Rabu, 11 Maret 2026

Keracunan MBG

41 Siswa Lampung Timur Keracunan Usai Konsumsi Makan Bergizi Gratis, Roti Sosis Berlendir dan Bau

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi solusi pemenuhan gizi anak sekolah justru memicu insiden keracunan massal

Tayang:
Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto 41 Siswa Lampung Timur Keracunan Usai Konsumsi Makan Bergizi Gratis, Roti Sosis Berlendir dan Bau
TRIBUN
TUMPUKAN -- Food tray, wadah yang digunakan untuk Makanan Bergizi Gratis di sekolah. 

TRIBUNGORONTALO.COM -- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi solusi pemenuhan gizi anak sekolah justru memicu insiden keracunan massal di Kecamatan Bumi Agung dan Sukadana, Lampung Timur.

Sebanyak 41 siswa dari tiga SD dan satu SMP di Bumi Agung, serta satu SD di Sukadana, mengalami gejala keracunan setelah menyantap roti sosis MBG pada Jumat (26/9/2025).

Direktur RSUD Sukadana, dr Nila Sandrawati, menyebutkan bahwa dari total korban, 20 siswa menjalani rawat jalan, sementara 22 lainnya dirawat inap.

“Alhamdulillah semua siswa sudah tertangani dengan baik. Beberapa di antaranya yang dirawat kondisinya membaik dan sudah boleh pulang,” ujar dr Nila, Sabtu (27/9/2025), dikutip dari TribunLampung.co.id.

Para siswa dilaporkan mengalami gejala seperti pusing, mual, muntah, demam, mata merah, hingga nyeri pada ulu hati.

“Sebagian mengeluhkan mata merah, pusing, mual, muntah, nyeri ulu hati, hingga demam,” jelas dr Nila.

Untuk memastikan penyebab pasti, tim medis telah mengambil sampel makanan untuk diuji di laboratorium.

“Hasil pemeriksaan diperkirakan keluar tiga sampai lima hari ke depan,” tambahnya.

Salah satu wali murid, Suryaningsih, mengaku menemukan kejanggalan pada roti MBG yang dibawa pulang oleh anaknya.

“Dia nggak makan (MBG) kemarin, pas saya cek kok sosisnya lengket dan berlendir sama agak bau. Terus dia buang, nggak dimakan,” ujar Suryaningsih, dikutip dari Kompas.com.

Temuan ini memperkuat dugaan bahwa bahan makanan yang digunakan dalam menu MBG tidak layak konsumsi.

Pihak kepolisian telah melakukan pemeriksaan terhadap dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bumi Tinggi, yang menjadi pemasok menu MBG di wilayah tersebut.

“Kita sudah cek kondisi dapur SPPG itu, sampel juga sudah kita kirim ke Dinas Kesehatan,” kata Kabid Humas Polda Lampung, Kombes Yuni Iswandari

Program MBG digulirkan sebagai upaya pemenuhan gizi anak sekolah di berbagai daerah.

Namun, insiden ini menyoroti rentannya pengawasan kualitas bahan makanan, terutama dalam skema distribusi massal.

Sebelumnya, kasus serupa juga terjadi di Jambi dan NTT, di mana ditemukan ulat dalam menu MBG siswa.

MBG Harus Diusut

Menyusul banyaknya kasus keracunan MBG di berbagai daerah, Direktur Literatur Institut, Asran Siara, mendesak agar dapur pelaksana program MBG yang terlibat, dievaluasi ketat.

Asran mengatakan, Literatur Institut sebagai sebuah organisasi independen yang bergerak di bidang analisis publik, advokasi, dan pengawasan sosial terhadap kebijakan pemerintah, menegaskan agar dapur-dapur MBG itu mengutamakan kesehatan dan kebersihan, bukan semata kepentingan bisnis. 

“Aspek kesehatan dan kebersihan harus menjadi prioritas utama," kata Asran dalam keterangan kepada wartawan, Jumat (26/9/2025).

Selain itu, Asran juga menyoroti potensi adanya sabotase terhadap program pemerintah tersebut. 

“Jika ada dapur atau pemilik dapur yang dengan sengaja tidak memenuhi standar operasional. Hal itu patut diduga sebagai bentuk upaya sabotase agar program baik (MBG) ini gagal,” ucapnya.

Asran menilai masyarakat penerima manfaat punya peran penting dalam memastikan program berjalan lancar. 

Menurutnya, warga bisa bergotong-royong bahkan bergiliran menjaga dapur agar pengolahan makanan sesuai mekanisme.

“Jangan sampai ada pihak-pihak oknum dapur yang sengaja ingin melakukan sabotase," ujarnya.

Asran juga menegaskan mengenai pentingnya dukungan semua pihak demi mewujudkan tujuan mulia program MBG ini. 

"Kita harus menjaga bersama agar program MBG ini berjalan sesuai tujuan mulia Presiden Prabowo, yaitu memberikan akses makanan bergizi dan sehat kepada masyarakat,” ujar Asran.

Program MBG merupakan salah satu terobosan pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan dan gizi, khususnya bagi pelajar serta kelompok rentan. 

Maka dari itu, Asran menekankan perlunya transparansi, pengawasan, dan partisipasi aktif masyarakat demi keberhasilan implementasinya.

Untuk diketahui, Badan Gizi Nasional (BGN) selama September ini telah menghentikan operasional sementara SPPG di berbagai daerah.

Di antaranya adalah di Garut, Jawa Barat (1 SPPG), Tasikmalaya, Jawa Barat (1 SPPG), Banggai, Sulawesi Selatan (1 SPPG) Cipongkor, Bandung Barat, Jawa Barat (kasus terbaru). 

Dari catatan BGN, kasus keracunan MBG selama 9 bulan ini berdampak pada 4.711 penerima manfaat dengan jumlah porsi MBG yang dibuat dan disebarkan sekitar 1 miliar porsi. 

Program MBG sendiri diluncurkan pada 6 Januari 2025 yang menargetkan 82,9 penerima mulai dari siswa SD hingga SMU atau sederajat. 

Program ini bertujuan untuk memastikan anak Indonesia memiliki gizi yang cukup dan seimbang sebagai pondasi penting bagi tumbuh kembang anak.(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Jadwal Imsakiyah
Rabu, 11 Maret 2026 (21 Ramadan 1447 H)
Kota Gorontalo
Imsak 04:30
Subuh 04:40
Zhuhr 12:01
‘Ashr 15:08
Maghrib 18:04
‘Isya’ 19:12

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved