Berita Internasional
Mojtaba Khamenei jadi Pemimpin Baru Iran, Amerika Emosi Sebut tak Bakal "Hidup" Lama
Korps Garda Revolusi Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) secara resmi menyatakan dukungan penuh kepada Mojtaba Khamenei
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/SUKSESI-Majelis-Pakar-Iran-telah-menunjuk-Mojtaba-Khamenei-kedua-dari-kiri.jpg)
Ringkasan Berita:
- Islamic Revolutionary Guard Corps menyatakan dukungan penuh kepada Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru Iran setelah dipilih oleh Assembly of Experts.
- Dukungan militer ini dinilai penting bagi stabilitas Iran di tengah konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.
- Sementara itu, Donald Trump memicu kontroversi dengan menyatakan pemimpin Iran harus mendapat persetujuan Washington agar bisa bertahan.
TRIBUNGORONTALO.COM — Korps Garda Revolusi Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) secara resmi menyatakan dukungan penuh kepada Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru Iran setelah dipilih oleh Assembly of Experts.
Dukungan tersebut diumumkan pada Senin, menyusul wafatnya pemimpin tertinggi sebelumnya, Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel di Teheran pada 28 Februari lalu.
Serangan itu menjadi bagian dari eskalasi konflik besar di kawasan Timur Tengah.
Baca juga: Nyaris Seluruh Wilayah Gorontalo Berpotensi Diguyur Hujan Hari Ini Senin 09 Maret 2026
Dalam pernyataan resminya, IRGC menyebut Mojtaba Khamenei sebagai ulama yang memiliki kemampuan untuk memimpin Iran menghadapi tantangan politik dan keamanan yang kompleks di kawasan.
Militer elit Iran itu juga menyatakan kesetiaan penuh terhadap kepemimpinan baru dan berjanji mengikuti seluruh arahan pemimpin tertinggi demi mempertahankan Republik Islam dari berbagai ancaman.
“Garda Revolusi akan tetap setia pada keputusan Assembly of Experts dan siap mempertahankan Republik Islam Iran,” demikian isi pernyataan tersebut.
Seruan Persatuan di Tengah Perang
IRGC juga menyerukan kepada masyarakat Iran untuk bersatu mendukung kepemimpinan baru di tengah situasi yang disebut sebagai masa sensitif bagi negara tersebut.
Seruan itu muncul saat Iran masih menghadapi serangan militer dari Amerika Serikat dan Israel.
Serangan yang berlangsung selama lebih dari sepekan dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.200 orang, termasuk pejabat militer senior Iran.
Sebagai balasan, Teheran meluncurkan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel serta beberapa negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika.
Dukungan Militer Krusial
Dukungan cepat dari IRGC memiliki arti penting karena organisasi tersebut merupakan institusi militer paling berpengaruh di Iran dan memainkan peran utama dalam menjaga stabilitas rezim.
Dengan dukungan dari lembaga ulama dan militer, Mojtaba Khamenei dinilai memiliki pijakan kuat untuk melanjutkan kebijakan perlawanan terhadap tekanan Amerika dan Israel sekaligus memimpin negara di tengah konflik regional yang semakin meluas.
Trump: Pemimpin Iran Harus Dapat Persetujuan AS
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memicu kontroversi setelah menyatakan bahwa pemimpin tertinggi Iran berikutnya tidak akan bertahan tanpa persetujuan Washington.
“Dia harus mendapatkan persetujuan dari kami. Jika tidak, dia tidak akan bertahan lama,” kata Trump dalam wawancara dengan ABC News.
Trump menyatakan sikap tersebut berkaitan dengan upaya mencegah konflik baru di masa depan serta menghentikan kemungkinan Iran mengembangkan senjata nuklir.
Namun pernyataan tersebut langsung ditolak oleh pemerintah Iran. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menegaskan bahwa pemilihan pemimpin Iran sepenuhnya merupakan urusan rakyat Iran dan tidak boleh ada campur tangan pihak asing.
Seorang ulama senior Iran, Ahmad Alamolhoda, juga mengatakan bahwa Assembly of Experts sebenarnya telah memilih penerus Ali Khamenei, meskipun nama tersebut belum diumumkan secara resmi saat itu.(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.