Senin, 9 Maret 2026

PEMROV GORONTALO

Dinas PPPA Angkat Isu Budaya Patriarki dan Perkawinan Anak di Gorontalo Karnaval Karawo 2025

Karnaval Karawo yang setiap tahun menjadi ajang unjuk kreativitas budaya dan identitas Gorontalo tahun ini menghadirkan nuansa berbeda.

Tayang:
Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Dinas PPPA Angkat Isu Budaya Patriarki dan Perkawinan Anak di Gorontalo Karnaval Karawo 2025
TribunGorontalo.com
DINAS PEREMPUAN -- PPPA Provinsi Gorontalo kampanye tolak budaya patriarki di Gorontalo Karnaval Karawo 2025. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Karnaval Karawo yang setiap tahun menjadi ajang unjuk kreativitas budaya dan identitas Gorontalo tahun ini menghadirkan nuansa berbeda.

Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Provinsi Gorontalo ikut ambil bagian dengan membawa isu terkait Pbudaya patriarki dan dampak perkawinan usia dini terhadap perempuan.

Kepala PPPA, Yana Yanti Suleman menegaskan bahwa karnaval bukan hanya soal hiburan dan parade busana.

“Momentum ini kami gunakan untuk menyuarakan kesadaran masyarakat agar tidak lagi menormalisasi perkawinan anak, karena dampaknya sangat besar terhadap masa depan perempuan maupun pembangunan daerah,” jelasnya.

Dalam karnaval, PPPA Gorontalo menampilkan pesan visual dan seruan langsung yang menggambarkan dampak budaya patriarki terhadap perempuan.

Patriarki disebut sebagai akar diskriminasi yang masih mengakar, membuat perempuan kehilangan hak atas pendidikan, mengalami kekerasan dalam rumah tangga, hingga rentan menjadi korban perkawinan usia dini.

“Perempuan yang menikah terlalu muda seringkali menghadapi risiko kesehatan, bahkan kematian saat melahirkan. Tidak sedikit pula yang putus sekolah dan akhirnya terjebak dalam lingkaran kemiskinan,” papar PPPA.

PPPA memaparkan empat dampak utama yang harus diwaspadai masyarakat:

Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) – Perempuan yang menikah di usia anak cenderung rentan mengalami kekerasan fisik maupun psikis.

Meningkatnya Stigma Perceraian – Usia yang belum matang membuat banyak pasangan muda berakhir bercerai.

Risiko Kematian Ibu dan Bayi – Secara medis, perempuan yang melahirkan di bawah usia 15 tahun berisiko lima kali lebih tinggi meninggal dunia dibandingkan yang berusia 20 tahun ke atas.

Pendidikan Terputus dan Angka Pengangguran Tinggi – Perempuan kehilangan kesempatan menempuh pendidikan, sehingga berdampak pada keterbatasan pekerjaan di masa depan.

Seruan Stop Perkawinan Anak

Lewat partisipasi di Karnaval Karawo, PPPA Gorontalo mengajak masyarakat untuk bersama-sama menghentikan perkawinan anak.

Empat pesan utama yang disuarakan adalah, kalau masih anak, jangan punya anak. Orang tua jangan memaksa anak menikah hanya karena alasan ekonomi.

Biarkan anak sekolah, jangan dinikahkan. Stop perkawinan anak.

“Kami ingin isu serius ini masuk dalam ruang-ruang publik, termasuk di acara kultural seperti Karnaval Karawo. Dengan begitu, masyarakat lebih mudah menerima pesan sekaligus memaknainya sebagai bagian dari perjuangan menjaga masa depan generasi muda,” ujar PPPA.

(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Jadwal Imsakiyah
Senin, 09 Maret 2026 (19 Ramadan 1447 H)
Kota Gorontalo
Imsak 04:31
Subuh 04:41
Zhuhr 12:02
‘Ashr 15:10
Maghrib 18:05
‘Isya’ 19:13

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved