Berita Nasional
10 Hari Hilang, Ditemukan Dalam Karung: Dua Remaja Ditangkap atas Tewasnya Umar Gayam di Sorong
Umar Gayam ditemukan tewas terbungkus karung setelah 10 hari dinyatakan hilang di Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya. Dua remaja berinisial
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/PENANGKAPAN-PELAKU-PEMBUNUHAN-Polres-Sorong-berhasil-mengamankan.jpg)
Ringkasan Berita:
- Umar Gayam ditemukan tewas terbungkus karung setelah 10 hari dinyatakan hilang di Kabupaten Sorong,
- Papua Barat Daya. Dua remaja berinisial MFLO dan SA telah ditangkap Polres Sorong dan kini menjalani pemeriksaan intensif, sementara motif masih didalami.
- Keluarga korban yang menyebut Umar sebagai tulang punggung keluarga menuntut hukuman seberat-beratnya bagi para pelaku.
TRIBUNGORONTALO.COM -- Duka keluarga Umar Gayam akhirnya berujung pada pengungkapan kasus. Setelah sepuluh hari dinyatakan hilang, pria muda itu ditemukan tewas terbungkus karung di kawasan Jalan Kontainer, Distrik Aimas, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya.
Polisi kini telah menangkap dua remaja yang diduga terlibat dalam pembunuhan tersebut.
Kapolres Sorong, Edwin Parsaoran, memastikan penanganan perkara berjalan sesuai prosedur hukum.
“Kami memastikan seluruh proses penanganan perkara sesuai ketentuan hukum yang berlaku,” ujar Edwin, Rabu (18/2/2026).
Kasus ini tercatat dalam laporan polisi nomor LP/B/73/II/2026/SPKT-1/Polres Sorong/Polda Papua Barat Daya.
Jejak Pengejaran hingga Penangkapan
Dua terduga pelaku yakni MFLO (18) dan seorang anak berhadapan dengan hukum (ABH) berinisial SA (17) diringkus aparat Polres Sorong.
Penangkapan dilakukan setelah polisi menerima laporan keluarga yang kehilangan kontak dengan korban selama hampir sepekan. Informasi berkembang bahwa Umar diduga menjadi korban penganiayaan.
Tim sempat menggerebek sebuah rumah kos di Jalan Tuturuga pada Senin (16/2/2026) sekitar pukul 14.00 WIT, namun kedua terduga tidak berada di lokasi.
“Namun, kedua terduga pelaku tidak ditemukan di lokasi,” kata Kapolres.
Baca juga: Ganti Rugi Rp 8,1 Miliar Kasus CPNS Bodong Belum Dibayar, 3 Rumah Nia Daniaty Terancam Disita
Malam harinya, aparat mendapat informasi bahwa para pelaku melarikan diri ke Kampung Meyaup, Distrik Salawati Tengah.
Polisi bergerak cepat dan berhasil mengamankan keduanya beserta barang bukti berupa satu unit telepon genggam dan sepeda motor.
Setelah sempat dibawa ke Polsek Seget, keduanya dipindahkan ke Mapolres Sorong untuk pemeriksaan intensif.
Jasad Dalam Karung dan Tas Rinjani
Dari hasil pengembangan, polisi memperoleh petunjuk bahwa jasad korban dibuang di sekitar Jalan Kontainer. Tim INAFIS kemudian menyisir area semak-semak di bagian belakang kawasan tersebut.
Umar ditemukan dalam kondisi mengenaskan—terbungkus karung putih dan tas besar merek Rinjani.
Jenazah dievakuasi ke RS Sele Be Solu, Kota Sorong, untuk pemeriksaan lebih lanjut. Pihak keluarga menolak autopsi karena kondisi tubuh korban sudah mengalami kerusakan.
Penemuan jasad ini sempat memicu ketegangan. Keluarga bersama sejumlah massa mendatangi Mapolres Sorong sambil membawa jenazah menggunakan ambulans untuk meminta kejelasan penanganan kasus.
“Kami akan melakukan pengembangan lebih lanjut untuk mengungkap secara utuh peristiwa ini,” tegas Edwin.
Motif pembunuhan hingga kini masih didalami penyidik.
Kronologi Hilang Sejak Malam Penagihan Utang
Kisah pilu ini bermula Sabtu (7/2/2026) sekitar pukul 23.00 WIT. Umar pamit kepada keluarga untuk menagih utang Rp 2 juta kepada seorang teman di rumah kos.
“Dia keluar jam 11 malam. Katanya mau ambil uang yang dipinjam orang. Janji ketemu jam 12 malam, tapi setelah itu dia tidak pernah pulang,” ujar Maulud Yapono, paman korban.
Sejak saat itu, Umar tak pernah kembali. Keluarga mencari secara mandiri sebelum akhirnya melapor ke polisi. Setelah sepuluh hari, jasadnya ditemukan.
“Kami mencari bersama polisi. Jasad ditemukan di belakang Jalan Kontainer dan polisi yang pertama melihat,” kata Maulud.
Sosok Umar: Tulang Punggung dengan Keterbatasan
Di balik kasus kriminal ini, tersimpan kisah seorang anak yatim dengan keterbatasan mental yang menjadi tulang punggung keluarga.
Maulud mengaku membesarkan Umar sejak kecil.
“Dia sudah saya anggap seperti anak sendiri. Saya bawa dari kampung, saya jaga, saya sekolahkan sampai dia kerja,” tuturnya dengan suara bergetar.
Meski memiliki keterbatasan komunikasi, Umar dikenal pekerja keras. Ia bekerja sebagai buruh bangunan dan membantu biaya sekolah adiknya.
“Dia bukan orang kaya. Dia kerja bangunan, tapi dia tulang punggung keluarga. Sekarang kalau dia sudah tidak ada, siapa yang mau tanggung keluarga,” ucap Maulud.
Ia menilai kondisi korban yang berkebutuhan khusus membuatnya sulit melawan saat menjadi korban kekerasan.
Keluarga pun menolak segala bentuk kompromi.
“Kami akan terus kawal kasus ini sampai ke meja hijau. Tidak ada tawar-menawar. Pidana tetap pidana. Ini tentang nyawa,” tegas Maulud.
Bahkan, keluarga meminta hukuman seberat-beratnya bagi para pelaku.
“Kami minta hukuman mati,” ujarnya.
Ramadan tahun ini menjadi momen terberat bagi keluarga.
“Saya akan bersedih bila suara tahmid dan takbir berkumandang, dan saya harus mengucapkan doa serta Al-Fatihah untuknya,” ucap Maulud sambil meneteskan air mata.
(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.