Manchester City
Kata-kata Perpisahan Pep Guardiola Usai Resmi Tinggalkan Manchester City
Pep Guardiola resmi memutuskan untuk menyudahi masa baktinya setelah sepuluh tahun menakhodai klub raksasa Premier League, Manchester City.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Kolase-Pep-Guardiola-dan-trofi-yang-diraihnya-bersama-Manchester-CIty.jpg)
Ringkasan Berita:
- Setelah 10 tahun memimpin dan mempersembahkan 20 trofi mayor sejak Juli 2016, Pep Guardiola resmi mundur sebagai manajer setelah laga melawan Aston Villa mendatang
- Guardiola mengungkapkan rasa bangga dan terima kasihnya yang mendalam atas dukungan klub dan masyarakat Manchester, terutama saat masa sulit kehilangan ibunya selama pandemi COVID-19
- Sebagai bentuk apresiasi tertinggi atas warisan prestasinya, manajemen Manchester City resmi menamai tribune North Stand
TRIBUNGORONTALO.COM – Pep Guardiola resmi memutuskan untuk menyudahi masa baktinya setelah sepuluh tahun menakhodai klub raksasa Premier League, Manchester City.
Pelatih asal Katalan yang bergabung sejak Juli 2016 ini menyampaikan pesan-pesan perpisahan yang sangat emosional menjelang laga terakhirnya melawan Aston Villa pada hari Minggu mendatang.
Guardiola telah mempersembahkan 20 trofi mayor selama satu dekade di Etihad Stadium.
Meski mundur dari kursi manajer, eks pelatih FC Barcelona ini dipastikan akan tetap menjaga hubungan dengan City Football Group (CFG).
Ia bakal mengemban peran baru sebagai Global Ambassador klub yang bermarkas di Kota Manchester tersebut.
Kata-kata Perpisahan Pep
Saat ditanya mengenai perasaannya mengambil keputusan besar ini, Guardiola mengaku tidak bisa menggambarkan dengan kata-kata betapa bersyukurnya ia atas cinta yang diterimanya dari seluruh elemen klub.
"Ya, sangat puas. Saya tidak tahu kata yang tepat untuk menggambarkannya. Puas, bahagia, bangga. Ini telah menjadi pengalaman terbaik dalam hidup saya, jika tidak, saya tidak akan berada di sini selama 10 tahun," ujar Guardiola seperti dilansir TribunGorontalo dari situs resmi klub, Jumat malam (22/5/2026).
Ia juga menambahkan bahwa keputusan ini bukanlah hal yang mendadak, melainkan sebuah proses perenungan yang cukup panjang.
"Ini sudah waktunya. Saya tidak bangun di suatu pagi lalu tiba-tiba berkata sekarang saatnya pergi. Ini adalah proses yang sudah saya rasakan sejak lama. Klub sangat menghormati keputusan saya," imbuhnya.
Dalam pidato perpisahannya, pelatih yang awalnya hanya dikontrak selama tiga tahun ini menekankan betapa besarnya rasa cinta yang ia miliki untuk publik Manchester Biru.
"Jangan tanya apa alasan saya pergi. Tidak ada alasan khusus, tetapi jauh di lubuk hati, saya tahu ini adalah waktu saya. Tidak ada yang abadi, jika ada, saya pasti akan tetap berada di sini. Namun yang akan abadi adalah perasaan, orang-orang, kenangan, dan cinta yang saya miliki untuk Manchester City saya," ungkapnya dengan emosional.
Bagi Guardiola, Manchester bukan sekadar tempat bekerja, melainkan sebuah kota industri dengan karakter masyarakat pekerja keras yang sangat kuat.
Karakter inilah yang ia tanamkan ke dalam skuad asuhannya hingga sukses mendominasi sepak bola Inggris dan Eropa.
"Ini adalah kota yang dibangun dari kerja keras, dari tetesan keringat. Anda bisa melihatnya dari warna batu batanya. Dari orang-orang yang masuk kerja lebih awal dan pulang larut malam. Pabrik-pabrik, pergerakan keluarga Pankhurst, serikat pekerja, hingga musiknya.