Hikmah Ramadan 2026
Hikmah Ramadan: Berlatih Untuk Diam
Hikmah Ramadan: Puasa bicara mengajarkan diam itu emas, bicara itu perak; bijak memilih kapan berbicara dan kapan diam menyelamatkan diri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Nasaruddin-Umar-Menteri-shchdsc.jpg)
Oleh Menteri Agama Prof Dr H Nasaruddin Umar, MA
TRIBUNGORONTALO.COM — Salah satu hikmah puasa ialah melatih diri untuk diam. Ada pepatah kuno yang mengatakan: Diam adalah emas dan bicara adalah perak. Kita bisa setuju atau tidak dengan pepatah ini, tetapi yang pasti kita sendiri sering kali menyesal karena terlalu banyak bicara.
Kita juga sering bersyukur karena bisa bersikap diam dan mengendalikan diri sehingga terbebas dari fitnah dan marabahaya.
Kita juga sering setuju dengan pernyataan: Kita lebih gampang disuruh bicara ketimbang disuruh diam.
Yang pasti, mungkin semuanya kita pernah memilih diam sebagai jawaban yang paling tepat.
Dalam Alquran juga disebutkan Nabi Zakaria pernah mengalami hal ini, sebagaimana diungkapkan dalam Surah Maryam.
Baca juga: Hikmah Ramadan : Kekuatan Imajinasi Spiritual
Ia sangat berhasrat memiliki anak. Ia tak pernah berhenti berdoa meskipun usianya sudah tua dan istrinya juga demikian.
Sebagai wujud tanda syukur dan sekaligus nazar, sekiranya ia berhasil dikaruniai anak, maka ia akan berpuasa bicara selama tiga hari, sebagaimana disebutkan dalam Alquran:
“Zakaria berkata: ‘Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda’. Tuhan berfirman: ‘Tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, padahal kamu sehat’.” (Q.S. Maryam/19:10)
Akhirnya doanya dikabulkan, dan Nabi Zakaria pun menunaikan nazarnya dengan berpuasa bicara selama hari yang ditentukan.
Diam atau puasa bicara bukan pekerjaan mudah bagi orang normal.
Baca juga: Hikmah Ramadan : Belajar dari Sifat-sifat Tuhan
Namun Allah SWT selalu mengingatkan kita agar hati-hati soal bicara, sebagaimana firman-Nya:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.” (QS. Al-Ahzab/33:70)
Dalam hadis Nabi disebutkan:
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hendaklah ia mengatakan yang benar atau lebih baik diam.”
Nabi juga mengingatkan:
“Sesungguhnya dosa yang paling banyak dilakukan oleh anak cucu Adam adalah pada lidahnya.”
“Musibah itu terwakili melalui ucapan.”
“Barangsiapa yang banyak bicara, banyak juga kekeliruannya. Barangsiapa yang banyak kekeliruannya, banyak juga dosanya. Barangsiapa yang banyak dosanya, maka nerakalah yang paling tepat tempatnya.”
Banyak lagi ayat dan hadis mengingatkan kita agar jangan mengumbar pembicaraan yang tidak perlu.
Kalangan sufi ada yang pernah mengatakan bahwa diam adalah keselamatan dan itulah yang esensial, sedang bicara bukan esensial.
Baca juga: Hikmah Ramadan : Sahabat Spiritual atau Shuhbah
Orang-orang masih memperselisihkan mana yang lebih utama antara diam dan bicara.
Namun yang lebih tepat adalah masing-masing—antara diam dan bicara—memiliki keutamaan dibandingkan yang lain, tergantung pada situasi dan kondisinya.
Diam lebih utama dilakukan pada situasi dan kondisi tertentu, dan pada situasi lain, justru bicara lebih utama.
Namun perlu juga diingat, tidak selamanya diam itu pilihan terbaik.
Adakalanya seseorang harus dan wajib bicara, terutama menyuarakan kebenaran, sebagaimana sabda Nabi:
“Katakanlah kebenaran itu meskipun pahit.”
Basyar al-Hafi pernah mengatakan:
“Jika suatu pembicaraan membuatmu terkagum-kagum, maka sebaiknya kamu diam saja. Dan jika diam justru membuatmu terkagum-kagum, maka sebaiknya kamu angkat bicara.”
Hal senada juga disampaikan Lukman kepada puteranya:
“Jika bicara itu adalah perak, maka diam adalah emas. Sesungguhnya aku menyesali suatu ucapan berulang-ulang, namun aku tidak menyesali diam sekali pun.”
Abu Ali al-Daqqaq juga pernah berkomentar:
“Barangsiapa diam dari kebenaran, maka dia adalah setan bisu.”
Dalam situasi lain, seseorang yang diminta untuk bicara, terutama jika pembicaraan itu mendatangkan maslahat dan mencegah mudharat, tetap harus berbicara. Tantangan kita ialah bagaimana menjadikan diri kita bukan sebagai iblis cerewet atau iblis bisu! (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.