Berita Nasional
Idola Baru Masyarakat, Begini Celetuk Purbaya Yudhi Kala Ditanya Jadi Calon Cawapres
Popularitas Purbaya yang meroket ini langsung memicu pertanyaan spekulatif seputar kemungkinan dirinya maju sebagai calon wakil presiden (cawapres)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/PURBAYA-YUDHI-SADEWA-Menteri-Keuangan-Purbaya-Yudhi-Sadewa.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Jakarta – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa kini menjadi idola baru di mata publik, sebuah perkembangan yang mengejutkan mengingat awal penunjukannya sempat membuat banyak pihak sangsi.
Namun, karisma dan kinerjanya yang mulai terlihat membuatnya kini digadang-gadang oleh sebagian kalangan.
Popularitas Purbaya yang meroket ini langsung memicu pertanyaan spekulatif seputar kemungkinan dirinya maju sebagai calon wakil presiden (cawapres) dalam pemilihan umum (pemilu) mendatang.
Pertanyaan sensitif itu dilontarkan oleh seorang wartawan saat acara Investor Daily Summit 2025 di Jakarta, Kamis (9/10/2025).
"Bapak jadi idola baru nih Pak, kepikiran enggak untuk jadi cawapres enggak Pak?" tanya wartawan tersebut seperti dilansir Kompas.com, Kamis.
Mendengar pertanyaan mendadak itu, Menkeu Purbaya tampak terkejut. Ia pun memberikan respons spontan dan terkesan merendah.
"Ah, baru juga sebulan kerja gila, lu," jawab Purbaya sambil tertawa ringan.
Purbaya kemudian menjelaskan bahwa popularitas di mata masyarakat adalah hal yang fluktuatif, apalagi terkait kinerja ekonomi.
"Itu kan bisa berubah. Kalau ekonomi bagus, begitu (banyak diidolakan) turun, turun lagi. Ekonomi kan naik-turun, naik-turun. Jadi jangan cepat-cepat (mengambil kesimpulan). Dan gue enggak mikirin juga (menjadi cawapres)," tegasnya.
Saat didesak kembali oleh awak media untuk memastikan apakah dirinya sama sekali belum terpikir untuk terjun ke ranah politik, mantan bos Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) itu menolak dengan tegas.
"Enggak, enggak mikir sama sekali," ujarnya.
Purbaya menekankan bahwa fokusnya saat ini adalah pekerjaan di Kementerian Keuangan. Ia merasa tugasnya masih jauh dari selesai dan baru menyentuh permukaan persoalan ekonomi.
"Kerja juga belum (seluruhnya). Ini kan baru cuman di permukaan saja. Yang di bawahnya belum kita sisir, kebetulan. Ini enggak ada pilihan sama sekali. Gue enggak peduli juga," tutup Purbaya.
Purbaya Yudhi Sadewa ditunjuk jadi Menkeu
Presiden Prabowo Subianto telah menunjuk Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan, menggantikan Sri Mulyani Indrawati.
Pelantikan ini berlangsung di Istana Negara pada Senin, 8 September 2025.
Peristiwa ini memicu banyak pertanyaan terkait alasan di balik pergantian Sri Mulyani yang selama ini dikenal sebagai salah satu menteri andalan.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menegaskan bahwa pergantian ini bukanlah karena Sri Mulyani mengundurkan diri atau dicopot.
Ia menjelaskan bahwa keputusan ini merupakan hak prerogatif Presiden.
"Bapak Presiden selaku kepala negara dan pemerintahan tentunya kita semua paham bahwa beliau memiliki hak prerogatif, maka kemudian atas evaluasi beliau memutuskan untuk melakukan perubahan formasi,” ujar Prasetyo.
Meski demikian, ia enggan memberikan alasan spesifik, hanya mengatakan bahwa "pertimbangannya banyak."
Sejumlah pengamat menilai pergantian ini tidak lepas dari situasi politik dan sosial yang memanas dalam beberapa waktu terakhir.
Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat ekonomi, menyebut bahwa reshuffle ini terkait dengan demonstrasi besar-besaran pada akhir Agustus 2025 yang berujung kerusuhan.
Bahkan, rumah pribadi Sri Mulyani di Bintaro, Tangerang Selatan, ikut menjadi sasaran penjarahan.
“Ini cukup luar biasa, ada satu menteri yang sebelumnya merupakan menteri andalan… tetapi reshuffle ini bisa saja akibat dari demonstrasi yang berujung kerusuhan, makar, hingga terorisme, termasuk penjarahan terhadap pejabat-pejabat negara,” kata Ibrahim.
Ia menambahkan, kondisi tersebut membuat posisi Sri Mulyani kian rentan. Apalagi, penjarahan juga menimpa rumah anggota DPR, yang berujung pada penonaktifan mereka.
Ibrahim melihat, insiden penjarahan di rumah Sri Mulyani kemungkinan menjadi salah satu faktor yang membuat namanya masuk dalam radar reshuffle, diperkuat dengan adanya tuntutan dari mahasiswa dan buruh yang menemui Presiden Prabowo di Istana.
Lantas, Siapa Purbaya Yudhi Sadewa?
Pria kelahiran Bogor, 7 Juli 1964 ini menggantikan posisi Sri Mulyani Indrawati, yang telah mengabdi sebagai bendahara negara di tiga era pemerintahan.
Purbaya Yudhi Sadewa bukan nama asing di kalangan ekonom dan birokrat Indonesia.
Jejak kariernya menunjukkan kombinasi unik antara latar belakang pendidikan teknik dan keahlian di bidang ekonomi.
Ia meraih gelar Sarjana Teknik Elektro dari Institut Teknologi Bandung (ITB) sebelum melanjutkan studi dan memperoleh gelar Master of Science (MSc) dan Doktor (Ph.D) di bidang Ilmu Ekonomi dari Purdue University, Amerika Serikat.
Karier profesional Purbaya dimulai di sektor swasta sebagai Field Engineer di Schlumberger Overseas SA dari tahun 1989 hingga 1994. Namun, ia kemudian banting setir ke dunia riset ekonomi dan keuangan.
Ia menjabat sebagai Senior Economist di Danareksa Research Institute, bahkan sempat menjadi Direktur Utama PT Danareksa Securities dan Chief Economist di lembaga yang sama.
Pengalaman di sektor swasta ini menjadi bekal penting saat ia mulai meniti karier di pemerintahan.
Purbaya mengawali kiprahnya sebagai Staf Khusus Bidang Ekonomi di Kemenko Perekonomian pada 2010-2014 dan juga menjadi Anggota Komite Ekonomi Nasional.
Ia juga pernah menjabat Deputi III Bidang Pengelolaan Isu Strategis di Kantor Staf Presiden dan Staf Khusus Bidang Ekonomi di Kemenko Polhukam serta Kemenko Maritim.
Posisi terakhirnya sebelum menjadi Menteri Keuangan adalah sebagai Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), yang ia emban sejak 3 September 2020.
Jabatannya di LPS ini memperkuat perannya dalam menjaga stabilitas sistem keuangan nasional, sebuah tugas yang kini akan diperluas ke skala yang lebih besar sebagai Menteri Keuangan.
Penunjukan Purbaya oleh Presiden Prabowo dinilai sebagai langkah strategis, mengingat ia memiliki pemahaman mendalam tentang stabilitas keuangan dan pasar, serta pengalaman panjang di birokrasi.
Ia kini mengemban tugas berat untuk melanjutkan dan memperkuat kebijakan fiskal negara di tengah dinamika ekonomi global dan tantangan domestik.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.