Berita Nasional
Berbalas Kritik Kunjungan Luar Negeri Prabowo, Intip Rekam Jejak Seskab Teddy vs Dino Patti Djalal
Kritik awalnya dilayangkan oleh Dino Patti Djalal melalui akun media sosial pribadinya pada Sabtu (30/5/2026)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/SESKAB-Teddy-Indra-Wijaya-saat-memberikan-klraifikasi-t.jpg)
Ringkasan Berita:
- Mantan Wamenlu Dino Patti Djalal mengkritik tingginya frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto karena dinilai memboroskan anggaran negara
- Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyanggah kritik tersebut dengan memaparkan data BKPM bahwa rangkaian lawatan Presiden justru berhasil membawa masuk komitmen investasi sebesar Rp2.430 triliun ke Indonesia
- Sentilan Personal & Sorotan Karier: Ketegangan merembet ke ranah personal setelah Teddy menyentil masa jabatan Dino sebagai Wamenlu
TRIBUNGORONTALO.COM – Jagat media sosial tengah dihebohkan oleh aksi saling balas argumen antara Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya dan mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal terkait tingginya frekuensi kunjungan kerja luar negeri Presiden Prabowo Subianto.
Kritik awalnya dilayangkan oleh Dino Patti Djalal melalui akun media sosial pribadinya pada Sabtu (30/5/2026), yang menyoroti data statistik perjalanan sang Presiden.
Dino memaparkan bahwa sejak dilantik pada 20 Oktober 2024 hingga akhir Mei 2026, Presiden Prabowo tercatat sudah melakukan 49 kali kunjungan ke 28 negara, yang berarti satu dari setiap enam hari masa jabatannya dihabiskan di luar negeri dengan akumulasi mencapai 95 hari.
Mantan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat itu menilai frekuensi tersebut terlalu tinggi dan memakan anggaran negara yang sangat besar, mulai dari biaya pesawat, logistik, pengamanan, hingga uang harian delegasi yang bisa mencapai ratusan miliar rupiah.
Sebagai solusi efisiensi, Dino menyarankan agar diplomasi bilateral lebih banyak memanfaatkan teknologi komunikasi seperti video call atau Zoom, serta mendelegasikan sebagian tugas kepada Menteri Luar Negeri Sugiono.
Menanggapi kritik tajam tersebut, Seskab Teddy Indra Wijaya langsung pasang badan dan memaparkan data tandingan mengenai capaian konkret dari rangkaian lawatan luar negeri Presiden Prabowo.
Teddy menegaskan bahwa berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), diplomasi aktif yang dijalankan kepala negara selama 1,5 tahun terakhir justru berhasil membawa masuk komitmen investasi sebesar Rp2.430 triliun, termasuk investasi senilai Rp575 triliun dari Jepang dan Korea Selatan.
Namun, ketegangan justru merembet ke ranah personal setelah Teddy menyentil masa jabatan Dino saat masih aktif di pemerintahan masa lalu.
"Saya pikir beliau adalah Diplomat hebat, pernah menjadi Wakil Menteri Luar Negeri, walau hanya diberi kesempatan sekitar tiga bulan," ujar Teddy dalam klarifikasinya.
Sindiran balik mengenai "jabatan tiga bulan" tersebut sontak memicu polemik luas dan memantik rasa penasaran publik mengenai latar belakang kedua tokoh ini. Netizen kini ramai-ramai membandingkan rekam jejak karier militer moncer milik Letkol Teddy dengan rekam jejak diplomatik senior yang melekat pada diri Dino Patti Djalal.
Berikut adalah perbandingan rincian perjalanan karier mentereng antara Dino Patti Djalal dan Seskab Teddy Indra Wijaya yang berhasil dihimpun:
Perjalanan Karier Dino Patti Djalal
Dino Patti Djalal merupakan mantan Wakil Menteri Luar Negeri sekaligus tokoh yang menyandang gelar kehormatan sebagai Bapak Diaspora Indonesia. Dunia internasional sudah menjadi bagian dari hidup Dino sejak belia.
Lahir di Belgrade, Yugoslavia, pada 10 September 1965, ia melewatkan masa kecil hingga remaja dengan berpindah-pindah negara. Hal itu tidak lepas dari profesi sang ayah, Hasyim Djalal, yang merupakan salah satu diplomat legendaris Indonesia, bersama ibunya yang bernama Jurni.
Keluarga berdarah Minangkabau asal Ampek Angkek, Agam, Sumatra Barat ini membawa Dino menjelajahi berbagai belahan dunia. Berbagai kota global pernah menjadi tempat tinggalnya, mulai dari Jakarta, Yugoslavia, Guinea, Singapura, Washington DC, New York, Ottawa, hingga Vancouver.