Polemik UTBK
Skema Joki UTBK SNBT 2026 di Unesa Diduga Terorganisir Hingga Tingkat Nasional
Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mengungkap adanya dugaan keterlibatan jaringan terorganisir dalam
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Ilustrasi-kunci-jawaban-contoh-soal-UTBK-SNBT-2024.jpg)
Ringkasan Berita:
- Kasus joki UTBK SNBT 2026 kembali menyoroti dugaan praktik kecurangan yang melibatkan jaringan terorganisir di balik pelaksanaan ujian.
- Pola yang muncul menunjukkan adanya skema yang tidak sederhana dengan pembagian peran yang sulit ditelusuri secara langsung.
- Kondisi ini mendorong penguatan pengawasan dan pengetatan prosedur dalam pelaksanaan ujian di berbagai kampus.
TRIBUNGORONTALO.COM - Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mengungkap adanya dugaan keterlibatan jaringan terorganisir dalam kasus joki Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) 2026 yang berhasil diamankan saat pelaksanaan ujian pada Selasa (21/4/2026).
Wakil Rektor I Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni Unesa, Martadi, menyampaikan bahwa hasil penelusuran awal terhadap seorang joki berinisial H mengarah pada dugaan adanya struktur berlapis di balik praktik tersebut.
Ia menyebut jaringan yang terlibat tidak sederhana dan memiliki pola koordinasi yang sulit dilacak.
“Ada dua layer di atasnya dan layer itu selalu missing link. Sudah enggak bisa disebut lagi,” ujar Martadi saat memberikan keterangan kepada awak media, Rabu (22/4/2026).
Berdasarkan hasil interogasi, H mengaku direkrut oleh pihak lain yang ditemuinya di sebuah kafe.
Baca juga: Skema Curang UTBK SNBT Terbongkar di Sejumlah Kota, Mulai dari Joki hingga Alat Tersembunyi
Dalam proses itu, seluruh dokumen administrasi disebut telah disiapkan oleh pihak pemesan jasa joki, sehingga pelaku hanya menjalankan peran sesuai arahan.
Selain itu, H juga disebut mendapat instruksi untuk menghafalkan identitas tertentu, mulai dari nama keluarga hingga data personal lainnya.
Namun dalam pemeriksaan, terdapat ketidaksesuaian antara keterangan yang diberikan dengan kemampuan pelaku, termasuk ketika diminta menjawab dalam bahasa daerah yang disebutkan berasal dari Madura.
“Begitu kita tanya, Bahasa Madura, dia enggak bisa,” kata Martadi.
Lebih lanjut, sesama joki dalam jaringan tersebut diduga tidak saling mengenal.
H hanya mengaku berhubungan dengan satu pihak perekrut yang disebut berasal dari Jawa Barat, tanpa pernah bertemu dengan anggota lain dalam jaringan yang sama.
Proses rekrutmen sendiri, menurut hasil penelusuran, dilakukan secara tidak langsung dan hanya melalui pertemuan terbatas di lokasi tertentu.
Dalam kasus H, disebutkan hanya terjadi sekitar dua kali pertemuan sebelum menjalankan tugas pada saat ujian berlangsung.
“Jadi mereka direkrut di sebuah kafe. Konon dua kali dia pertemuan untuk mendapat order itu. Lalu setelah itu apakah kamu kenal dengan joki yang lain? mereka tidak pernah dipertemukan,” jelasnya.