Sabtu, 14 Maret 2026

Polemik Bansos Gorontalo

2 Nenek Tunanetra di Gorontalo Mengeluh Bansos Terhenti, Lurah Padebuolo Duga Ulah Oknum Aparat

Dua nenek kakak beradik penyandang disabilitas netra di Kelurahan Padebuolo, Kecamatan Kota Timur, Kota Gorontalo

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
Ringkasan Berita:
  • Dua nenek tunanetra di Kelurahan Padebuolo, Aisyah (80) dan Hapisah (76), mengeluhkan bantuan sembako dan uang tunai yang biasa mereka terima tiba-tiba terhenti
  • Lurah Padebuolo menemukan fakta bahwa kedua nenek tersebut sebenarnya masih terdaftar sebagai penerima prioritas
  • Pihak kelurahan memastikan kedua nenek tersebut tetap menjadi prioritas utama dan berjanji akan memperketat pengawasan penyaluran bantuan di masa mendatang 

 

TRIBUNGORONTALO.COM – Dua nenek kakak beradik penyandang disabilitas netra di Kelurahan Padebuolo, Kecamatan Kota Timur, Kota Gorontalo, mengeluhkan bantuan sosial yang biasa mereka terima tiba-tiba terhenti dalam beberapa bulan terakhir.

Mereka adalah Aisyah Katili (80) dan Hapisah Katili (76). Keduanya tinggal di sebuah rumah kecil sederhana di salah satu lorong, berdampingan dengan bengkel las dan tempat penyewaan tenda.

Saat TribunGorontalo.com tiba di lokasi pada Senin (9/2/2026), suasana rumah tampak sunyi. Ruangan sempit itu hanya diisi perabot seadanya.

Dua kursi tampak kosong, sementara dua lainnya diduduki oleh mereka. Seekor kucing tampak meringkuk di antara kaki meja, seolah ikut merasakan keheningan di sana.

Kedua nenek tersebut hanya duduk berdiam diri tanpa aktivitas, menghabiskan waktu di dalam rumah yang sesak.

Aktivitas harian mereka sangat terbatas; hanya makan, mandi, lalu kembali berbaring atau duduk termenung.

Dalam kondisi tersebut, Aisyah menceritakan bahwa bantuan yang dulu rutin ia terima kini tak lagi datang. Dengan suara pelan, ia mengenang masa ketika bantuan masih menyentuh tangan mereka.

"Dulu ada (terima bantuan), sekarang sudah tidak ada lagi," ungkap Aisyah.

Ia menjelaskan bahwa namanya kini tidak lagi tercatat di kantor kelurahan saat hendak mengambil bantuan.

Padahal sebelumnya, ia rutin menerima bantuan berupa beras dan minyak goreng. Aisyah merinci, dulu ia mendapatkan dua karung beras masing-masing seberat 5 kilogram (kg) serta empat botol minyak goreng ukuran 1 liter. Selain sembako, mereka juga pernah menerima bantuan tunai.

"Iya, dulu terima uang juga, tapi sekarang sudah tidak," ujarnya lirih.

Aisyah mengaku tidak mengetahui alasan pasti mengapa bantuan tersebut terhenti. Anak-anak mereka sudah mencoba menanyakan kejelasan ke pihak terkait, namun belum mendapatkan jawaban yang memuaskan.

Untuk kebutuhan makan sehari-hari, mereka sangat bergantung pada anak-anak dan kebaikan hati tetangga. Salah satu anak mereka biasanya memasak, namun tidak jarang warga sekitar datang mengantarkan makanan.

Ning Pou, salah satu tetangga, mengaku tidak tega melihat kondisi kakak beradik tersebut. Ia rutin mengantarkan makanan jika memiliki kelebihan rezeki.

"Setiap hari saya antar makanan kalau ada kelebihan," kata Ning sambil menyalin makanan yang dibawanya. Menurutnya, kedua nenek itu kini hanya bisa pasrah di rumah, berharap uluran tangan dari lingkungan sekitar.

"Saya sudah lama tinggal bertetangga dengan mereka, jadi saya tahu persis kondisi mereka," ujarnya.

Tanggapan Pihak Kelurahan

BANTUAN SOSIAL -- Lurah Padebuolo, Rosdiyati Usman saat diwawancarai TribunGorontalo.com, Senin (9/2/2026). Rosdiyati memberikan klarifikasi perihal nenek kakak beradik tak lagi menerima bansos.
BANTUAN SOSIAL -- Lurah Padebuolo, Rosdiyati Usman saat diwawancarai TribunGorontalo.com, Senin (9/2/2026). Rosdiyati memberikan klarifikasi perihal nenek kakak beradik tak lagi menerima bansos. (TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu)

Merespons keluhan tersebut, Lurah Padebuolo, Rosdiyati Usman, memberikan klarifikasi. Ia mengaku terkejut karena berdasarkan data kelurahan, kedua nenek tersebut seharusnya masih tercatat sebagai penerima bantuan prioritas.

"Jujur saya kaget, karena setahu saya, kedua ibu ini adalah prioritas utama kami," ujar Rosdiyati.

Setelah mengecek langsung ke lapangan, Rosdiyati menemukan fakta mengejutkan. Bantuan yang seharusnya menjadi hak kedua nenek tersebut ternyata tidak sampai ke tangan mereka.

Ia bahkan sempat tertegun dan saling lirik dengan pegawai kelurahan lainnya saat mengetahui kenyataan di lokasi.

Seharusnya, mereka menerima bantuan dari berbagai sumber, termasuk Baznas dan program Karsa. Rosdiyati menduga persoalan ini berkaitan dengan ulah oknum aparat kelurahan di masa lalu.

Berdasarkan informasi dari pihak keluarga, saat penyaluran bantuan di kantor kelurahan, mereka sempat diminta menunggu lama lalu disuruh pulang, namun bantuan tak kunjung diserahkan.

Ia juga mengungkap adanya praktik perwakilan pengambilan bantuan yang tidak bertanggung jawab. 

Sebagai contoh, bantuan sembako dari Baznas tercatat atas nama kedua nenek tersebut, namun pengambilannya diwakilkan oleh orang lain dan tidak pernah disalurkan kepada yang bersangkutan.

"Informasinya, bantuan biasanya dititipkan kepada oknum tertentu sebagai perwakilan, tapi tidak sampai ke mereka," jelasnya.

Selain itu, keduanya sebenarnya terdaftar dalam program bantuan makanan dari Dinas Sosial setiap Senin hingga Kamis. Namun, untuk periode Januari dan Februari, program tersebut memang sedang dalam tahap penyesuaian anggaran.

Rosdiyati menegaskan bahwa Aisyah dan Hapisah akan tetap menjadi prioritas utama di Kelurahan Padebuolo.

Ia menjamin bahwa bantuan-bantuan mendatang akan dikawal ketat agar langsung diterima oleh keduanya, mengingat keterbatasan fisik dan kondisi ekonomi yang mereka alami.

 

(TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Jadwal Imsakiyah
Sabtu, 14 Maret 2026 (24 Ramadan 1447 H)
Kota Gorontalo
Imsak 04:30
Subuh 04:40
Zhuhr 12:01
‘Ashr 15:05
Maghrib 18:03
‘Isya’ 19:11

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved