruh warga negara Indonesia, agar sesuatu yang berharga di tubuh Ibu Pertiwi ini tidak hilang ditelan waktu begitu saja”.

“Perlu disadari bahwa di masa lampau dalam situasi dan kondisi waktu itu adalah langka untuk mencari seorang pimpinan yang berani, jujur dan cerdas seperti yang dilahirkan oleh bumi Gorontalo. Semangat 23 Januari 1942 adalah pencerminan watak manusia merdeka yang ikhlas mengorbankan segala-galanya demi untuk kemerdekaan”.

Salah satu hal yang bisa dilakukan untuk memaknai kemerdekaan RI bagi pemuda-pemudi adalah, berusaha senantiasa menghargai jasa-jasa para pahlawan dan meneladani nilai-nilai perjuangan mereka. (Apris Mohamad Nawu, Bendara Umum Ikatan Pelajar Nahdatul Ulama Cabang Bone Bolango)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved