Timnas Indonesia
Kekhawatiran Pelatih Persidago Gorontalo soal John Herdman Jadi Juru Taktik Timnas Indonesia
Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) resmi memperkenalkan John Herdman sebagai pelatih baru Timnas Indonesia
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Kolase-Foto-Farid-Tanib-kiri-dan-John-Herdmann.jpg)
Ringkasan Berita:
- PSSI menunjuk John Herdman sebagai pelatih baru Timnas Indonesia menggantikan Patrick Kluivert
- Pergantian pelatih berdampak ke akar rumput, karena setiap pelatih membawa filosofi berbeda
- Farid Tanib menilai penunjukan Herdman masih menyisakan tanda tanya
TRIBUNGORONTALO.COM – Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) resmi memperkenalkan John Herdman sebagai pelatih baru Timnas Indonesia, Selasa (13/1/2026), di Hotel Mulia, Jakarta.
Pelatih asal Inggris itu ditunjuk menggantikan Patrick Kluivert yang dipecat pada Oktober 2025 setelah gagal membawa Indonesia lolos ke putaran final Kualifikasi Piala Dunia 2026.
John Herdman bukan sosok asing di sepakbola internasional. Ia pernah melatih Timnas Putri Selandia Baru pada periode 2006 hingga 2011.
Bersama tim tersebut, Herdman sukses membawa Selandia Baru tampil di Piala Dunia Wanita 2007 dan 2011.
Namun, penunjukan Herdman menuai beragam respons dari klub sepak bola daerah.
Salah satunya datang dari pelatih Persatuan Sepakbola Daerah Gorontalo (Persidago), Farid Tanib, yang menilai keputusan PSSI masih menyisakan tanda tanya.
Farid menyebut, secara pribadi ia belum sepenuhnya yakin dengan pilihan tersebut, meski mengakui PSSI tentu memiliki pertimbangan tersendiri.
"Kalau dari saya penunjukan ini masih belum tepat, tapikan dari PSSI itu mereka melihat sesuai dengan kesepakatan dan penilaian-penilaian yang mereka nilai sebelumnya," ujarnya, Rabu (14/1/2026).
Ia mengaku tidak memiliki cukup informasi terkait rekam jejak dan latar belakang prestasi Herdman di level sepak bola pria.
Meski demikian, Farid tidak menutup kemungkinan bahwa penunjukan tersebut dilandasi evaluasi internal PSSI.
"Pelatih ini tidak terkenal, tapi di sisi lain PSSI ini ada penilaian langsung," imbuhnya.
Farid juga menyinggung soal jaringan internasional yang dimiliki Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, yang dinilai berperan dalam membuka akses pelatih dari luar negeri.
Lebih jauh, Farid menilai pergantian pelatih di Timnas hampir selalu diikuti dengan perubahan filosofi bermain, yang dampaknya dirasakan hingga ke level bawah.
"Karena pelatih baru, maka akan mengubah filosofi dan warna bermain yang baru," terangnnya.
Ia mengingatkan bahwa sebelumnya Indonesia telah memiliki filosofi baku yang dirancang khusus sesuai karakter pemain nasional.
"Kemarin itu kita dilatih dengan filosofi filanesia, itu filosofi sepakbola Indonesia," bebernya.
Menurutnya, filosofi tersebut lahir dari kajian mendalam terhadap kultur sepakbola nasional.
Pergantian filosofi yang terlalu sering, kata Farid, justru menimbulkan kebingungan di kalangan pelatih daerah.
"Ini yang menciptakan kebingungan di ranah pelatih hingga ke tingkat bawah," keluh Farid.
Ia mengungkapkan bahwa pelatih-pelatih di daerah kerap kesulitan menyesuaikan diri dengan arah baru Timnas.
"Ini kita pelatih-pelatih di bawah agak bingung, karena setiap pergantian pelatih, pasti ada filosofi yang akan dibawa," ungkapnya
Kondisi tersebut membuat pembinaan di level akar rumput harus terus berubah mengikuti gaya pelatih nasional.
Farid lalu membandingkan filosofi yang dibawa para pelatih Timnas sebelumnya.
"Misalnya Luis Milla membawa tiki taka, Shin Tae-yong dengan formasi bertahan dan counter attack, terus Patrick Kluivert membawa total football," tuturnya.
Dari berbagai pendekatan itu, ia menilai satu gaya paling sesuai dengan karakter pemain Indonesia.
"Dari ketiganya ia menyebut paling cocok Indonesia dengan model sin ta Yong," jelasnya.
Ia pun menyampaikan kekhawatiran terhadap latar belakang Herdman yang diduga berasal dari sepakbola Inggris.
Menurutnya, gaya khas sepakbola Inggris belum tentu cocok dengan kondisi pemain nasional.
"Yang takutnya dia dari Liga Inggris, cepat dan keras," katanya.
Baca juga: Lowongan Kerja Gorontalo Hari Ini Rabu 14 Januari 2026 untuk SMA hingga S1
Meski secara umum daerah mengikuti warna permainan Timnas, Farid mengakui tidak semua pelatih daerah mampu menerapkannya karena keterbatasan kompetisi.
Khusus di Gorontalo, Farid mengatakan karakter permainan lebih dekat dengan gaya sepakbola Indonesia timur.
"Gorontalo mengikuti kerasnya Indonesia timur, gaya permainan keras dan cepat. Kalau permainan dari kaki ke kaki kita masih kurang," kata Farid.
Ia juga menyoroti minimnya fasilitas lapangan besar yang berdampak pada pembinaan pemain.
Kondisi tersebut menyulitkan daerah dalam menjaring talenta yang siap bersaing di level nasional.
"Susah sekali lapangan besar, jadi kita sulit mencari pemain, Karena sekarang banyak tarkam hanya bola kaki mini, itu tidak jadi tolak ukur," terangnya lagi.
Akibatnya, prestasi sepakbola Gorontalo dinilai sulit menembus panggung nasional.
"Paling tinggi kita menang 1-0 itu susah bersyukur sekali," pungkasnya.
(TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.