Purbaya Yudhi Sadewa
Purbaya Yudhi Sadewa jadi Popularitas Bahkan Dijuluki Sebagai Menteri Harapan Bangsa
Berbagai konten heroik membanjiri platfrom digital, dan salah satunya emak-emak hingga para influencer muda memujannya sebagai Menteri Harapan Bangsa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/menkeu-purbaya-jadi-idola.jpg)
“Sosoknya dibuat tampak netral, kalem, dan selalu senyum sambil mengacungkan jempol ke publik."
"Tapi jangan salah, itu bisa jadi strategi jangka panjang untuk membentuk figur politik yang steril dan diterima semua pihak,” katanya.
Fenomena Purbaya juga disertai aktivitas buzzer yang dinilai bekerja sistematis di media sosial.
Heru mengaku pernah menjadi sasaran serangan daring setelah mengunggah kritik terhadap kinerja Menkeu tersebut.
“Dalam hitungan jam, akun saya diserbu ribuan komentar. Mayoritas dari akun emak-emak yang memuji Purbaya dan menyerang saya dengan narasi seragam,” ujarnya.
Namun, beberapa hari kemudian, ketika ia mengunggah kritik serupa, serangan itu tak lagi muncul.
Menurut Heru, pola itu menunjukkan ada sistem yang cerdas dan adaptif yang memantau narasi tentang Purbaya.
“Meta AI aja kalah. Begitu isu dianggap mengancam citra, buzzer langsung bergerak. Tapi kalau tidak, mereka diam,” ucap Heru.
Dari hasil pengamatannya, jaringan buzzer itu didominasi oleh akun beridentitas perempuan paruh baya—mereka aktif menyebar konten positif, menanggapi kritik dan memperkuat citra Purbaya sebagai figur bersih, cerdas dan peduli rakyat kecil.
Menurut Heru, tim di balik Purbaya telah menyiapkan strategi pencitraan dua arah, menggandeng emak-emak sebagai basis emosional dan generasi muda sebagai legitimasi intelektual.
“Pendekatan ini membangun dukungan lintas generasi. Emak-emak memberikan loyalitas emosional, sementara anak muda memberi validasi rasional. Keduanya jadi fondasi elektoral yang kuat,” jelas dia.
Baca juga: Trend Konten "Rp10 Ribu di Tangan Istri yang Tepat" Tuai Kritik, Dokter Ungkap: Sudah Jatuh Korban
Heru menilai fenomena ini bukan sekadar soal popularitas, tetapi soal rekayasa persepsi yang matang dan berbasiskan data.
Meski mengakui pencapaian Purbaya patut diapresiasi, Heru mengingatkan agar publik tidak terjebak dalam euforia figur.
“Dalam politik modern, popularitas bisa dibangun bukan dari kerja, tapi dari persepsi. Dan persepsi bisa diproduksi secara massal,” katanya.
Fenomena seperti Purbaya, lanjutnya, mencerminkan bahwa politik hari ini telah berubah menjadi pertarungan algoritma dan persepsi.