Banjir Sumatera
Bantuan Asing untuk Banjir Sumatera Ditolak, Alasannya Pemerintah RI Terungkap
Pemerintah Indonesia memutuskan belum menerima bantuan dari negara asing meski bencana banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/BANJIR-SUMATERA-Potret-kayu-kayu-berukuran-besar.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM -- Pemerintah Indonesia memutuskan belum menerima bantuan dari negara asing meski bencana banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera telah berdampak pada sekitar 3,3 juta jiwa.
Pemerintah menilai, kapasitas nasional masih cukup untuk menangani situasi tersebut secara mandiri.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan bahwa berbagai negara sahabat telah menyatakan keprihatinan sekaligus menawarkan bantuan kemanusiaan.
Namun hingga kini, tawaran itu belum direspons dengan penerimaan resmi karena pemerintah yakin penanganan masih berada dalam kendali.
Baca juga: Sambut Dandim 1314 Baru, Pemkab Gorut Gelar Prosesi Adat Molo’opu
“Untuk sementara belum diperlukan. Kami mengucapkan terima kasih atas perhatian dan empati dari negara-negara sahabat, tetapi pemerintah menilai masih mampu mengatasi persoalan yang ada,” kata Prasetyo di Jakarta, Rabu (3/12/2025).
Keyakinan ini, menurut Prasetyo, didukung oleh ketersediaan stok pangan dan bahan bakar yang masih aman.
Pemerintah juga telah melakukan koordinasi intensif dengan berbagai pihak, termasuk Pertamina, guna memastikan distribusi BBM tetap berjalan meskipun sejumlah wilayah terisolasi.
Ia mengungkapkan, dalam kondisi tertentu distribusi logistik bahkan dilakukan dengan cara-cara tidak biasa, seperti pengiriman melalui jalur udara (dropping) untuk menjangkau daerah terdampak yang akses daratnya terputus.
Meski menolak bantuan asing saat ini, pemerintah tidak sepenuhnya menutup pintu.
Jika situasi berkembang menjadi lebih mendesak dan kapasitas nasional tidak lagi mencukupi, opsi menerima bantuan internasional tetap akan dipertimbangkan.
“Nanti kita lihat perkembangan di lapangan. Jika pada waktunya memang diperlukan, tentu akan kami pertimbangkan,” ujarnya.
Sementara itu, BNPB terus memperbarui data dampak bencana. Hingga Rabu (3/12/2025), tercatat 753 orang meninggal dunia, 650 orang hilang, dan 2.600 orang mengalami luka-luka.
Kerusakan fisik juga cukup signifikan. Sedikitnya 3.600 rumah rusak berat, 2.100 rusak sedang, dan 3.700 rusak ringan.
Selain itu, puluhan jembatan mengalami kerusakan, begitu pula fasilitas pendidikan, tempat ibadah, dan sarana kesehatan.
Jumlah pengungsi pun mencapai ratusan ribu jiwa. Tercatat sekitar 106.200 warga mengungsi di Sumatera Barat, 538.000 di Sumatera Utara, dan 1,5 juta di Aceh.
Total warga terdampak di tiga provinsi tersebut mencapai angka 3,3 juta jiwa.
Data bencana ini masih bersifat dinamis dan terus diperbarui oleh BNPB seiring proses evakuasi dan pendataan di lapangan.
(*)