Ramadan 2026

Ingin Sehat Saat Puasa? Simak Bedanya Intermittent Fasting dan Puasa Ramadan

Puasa intermiten dan Ramadhan sama-sama atur waktu makan, tapi beda tujuan dan aturan. Simak penjelasan ahli gizi soal perbedaannya.

Editor: Tita Rumondor
iStockPhoto
RAMADAN 2026 - Ilustrasi waktu puasa - Puasa intermiten dan Ramadhan sama-sama atur waktu makan, tapi beda tujuan dan aturan. Simak penjelasan ahli gizi soal perbedaannya. 
Ringkasan Berita:1. Tujuan berbeda: Ramadhan untuk ibadah, intermittent fasting untuk kesehatan dan metabolisme.
2. Aturan puasa: Ramadhan tanpa makan-minum 13–14 jam, IF masih boleh minum non-kalori.
3. Kunci sehat: Penuhi gizi seimbang, cukup cairan, dan hindari defisit kalori berlebihan.

 

TRIBUNGORONTALO.COM -- Belakangan ini, intermittent fasting atau puasa intermiten semakin populer sebagai pola makan yang diklaim efektif membantu menurunkan berat badan sekaligus meningkatkan kesehatan metabolik.

Di sisi lain, umat Muslim setiap tahun menjalankan puasa Ramadhan sebagai bagian dari ibadah.

Sekilas, keduanya tampak serupa karena sama-sama mengatur waktu makan. 

Baca juga: Jadwal Imsakiyah dan Salat 5 Waktu di Gorontalo Besok Jumat 20 Februari 2026

Namun, jika ditelaah lebih jauh, terdapat perbedaan mendasar, baik dari sisi tujuan maupun penerapan pola gizinya.

Wakil Dekan III Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR), Mahmud Aditya Rifqi, menegaskan bahwa perbedaan utama terletak pada niat dan tujuan pelaksanaannya.

“Puasa Ramadhan fokus utamanya adalah ibadah. Sementara intermittent fasting umumnya diterapkan dengan tujuan kesehatan, seperti pengaturan berat badan atau perbaikan metabolisme,” jelas Mahmud, Kamis (19/2/2026).

Baca juga: Panduan Salat Tahajud: Niat, Tata Cara, dan Doa Mustajab Sesuai Ajaran Rasulullah SAW

Ilustrasi niat puasa Tarwiyah dan Arafah beserta keutamaannya
RAMADAN 2026 - Ilustrasi waktu puasa - Puasa intermiten dan Ramadhan sama-sama atur waktu makan, tapi beda tujuan dan aturan. Simak penjelasan ahli gizi soal perbedaannya.(iStockPhoto)

Perbedaan Pola dan Aturan Pelaksanaan

Secara konsep, keduanya sama-sama menerapkan prinsip time-restricted eating atau pembatasan waktu makan.

Di Indonesia, durasi puasa Ramadhan berlangsung sekitar 13–14 jam, dimulai sejak sahur hingga waktu berbuka.

Selama rentang waktu tersebut, umat Muslim tidak diperbolehkan mengonsumsi makanan maupun minuman.

Sementara itu, puasa intermiten memiliki variasi metode yang lebih fleksibel. Pola yang paling populer adalah metode 16:8, yakni 16 jam berpuasa dan 8 jam waktu makan.

Contohnya, seseorang hanya makan pada pukul 12.00 hingga 20.00, lalu kembali berpuasa hingga keesokan hari.

Selain metode 16:8, terdapat pula pola 5:2 (lima hari makan normal dan dua hari pembatasan kalori), eat stop eat, hingga one meal a day atau satu kali makan dalam sehari.

Mahmud juga menyoroti perbedaan tingkat keketatan aturan.

“Perbedaan lainnya adalah tingkat keketatan. Pada puasa Ramadhan, selama waktu berpuasa tidak boleh ada asupan makanan maupun minuman. Sedangkan pada intermittent fasting, masih diperbolehkan minum air putih atau minuman non-kalori seperti kopi tanpa gula,” terangnya.

ILUSTRASI Buka Puasa. Apa artinya ternyata hari ini anda mimpi puasa?
ILUSTRASI Buka Puasa. Puasa intermiten dan Ramadhan sama-sama atur waktu makan, tapi beda tujuan dan aturan. Simak penjelasan ahli gizi soal perbedaannya. (Getty)

Pentingnya Asupan Gizi Seimbang

Terlepas dari perbedaannya, prinsip gizi seimbang tetap menjadi kunci utama dalam kedua jenis puasa tersebut.

Mahmud menjelaskan bahwa tubuh membutuhkan waktu sekitar 3–6 jam untuk mencerna makanan secara optimal.

Selain itu, tubuh memiliki ritme biologis alami dalam mengatur proses pencernaan, penyerapan zat gizi, hingga pembuangan sisa metabolisme.

Karbohidrat sebagai sumber energi utama akan disimpan dalam bentuk glikogen apabila tidak langsung digunakan.

Ketika tubuh tidak mendapat asupan makanan, cadangan glikogen tersebut akan dipecah kembali menjadi glukosa guna memenuhi kebutuhan energi.

“Puasa, baik Ramadhan maupun intermittent fasting, dapat membantu meningkatkan sensitivitas insulin. Ini baik untuk pengendalian gula darah,” jelasnya.

Waspadai Defisit Energi Berlebihan

Meski bermanfaat, Mahmud mengingatkan agar pelaku puasa tetap memperhatikan kebutuhan kalori minimal tubuh atau basal metabolic rate (BMR).

Setiap individu memiliki kebutuhan energi dasar agar organ-organ vital tetap bekerja dengan baik, bahkan saat sedang beristirahat.

“Jika asupan kalori terus-menerus berada di bawah kebutuhan minimal, tubuh bisa mengalami defisit energi yang berbahaya. Awalnya lemak memang terbakar, tetapi jika berlanjut, tubuh dapat menggunakan protein otot sebagai sumber energi. Ini dapat menurunkan massa otot,” paparnya.

Karena itu, dalam praktik puasa intermiten, pengurangan kalori sebaiknya dilakukan secara bertahap, sekitar 300–500 kkal dari kebutuhan harian, tanpa melewati batas minimal kebutuhan tubuh.

Adapun saat menjalani puasa Ramadhan, masyarakat diimbau tidak sekadar memindahkan porsi makan pagi dan siang ke malam hari dalam jumlah besar.

“Jangan sampai setelah berbuka justru makan berlebihan dalam waktu berdekatan. Tubuh bisa terbebani,” katanya.

Mahmud menyarankan pola makan dengan satu kali makan utama setelah berbuka, sahur yang cukup, serta tambahan camilan sehat bila diperlukan.

Kebutuhan cairan minimal delapan gelas per hari tetap harus dipenuhi dengan membaginya saat berbuka, malam hari, dan sahur. 

Konsumsi makanan tinggi serat seperti sayur dan buah juga dianjurkan agar rasa kenyang bertahan lebih lama dan energi tetap stabil selama berpuasa.

Ia menambahkan, hidangan berkuah seperti soto dapat menjadi pilihan untuk membantu memenuhi kebutuhan cairan tubuh.

“Puasa Ramadhan adalah momen ibadah, tetapi dari sisi kesehatan juga bisa menjadi kesempatan memperbaiki pola makan. Kuncinya ada pada pengaturan yang seimbang dan sesuai kebutuhan tubuh,” pungkasnya. (*)

 


Sumber: https://lifestyle.kompas.com/read/2026/02/20/050300720/puasa-intermiten-vs-puasa-ramadhan-apa-bedanya-menurut-ahli-gizi-?page=2

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Jadwal Imsakiyah
Jumat, 20 Februari 2026 (2 Ramadan 1447 H)
Kota Gorontalo
Imsak 04:33
Subuh 04:43
Zhuhr 12:05
‘Ashr 15:21
Maghrib 18:08
‘Isya’ 19:17

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved