Bacaan Doa
Bacaan Doa 1 Muharram 1447 H, Ini Hukum Mengamalkannya Menurut Buya Yahya
Bacaan Doa 1 Muharram 1447 H: Simak Hukum Mengamalkannya Menurut Buya Yahya Jelang Tahun Baru Islam
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Ilustrasi-berdoa.jpg)
Ringkasan Berita:
- Pergantian tahun baru Islam kali ini bertepatan dengan hari Jumat (sayyidul ayyam), menjadikannya momentum sakral bagi umat muslim untuk memperbanyak amalan dan doa.
- Hukum Doa Awal & Akhir Tahun: Menurut Buya Yahya, membaca doa tersebut bukanlah bid'ah dan tidak dilarang selama maknanya mengandung kebaikan, meskipun tidak ada dalil spesifik yang mengaturnya.
- Aturan Berdoa dan Ibadah: Umat muslim dibebaskan memanjatkan doa sesuai hajat atau memperbanyak zikir mutlak
TRIBUNGORONTALO.COM – Menyambut momentum pergantian tahun baru Islam 1 Muharram 1447 Hijriah, umat muslim dianjurkan untuk memperbanyak amalan baik, termasuk memanjatkan doa awal tahun.
Istimewanya, pergantian tahun baru Islam kali ini terasa jauh lebih sakral karena bertepatan dengan hari Jumat, yang dikenal dalam tradisi Islam sebagai sayyidul ayyam atau rajanya hari-hari.
Meski tidak ada dalil khusus yang secara spesifik memerintahkan pembacaan doa awal dan akhir tahun, hal tersebut bukan berarti dilarang untuk diamalkan. Mengingat esensi dari sebuah doa adalah perkara kebaikan, maka memanjatkannya ke hadirat Allah SWT tetap bernilai positif.
Ulama kenamaan Indonesia, Buya Yahya, menjelaskan bahwa jenis doa yang dipanjatkan seorang hamba sifatnya sangat fleksibel dan dapat disesuaikan dengan hajat atau keinginan masing-masing, termasuk urusan pergantian tahun.
Pengasuh Lembaga Pengembangan Da'wah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah ini menegaskan bahwa mengamalkan doa akhir dan awal tahun bukanlah sebuah perbuatan bid'ah, selama isi dan makna dari doa tersebut mengandung kebaikan serta kebenaran.
Kendati demikian, Buya Yahya mengingatkan umat muslim agar tetap cermat dalam membedakan jenis ibadah. Inovasi atau perubahan secara mandiri pada ibadah yang sudah ditentukan bentuk dan syariatnya (ta'abbudi) mutlak tidak diperbolehkan.
"Biarpun Anda jago senam, tidak boleh rukuk ditambah dengan gerakan yang ada senamnya, karena sudah ditentukan," ujar Buya Yahya dikutip TribunGorontalo.com dari kanal YouTube Al-Bahjah TV.
Sebaliknya, untuk ibadah yang sifatnya mutlak bebas dan tidak terikat oleh waktu maupun tempat—seperti memperbanyak zikir dan selawat—Allah SWT memberikan kelonggaran penuh bagi hamba-Nya untuk mengamalkan kapan saja.
Doa awal tahun dan akhir tahun yang beredar di kalangan muslimin Indonesia satu di antaranya:
1. Doa Akhir Tahun
اَللَّهُمَّ مَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ فِي هَذِهِ السَّنَةِ مَا نَهَيْتَنِي عَنْهُ وَلَمْ أَتُبْ مِنْه وَحَلُمْتَ فِيْها عَلَيَّ بِفَضْلِكَ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوبَتِي وَدَعَوْتَنِي إِلَى التَّوْبَةِ مِنْ بَعْدِ جَرَاءَتِي عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَإِنِّي اسْتَغْفَرْتُكَ فَاغْفِرْلِي وَمَا عَمِلْتُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَى وَوَعَدْتَّنِي عَلَيْهِ الثّوَابَ فَأَسْئَلُكَ أَنْ تَتَقَبَّلَ مِنِّي وَلَا تَقْطَعْ رَجَائِ مِنْكَ يَا كَرِيْمُ
Allâhumma mâ ‘amiltu min ‘amalin fî hâdzihis sanati mâ nahaitanî ‘anhu, wa lam atub minhu, wa hamalta fîhâ ‘alayya bi fadhlika ba‘da qudratika ‘alâ ‘uqûbatî, wa da‘autanî ilat taubati min ba‘di jarâ’atî ‘alâ ma‘shiyatik.
Fa innî astaghfiruka, faghfirlî wa mâ ‘amiltu fîhâ mimmâ tardhâ, wa wa‘attanî ‘alaihits tsawâba, fa’as’aluka an tataqabbala minnî wa lâ taqtha‘ rajâ’î minka yâ karîm."
Artinya : Tuhanku, aku meminta ampun atas perbuatanku di tahun ini yang termasuk Kau larang-sementara aku belum sempat bertobat, perbuatanku yang Kau maklumi karena kemurahan-Mu. Sementara Kau mampu menyiksaku, dan perbuatan (dosa) yang Kau perintahkan untuk tobat-sementara aku menerjangnya yang berarti mendurhakai-Mu. Karenanya aku memohon ampun kepada-Mu. Ampunilah aku. Tuhanku, aku berharap Kau menerima perbuatanku yang Kau ridhai di tahun ini dan perbuatanku yang terjanjikan pahala-Mu. Janganlah pupuskan harapanku. Wahai Tuhan Yang Maha Pemurah.