Selasa, 24 Maret 2026

Longsor Cisarua

23 Anggota Marinir Jadi Korban Longsor Bandung Barat Saat Simulasi Penugasan Perbatasan RI-PNG

Tragedi kemanusiaan menyelimuti wilayah Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, menyusul bencana tanah longsor yang menelan korban jiwa

Tayang:
Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto 23 Anggota Marinir Jadi Korban Longsor Bandung Barat Saat Simulasi Penugasan Perbatasan RI-PNG
Tribun Jabar
KORBAN LONGSOR -- Kondisi lokasi longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Minggu (25/1/2025). 25 anggota Marinir menjadi korban longsor. 
Ringkasan Berita:
  • Sebanyak 23 anggota Korps Marinir TNI AL tertimbun longsor di Desa Pasirlangu, Cisarua
  • Akibat akses jalan yang sempit dan cuaca ekstrem, alat berat sulit masuk ke lokasi
  • Total 29 kantong jenazah telah dievakuasi, di mana tim DVI Polri terus bekerja mengidentifikasi para korban dari total 113 warga yang terdampak

 

TRIBUNGORONTALO.COM – Tragedi kemanusiaan menyelimuti wilayah Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, menyusul bencana tanah longsor yang menelan korban jiwa, termasuk puluhan prajurit elit TNI Angkatan Laut.

Sebanyak 23 anggota Korps Marinir TNI AL dilaporkan menjadi korban dalam musibah besar yang terjadi di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, pada Sabtu (24/1/2026) dini hari tersebut.

Upaya penyelamatan kini menjadi prioritas utama dengan mengerahkan segala sumber daya, mulai dari teknologi canggih seperti drone thermal hingga anjing pelacak, guna menyisir material longsor yang sangat tebal.

Kepala Staf TNI AL (KSAL) Laksamana Muhammad Ali telah mengonfirmasi secara resmi mengenai kondisi puluhan prajuritnya yang tertimbun material tanah.

Dalam keterangannya, Laksamana Muhammad Ali menyebutkan bahwa insiden ini telah dilaporkan secara langsung kepada pimpinan tertinggi pertahanan negara.

"Atas izin Bapak Menhan dan Bapak Panglima, saya menyampaikan terkait dengan kejadian bencana alam yang terjadi di Jawa Barat," ujar KSAL dalam siaran persnya seperti dilansir TribunGorontalo.com dari KompasTV, Senin (26/1/2026).

KSAL membenarkan bahwa lokasi terdampak mencakup area di mana para prajurit Marinir sedang menjalankan misi penting.

"Memang terdapat 23 anggota Marinir yang tertimbun longsor di lokasi tersebut," tambahnya dengan nada prihatin.

Berdasarkan laporan terkini pada Senin (26/1/2026), beberapa personel TNI AL memang telah berhasil ditemukan oleh tim gabungan.

Namun, Ali menegaskan bahwa masih banyak anggota lainnya yang hingga kini statusnya belum ditemukan dan dalam proses pencarian intensif.

Proses evakuasi di lapangan menghadapi kendala yang sangat berat karena faktor geografis dan aksesibilitas.

Laksamana Ali menjelaskan bahwa alat berat hingga saat ini belum bisa menembus titik utama longsor secara maksimal.

Kondisi jalan yang sempit serta cuaca yang tidak menentu menjadi penghambat utama bagi kendaraan berat untuk masuk ke area bencana.

Oleh karena itu, pihak TNI AL dan tim SAR gabungan memutuskan untuk memaksimalkan penggunaan teknologi mutakhir.

"Kita akan terus melaksanakan pencarian dengan teknologi, dengan drone, dan juga menggunakan thermal," tegas KSAL.

Selain perangkat digital, tim lapangan juga mengandalkan insting hewan pelacak untuk mendeteksi keberadaan korban di bawah timbunan tanah.

Anjing pelacak dari unit K-9 dikerahkan untuk mempercepat proses pelokasian titik-titik yang dicurigai terdapat jenazah atau korban selamat.

Terkait keberadaan para prajurit di lokasi tersebut, KSAL menjelaskan bahwa mereka sedang mengemban tugas negara.

Puluhan anggota Marinir itu diketahui sedang melaksanakan latihan dalam rangka persiapan penugasan pengamanan perbatasan.

"Mereka sedang melaksanakan latihan pratugas, untuk dikirim melaksanakan pengamanan perbatasan RI dan Papua Nugini (PNG)," tuturnya.

Latihan ini merupakan bagian vital dari kesiapan operasional prajurit sebelum diterjunkan ke daerah konflik atau perbatasan negara.

Soreang dan sekitarnya dipilih sebagai lokasi latihan karena kontur medan yang dianggap sesuai untuk simulasi penugasan.

Namun, cuaca ekstrem yang melanda Jawa Barat selama beberapa hari terakhir mengubah situasi menjadi bencana yang tak terduga.

Laksamana Ali menceritakan bahwa sebelum kejadian, wilayah tersebut diguyur hujan sangat lebat selama hampir dua malam berturut-turut.

"Mungkin itu yang mengakibatkan longsor, dan secara kebetulan menimpa penduduk satu desa serta prajurit kita yang sedang berlatih," jelasnya.

Informasi mengenai hilangnya puluhan prajurit ini sebenarnya sempat beredar luas dan viral di berbagai platform media sosial sebelum dikonfirmasi resmi.

Kabar yang beredar menyebutkan bahwa para personel TNI tersebut awalnya dibagi menjadi dua kelompok besar dalam simulasi latihan tempur.

Para anggota telah diberikan titik koordinat tujuan dan tiba di lokasi sekitar pukul 20.00 WIB, Jumat malam.

Nahas, pada pukul 03.00 WIB dini hari, material tanah dari perbukitan jatuh menimbun area peristirahatan mereka.

Seketika itu juga, jalur komunikasi dengan para prajurit terputus total, memicu kekhawatiran mendalam di markas besar.

Hingga memasuki hari kedua pencarian pada Minggu (25/1/2026), Tim SAR gabungan mulai membuahkan hasil meski dalam suasana duka.

25 Kantong Jenazah Dievakuasi

CITRA UDARA - Lokasi longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu (24/1/2026).
CITRA UDARA - Lokasi longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu (24/1/2026). (Tribun Jabar)

Total sebanyak 25 kantong jenazah berhasil dievakuasi dari timbunan material longsor di wilayah Cisarua tersebut.

Pihak kepolisian melalui tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri bekerja cepat untuk mengidentifikasi identitas para korban.

Dari 25 kantong yang dievakuasi di hari kedua, 11 korban di antaranya telah berhasil diidentifikasi secara medis.

Sementara itu, 14 jenazah lainnya masih harus menjalani proses identifikasi lebih lanjut di rumah sakit rujukan.

Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, memberikan pembaruan data terbaru pada Senin siang.

Ia mengungkapkan bahwa jumlah kantong jenazah yang ditemukan kini telah bertambah menjadi 29 buah.

"Hingga hari ketiga pencarian, total yang kami serahkan kepada tim DVI mencapai 29 body bag," ungkap Syafii di Posko Basarnas Desa Pasirlangu.

Data dari BNPB juga mencatat bahwa setidaknya terdapat 113 warga dari 34 Kepala Keluarga yang terdampak langsung oleh bencana ini.

Pencarian akan terus dilakukan hingga seluruh korban yang dilaporkan hilang, termasuk anggota Marinir, dapat ditemukan dan dievakuasi dengan layak.

Operasi SAR kini difokuskan pada titik-titik koordinat yang telah dipetakan melalui pemindaian udara menggunakan drone thermal pagi ini.

 

Artikel ini dioptimasi dari KompasTV dan Tribun-Jabar.id

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved