Covid Omicron
Bom Waktu Omicron di Indonesia, Simak Penjelasan Epidemiolog
Covid-19 varian Omicron diprediksikan akan booming pada Februari hingga Maret 2022. Masyarakat pun diminta waspada.
TRIBUNGORONTALO.COM, Jakarta - Covid-19 varian Omicron diprediksikan akan booming pada Februari hingga Maret 2022. Masyarakat pun diminta waspada. Disiplin protokol kesehatan seperti 5M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan dan mengurangi mobilitas).
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi mengatakan, kasus Omicron di Indonesia kian bertambah.
Per 17 Januari 2022 ini kasus menjadi 840 orang. "Sejak Omicron terdeteksi pada 15 Desember 2021 sampai 17 Januari 2022 sudah ada 840 kasus positif Omicron," kata Siti Nadia, dalam acara diskusi virtual 'Vaksin Booster Hindari Gelombang Ketiga', Selasa (18/1/2022).
Ia mengatakan dari total tersebut, 609 kasus positif terjadi pada pelaku perjalanan dari luar negeri (PPLN), 174 kasus transmisi lokal, serta 57 kasus masih diteliti sumber penularannya.
Adapun kasus Omicron paling banyak terjadi pada pelaku perjalanan dari Arab Saudi (112 kasus).
Disusul Turki (106 kasus), Amerika Serikat (62 kasus), Malaysia (49 kasus), dan Uni Emirat Arab (45 kasus).
Baca juga: PPKM Luar Jawa-Bali diperpanjang hingga 31 Januari 2022: Sulawesi Turun Level
Ia pun merinci, dari 840 orang yang positif Omicron, sebanyak 79,1 persen telah mendapat suntikan dua dosis vaksin Covid-19.
Lalu, 4,2 persen mendapat vaksinasi dosis pertama, tujuh persen belum menjalani vaksinasi, serta
9,7 persen belum diketahui status vaksinasinya.
"Tentunya ini menjadi kewaspadaan kita orang yang sudah divaksin saja masih bisa terkena Omicron, apalagi yang belum divaksin. Kita melihat orang yang sudah divaksin tertular Omicron gejalanya lebih ringan," kata Siti Nadia.
Sulit dihindari
Pada kesempatan itu, Siti Nadia mengatakan, kenaikan kasus varian Omicron transmisi lokal tidak dapat dihindari.
Berbeda halnya dengan kasus impor dari luar negeri, ada sejumlah aturan yang diberlakukan seperti melakukan tes RT-PCR, karantina dan isolasi sehingga kasus bisa ditemukan.
"Kita tidak menghindar dari transmisi lokal, yang bisa itu membatasi kasus impor sehingga bisa terkendali dan memberikan waktu kepada kita menyiapkan dan mengendalikan penyebarannya,"kata Siti Nadia melalui pesan singkatnya kepada Tribunnews.com, Selasa (18/1/2022).
Hal senada juga diungkap Epidemiolog dari Centre for Environmental and Population Health Griffith University, Australia, Dicky Budiman.
Ia mengatakan, tak hanya di Indonesia yang sulit mencegah penularan kasus transmisi lokal ini, negara maju pun mengalami hal serupa.
"Memang kesulitan dan negara maju pun sulit mencegah ini karena mayoritas 90 persen tidak bergejala dan tidak terdeteksi. Orang tidak merasa, enggak sakit, ditambah lagi kemampuan mendeteksi kita terbatas. 3 T Indonesia terbatas menurut saya relatif rendah di ASEAN," katanya kepada Tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Dicky-Budiman-9.jpg)