KULTUM MILENNIAL
Ramadan Bulan Al-Qur’an, Mahasiswa IAIN Gorontalo Ajak Perbanyak Tilawah
Bulan suci Ramadan kembali ditegaskan sebagai waktu yang memiliki kedudukan istimewa bagi umat Islam, khususnya dalam mempererat hubungan d
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
Ringkasan Berita:
- Dalam kultum milenial yang disiarkan Tribun Gorontalo, mahasiswa IAIN Gorontalo mengajak umat Islam memanfaatkan Ramadan sebagai bulan Al-Qur’an.
- Ia menekankan pentingnya membaca, memahami, dan mengamalkan isi Al-Qur’an sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW.
- Ramadan disebut sebagai momentum memperkuat kedekatan dengan Allah SWT melalui interaksi intensif dengan kitab suci.
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Bulan suci Ramadan kembali ditegaskan sebagai waktu yang memiliki kedudukan istimewa bagi umat Islam, khususnya dalam mempererat hubungan dengan Al-Qur’an.
Pesan tersebut disampaikan dalam program kultum milenial yang disiarkan langsung oleh Tribun Gorontalo pada Jumat (20/2/2026).
Kultum bertema “Ramadan Bulan Al-Qur’an” itu dibawakan oleh Marsya Ayu A. Sunandar, mahasiswa IAIN Sultan Amai Gorontalo.
Tausiyah tersebut ditujukan kepada masyarakat Gorontalo dalam menyambut awal Ramadan 1447 Hijriah.
Dalam pemaparannya, Marsya menjelaskan bahwa Ramadan memiliki keutamaan karena pada bulan inilah Al-Qur’an pertama kali diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia.
Baca juga: Prakiraan Cuaca Gorontalo Sabtu 21 Februari 2026, Waspada Hujan Lebat di Sejumlah Wilayah
Kitab suci itu berfungsi sebagai penjelas atas petunjuk tersebut sekaligus pembeda antara kebenaran dan kebatilan.
Menurutnya, hal tersebut menunjukkan bahwa Al-Qur’an menempati posisi sentral sebagai pedoman hidup umat Islam dalam menjalani berbagai aspek kehidupan.
Ia menyampaikan bahwa Ramadan menghadirkan kesempatan berharga untuk memperkuat interaksi dengan Al-Qur’an.
Bentuk interaksi itu tidak hanya membaca, tetapi juga memahami makna, mendalami kandungan, hingga mengamalkan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari.
Marsya juga mengingatkan bahwa Ramadan kerap disebut sebagai Syahrul Qur’an atau bulan Al-Qur’an.
Penyebutan itu berkaitan dengan peristiwa turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW pada bulan Ramadan, yang menjadi awal penyampaian risalah Islam kepada umat manusia.
Dalam sejarah Islam, lanjutnya, Rasulullah SAW dikenal memperbanyak bacaan Al-Qur’an selama Ramadan.
Ia merujuk pada hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim yang menjelaskan bahwa Malaikat Jibril mendatangi Rasulullah setiap malam di bulan Ramadan untuk bertadarus bersama.
Marsya menilai, teladan tersebut patut diikuti oleh umat Islam dengan meningkatkan kedekatan terhadap Al-Qur’an, terutama di bulan yang penuh keberkahan.
Ia kemudian menguraikan sejumlah keutamaan membaca Al-Qur’an. Salah satunya adalah pahala yang dilipatgandakan.
Berdasarkan hadis riwayat At-Tirmidzi, setiap satu huruf yang dibaca bernilai satu kebaikan dan setiap kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh.
Selain itu, Al-Qur’an juga disebut akan memberikan syafaat kepada pembacanya pada hari kiamat. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadis riwayat Muslim yang menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an.
Marsya juga menyampaikan bahwa Al-Qur’an membawa ketenteraman hati. Ia mengutip Surah Ar-Ra’d ayat 28 yang menyebutkan bahwa dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang.
Meski demikian, ia menekankan bahwa interaksi dengan Al-Qur’an tidak berhenti pada aktivitas membaca semata.
Umat Islam juga dituntut untuk memahami dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Menurutnya, Al-Qur’an mengajarkan berbagai prinsip akhlak, seperti kejujuran, kesabaran, keadilan, serta sikap saling memaafkan.
Ia mencontohkan Surah Al-Ma’idah ayat 8 yang menekankan pentingnya berlaku adil dan jujur, serta Surah An-Nur ayat 22 yang mengajarkan sikap saling memaafkan.
Di akhir penyampaiannya, Marsya mengajak umat Islam di Gorontalo menjadikan Ramadan sebagai titik awal memperkuat kedekatan dengan Allah SWT melalui Al-Qur’an.
Ia berharap kebiasaan membaca dan mengamalkan kitab suci selama Ramadan dapat terus dilanjutkan setelah bulan puasa berakhir.
Ia menutup kultumnya dengan doa agar umat Islam diberi kekuatan untuk mengamalkan isi Al-Qur’an dan termasuk golongan yang memperoleh syafaatnya kelak. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.