Demo Filipina
Ribuan Warga Filipina Turun ke Jalan, Demo Anti-Korupsi Berujung Bentrok dengan Polisi
Puluhan ribu warga Filipina turun ke jalanan Manila dan sejumlah kota besar lainnya pada Minggu (21/9/2025)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/erusuhan-terjadi-di-Manila-Filipina-dalam-unjuk-rasa-diikuti-ribuan-orang-kemarin.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM – Puluhan ribu warga Filipina turun ke jalanan Manila dan sejumlah kota besar lainnya pada Minggu (21/9/2025). Mereka memprotes dugaan korupsi yang melibatkan proyek infrastruktur senilai miliaran peso.
Aksi unjuk rasa yang berpusat di Jembatan Mendiola berakhir rusuh saat demonstran bentrok dengan polisi, mengakibatkan puluhan orang ditangkap dan luka-luka.
Aksi massa yang mengenakan pakaian serba hitam dan topeng ini berupaya merangsek maju ke Istana Kepresidenan Malacañang.
Mereka menerobos barikade polisi dan melempari petugas dengan batu. Akibatnya, polisi menangkap 72 orang, termasuk 20 di antaranya adalah anak di bawah umur.
Selain itu, sedikitnya 39 petugas dilaporkan terluka dan satu unit trailer yang dijadikan barikade dibakar massa.
Kemarahan warga dipicu oleh skandal korupsi dalam proyek pengendalian banjir.
Isu ini pertama kali diangkat oleh Presiden Ferdinand Marcos Jr. dalam Pidato Kenegaraannya pada bulan Juli, yang kemudian membentuk badan independen untuk menyelidiki.
Departemen Keuangan Filipina memperkirakan kerugian akibat korupsi ini mencapai US$2 miliar dari tahun 2023 hingga 2025. Namun, Greenpeace memperkirakan jumlah sebenarnya jauh lebih besar, mendekati US$18 miliar.
Sebagai buntut dari demo besar-besaran ini, Presiden Marcos membatalkan perjalanannya ke New York untuk menghadiri Majelis Umum PBB pekan ini.
Istana Kepresidenan Tanggapi Isu Perpecahan di Tubuh Militer
Unjuk rasa ini juga memicu spekulasi perpecahan di dalam Angkatan Bersenjata Filipina (AFP) setelah sekelompok pensiunan perwira militer juga menggelar protes di luar markas AFP di Kota Quezon.
Menanggapi isu tersebut, Juru Bicara Pers Istana Malacañang, Claire Castro, menegaskan bahwa Presiden Marcos tetap yakin dengan kesetiaan militer terhadap konstitusi.
"Kami tidak melihat hal seperti itu. Presiden percaya pada personel berseragam kami, pada pejabat militer kami," kata Castro.
"Dia (militer) tahu bahwa rakyat tidak anti-Marcos, tetapi anti-korupsi," tambahnya.
Skandal ini telah memicu gelombang perombakan di Kongres, termasuk pengunduran diri Ketua DPR Martin Romualdez, sepupu Presiden Marcos, di tengah berlangsungnya penyelidikan.
72 Orang Ditangkap
Polisi menangkap 72 orang - termasuk 20 anak di bawah umur - dalam dua insiden terpisah.
Sedikitnya 39 petugas terluka dan sebuah trailer yang digunakan sebagai barikade dibakar massa.
Juru Bicara Polisi Filipina Mayor Hazel Asilo mengatakan kepada AFP bahwa tidak jelas apakah mereka yang ditangkap adalah "pengunjuk rasa atau hanya orang-orang yang membuat masalah".
Kemarahan massa diakibatkan proyek infrastruktur yang diduga dikorupsi pejabat.
Presiden Ferdinand Marcos menjadikan isu itu dalam pidato kenegaraan bulan Juli lalu menyusul banjir mematikan selama berminggu-minggu di Filipina.
Departemen Keuangan memperkirakan ekonomi Filipina kehilangan hingga 118,5 miliar peso (US$2 miliar) dari tahun 2023 hingga 2025 karena korupsi dalam proyek pengendalian banjir.
Greenpeace memperkirakan jumlah sebenarnya mendekati US$18 miliar.
Awal bulan ini, pemilik sebuah perusahaan konstruksi menuduh hampir 30 anggota DPR dan pejabat Departemen Pekerjaan Umum dan Jalan Raya (DPWH) menerima pembayaran tunai.
Skandal tersebut telah memicu perubahan kepemimpinan di kedua majelis Kongres, dengan Ketua DPR Martin Romualdez, sepupu Marcos, mengajukan pengunduran dirinya awal minggu ini saat penyelidikan sedang berlangsung.
Pada hari Minggu, sejumlah politisi termasuk di antara mereka yang mengambil bagian dalam protes EDSA, sebuah acara yang didukung oleh Gereja Katolik yang kuat yang menarik banyak keluarga.
"Ini bukan partisan," kata Manuel Dela Cerna yang berusia 58 tahun, yang mengatakan ia pernah menghadiri protes People Power di EDSA empat dekade sebelumnya.
"Mereka menguras uang rakyat, sementara warga menderita banjir, rumah mereka tersapu bersih, sementara pejabat naik pesawat pribadi, tinggal di rumah-rumah mewah," katanya.
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Demo Filipina Rusuh, Militer Dikabarkan Pecah, Puluhan Ribu Warga Turun ke Jalan
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.