Viral Nasional
Guru Honorer Diduga Culik Siswi SD, Korban Hilang Dua Hari
Seorang guru honorer berinisial Indra (34) yang mengajar di sebuah SMK di Kecamatan Tomo, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat,
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/SISWA-SD-Seorang-guru-honorer-culik-siswinya-sendiri-lalu-menyembunyikannya-dua-hari.jpg)
Ringkasan Berita:
- Seorang guru honorer di Sumedang diamankan polisi setelah diduga membawa siswi SD yang sempat hilang selama dua hari.
- Korban ditemukan bersama pelaku di kawasan Situraja, dan keduanya diketahui berkenalan melalui aplikasi Michat.
- Kasus ini juga menjadi perhatian pemerhati anak yang menekankan pentingnya komunikasi dalam keluarga.
TRIBUNGORONTALO.COM -- Seorang guru honorer berinisial Indra (34) yang mengajar di sebuah SMK di Kecamatan Tomo, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, diamankan polisi setelah diduga membawa seorang siswi sekolah dasar berinisial NAM.
Pelaku ditangkap saat tengah membonceng korban di wilayah Sumedang Utara, tepatnya di Jalan Raya Sumedang–Wado, kawasan Sukatali, Kecamatan Situraja, pada Minggu (19/4/2026) sekitar pukul 13.00 WIB.
Sebelumnya, korban dilaporkan hilang sejak Jumat (17/4/2026) siang.
Baca juga: Lowongan Kerja Gorontalo Rabu 22 April 2026: 2 Perusahaan Swasta Cari Karyawan, Lulusan SMA Merapat!
Selama dua hari keberadaannya tidak diketahui hingga akhirnya ditemukan bersama pelaku pada Minggu.
Kapolres Sumedang, AKBP Sandityo Mahardika, mengungkapkan bahwa dugaan tindak pidana tersebut dilatarbelakangi motif pribadi pelaku.
“Motif pelaku didasari nafsu birahi,” ujarnya, Selasa (21/4/2026).
Dari hasil penyelidikan awal, diketahui pelaku dan korban berkenalan melalui sebuah aplikasi perpesanan yang dikenal dengan sebutan “aplikasi hijau”, yakni Michat.
Kasus ini turut menjadi perhatian sejumlah pihak, termasuk pemerhati anak di wilayah Sumedang.
Ketua Yayasan Peduli Generasi Muda yang juga penanggung jawab LKSA Senandung PERADA Sumedang, Retno Ernawati, menilai peristiwa tersebut menjadi pengingat pentingnya komunikasi yang sehat dalam keluarga.
Menurut Retno, dalam sejumlah kasus, orang tua sebenarnya telah menyadari adanya persoalan yang dihadapi anak.
Namun, pendekatan yang kurang tepat justru membuat penyelesaian tidak berjalan efektif.
“Seringkali orang tua sudah melihat ada masalah, tetapi pendekatan yang terlalu keras membuat komunikasi tidak berjalan baik,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa penyelesaian persoalan anak seharusnya dilakukan secara bersama antara orang tua dan anak, dengan pendekatan yang saling mendukung.
Peran pihak luar, seperti lingkungan sosial maupun lembaga, disebut hanya sebagai pendamping dalam proses tersebut.