Universitas Negeri Gorontalo
Rektor Eduart Wolok Tegaskan Komitmen UNG Cetak Lulusan Berbasis Nilai HAM Lewat Kunjungan Menham RI
Kunjungan Menham Natalius Pigai ke UNG jadi momentum penguatan nilai HAM. Rektor Eduart Wolok tegaskan kampus sebagai laboratorium peradaban.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Rektor-UNG-Prof-Eduart-Wolok-bersama-Menteri-HAM-RI-Natalius-Pigai.jpg)
Ringkasan Berita:
- Eduart Wolok sebut kunjungan Menham jadi langkah strategis perkuat pendidikan berbasis HAM di UNG.
- UNG diposisikan sebagai “laboratorium peradaban” yang membentuk karakter dan kesadaran kemanusiaan mahasiswa.
- Nilai HAM diintegrasikan dalam Tri Dharma untuk cetak lulusan berempati dan agen perubahan.
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Kunjungan Natalius Pigai, Menteri Hak Asasi Manusia Republik Indonesia ke Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menjadi sorotan utama dalam penguatan nilai-nilai kemanusiaan di lingkungan kampus.
Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., melihat momentum ini sebagai langkah strategis untuk memperkuat arah pendidikan yang berorientasi pada kesadaran HAM.
Bagi Eduart Wolok, kehadiran Menteri HAM tidak hanya sekadar agenda seremonial, tetapi menjadi pemicu semangat bagi sivitas akademika untuk semakin serius mengintegrasikan nilai-nilai kemanusiaan dalam proses pendidikan.
Hal ini sejalan dengan posisi UNG sebagai kampus kerakyatan yang memiliki tanggung jawab sosial terhadap masyarakat.
Baca juga: Rektor Eduart Wolok Beri Selamat Mahasiswa Baru UNG SNBP 2026:Kesuksesan Bukan Sekadar Keberuntungan
Kampus sebagai Laboratorium Peradaban
Eduart menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran lebih dari sekadar mencetak lulusan berprestasi.
Kampus, menurutnya, harus menjadi ruang pembentukan karakter yang menjunjung tinggi nilai keadilan dan kemanusiaan.
“Diskusi hari ini adalah pengingat bahwa kampus harus menjadi laboratorium peradaban yang sadar akan hak asasi. Kami berkomitmen untuk terus mencetak lulusan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga peka terhadap nilai-nilai keadilan,” pungkas Eduart.
Pernyataan tersebut menjadi penegasan komitmen UNG dalam menciptakan lingkungan akademik yang inklusif, bebas dari diskriminasi, serta mendorong lahirnya generasi yang memiliki empati sosial tinggi.
Baca juga: UNG Jadi Tuan Rumah Penguatan Kapasitas HAM, Eduart Wolok: Momentum Seperti Ini Jangan Disia-siakan
Penguatan Nilai HAM dalam Tri Dharma
Lebih lanjut, Eduart menilai bahwa nilai-nilai HAM perlu diimplementasikan secara konkret melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat harus menjadi sarana untuk menanamkan kesadaran akan pentingnya hak asasi manusia.
Sementara itu, dalam orasi ilmiahnya, Menteri HAM RI Natalius Pigai turut menekankan pentingnya kehadiran HAM sebagai pelindung manusia dari potensi ketidakadilan sejak masa lampau hingga kini.
“HAM hadir untuk melindungi keadilan bagi mereka yang membutuhkan. Ia ada di bumi untuk menjaga kedigdayaan ciptaan Tuhan. Jika dulu manusia bisa menjadi sosok yang jahat bagi manusia lainnya, maka kini HAM hadir sebagai 'pagar' untuk menjaga keutuhan dan kelestarian manusia sebagai ciptaan mulia,” tegas Natalius.
Dengan adanya dialog ini, UNG semakin mempertegas komitmennya dalam mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran kuat terhadap nilai-nilai kemanusiaan serta mampu menjadi agen perubahan di tengah masyarakat. (***/UNG)