Human Interest Story
Pengalaman Berbeda Stevany Ruung Selama Kuliah di UMGO
Stevany Ruung menjadi perhatian di tengah ratusan mahasiswa yang diwisuda Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMGO), Selasa (23/12/2025).
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/HIS-Sosok-Stevany-Ruung-bersama-orang-tuanya-Selasa-23122025-S.jpg)
Ringkasan Berita:
- Sebanyak 430 mahasiswa mengikuti prosesi wisuda Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMGO), Selasa (23/12/2025), salah satunya Stevany Ruung, lulusan Sistem Informasi asal Desa Hunggaluwa, Kabupaten Gorontalo.
- Stevany mengaku sempat ragu di awal kuliah, namun justru menemukan lingkungan kampus yang penuh toleransi dan saling menghargai.
- Pengalaman tersebut menguatkan niatnya untuk melanjutkan pendidikan dan bercita-cita menjadi dosen di masa depan.
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Stevany Ruung menjadi perhatian di tengah ratusan mahasiswa yang diwisuda Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMGO), Selasa (23/12/2025).
Perempuan 26 tahun asal Desa Hunggaluwa, Kabupaten Gorontalo, itu menuntaskan perjalanan kuliahnya dengan pengalaman yang tak sepenuhnya ia bayangkan di awal.
Stevany resmi menyandang gelar Sarjana Sistem Informasi (S1) bersama 429 lulusan lainnya.
Ia merupakan anak ketiga dari empat bersaudara, putri pasangan Yosis Ruung dan Ivon Luneto.
Baca juga: Daftar Lengkap Bansos 2026: PKH, PIP, Subsidi KUR hingga JKP
Masuk ke lingkungan kampus UMGO sempat memunculkan keraguan bagi Stevany.
Ia mengaku, sejak awal ada kekhawatiran apakah dirinya bisa beradaptasi di tengah keberagaman latar belakang mahasiswa.
“Ada hal yang sempat saya pikirkan sejak awal, apakah saya bisa menyesuaikan diri. Ternyata selama kuliah tidak ada yang saya takutkan,” ujar Stevany usai prosesi wisuda.
Kekhawatiran akan tekanan atau perlakuan berbeda justru tidak ia temui.
Pengalaman yang dijalaninya selama kuliah berbanding terbalik dari bayangan semula.
“Yang saya temukan justru toleransi. Tidak ada intimidasi. Itu membuat saya nyaman sampai selesai kuliah,” katanya.
Pada momen wisuda, Stevany bahkan memberanikan diri menyampaikan pertanyaan langsung kepada Rektor UMGO terkait peluang menjadi tenaga pendidik di kampus tersebut.
Jawaban yang ia terima kian menguatkan rencana masa depannya.
“Saya bertanya apakah memungkinkan menjadi dosen atau tenaga pendidik di sini, dan dijawab bisa. Itu menjadi motivasi besar bagi saya,” ungkapnya.
Soal fasilitas kampus, Stevany menilai sarana dan prasarana UMGO cukup menunjang aktivitas mahasiswa dan proses pengembangan diri.
“Kalau fasilitas, menurut saya cukup memadai untuk mahasiswa,” ujarnya.
Ia juga menyinggung nilai-nilai kampus yang menurutnya sejalan dengan karakter pribadinya, terutama dalam hal penguatan iman dan sikap saling menghargai.
“Iman saya diuji di sini, tapi teman-teman sangat mendukung. Puji Tuhan, iman saya justru dikuatkan,” tuturnya.
Dari sisi akademik, Stevany mengakui dirinya bukan mahasiswa yang menonjol.
Indeks Prestasi Kumulatif (IPK)-nya berada di kisaran dua koma sekian.
Namun ia aktif dalam kegiatan non-akademik, khususnya organisasi kemahasiswaan.
“Kalau akademik biasa saja. Tapi saya aktif di organisasi fakultas dan sempat ikut gerakan mahasiswa Kristen,” katanya.
Ke depan, Stevany berencana melanjutkan pendidikan dan bercita-cita menjadi dosen, tetap mengajar sesuai bidang Sistem Informasi, dengan ketertarikan pada pengembangan sektor pariwisata.
“Saya ingin lanjut dan mengajar sesuai jurusan saya, khususnya yang berkaitan dengan pariwisata,” ujarnya.(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.