Tips and Lifestyle
Bangun Jam 5 Pagi Bikin Sukses? Ternyata tak Semua Orang Cocok, Ini Fakta Ilmiahnya
Mulai dari mandi air dingin, menulis jurnal, hingga lari saat matahari terbit, rutinitas ini disebut-sebut sebagai rahasia para “high performer”.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/TIDUR-Banyak-orang-yang-bilang-bangun-jam-5-pagi.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM -- Tren bangun pukul 5 pagi semakin populer di media sosial.
Mulai dari mandi air dingin, menulis jurnal, hingga lari saat matahari terbit, rutinitas ini disebut-sebut sebagai rahasia para “high performer”.
Deretan tokoh dunia seperti CEO Apple Tim Cook, pengusaha Richard Branson, hingga aktris Jennifer Aniston kerap dijadikan contoh figur sukses yang memulai hari sejak subuh.
Pesannya terdengar sederhana: bangun lebih awal, maka produktivitas meningkat. Namun benarkah bangun pagi otomatis membuat seseorang lebih sukses?
Ilmu Pengetahuan Bicara: Tidak Semua Orang Cocok Bangun Pagi
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa rutinitas bangun pukul 5 pagi tidak selalu selaras dengan kondisi biologis setiap orang.
Faktor kunci yang menentukan adalah chronotype, yaitu ritme biologis alami yang mengatur kapan seseorang merasa paling waspada atau paling mengantuk.
Chronotype dipengaruhi oleh genetika dan sistem sirkadian tubuh. Artinya, kecenderungan seseorang menjadi “tipe pagi” atau “tipe malam” sebagian diwariskan.
Pola ini juga berubah seiring usia: remaja cenderung tidur lebih larut, sementara orang dewasa yang lebih tua biasanya lebih mudah bangun pagi.
Secara umum, chronotype terbagi menjadi tiga kelompok:
- Tipe pagi (lark): Mudah bangun pagi dan cepat merasa segar.
- Tipe malam (owl): Lebih produktif pada sore hingga malam hari.
- Tipe menengah: Berada di antara keduanya.
Sebagian besar orang sebenarnya termasuk tipe menengah, bukan ekstrem pagi atau malam.
Perbedaan Dampak pada Akademik dan Kesehatan
Studi menunjukkan bahwa tipe pagi cenderung memiliki performa akademik lebih baik di sekolah maupun universitas.
Mereka juga dilaporkan lebih jarang merokok, mengonsumsi alkohol, atau menggunakan narkoba, serta lebih rutin berolahraga.
Sebaliknya, tipe malam rata-rata memiliki risiko burnout lebih tinggi dan lebih sering melaporkan gangguan kesehatan mental maupun fisik. Salah satu penyebabnya adalah fenomena social jetlag, yaitu ketidaksesuaian antara jam biologis alami dengan jadwal sosial seperti sekolah atau pekerjaan yang dimulai pagi hari.
Ketika tipe malam dipaksa bangun lebih awal secara konsisten, mereka berisiko mengalami utang tidur kronis, kelelahan, dan stres berkepanjangan.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit seperti diabetes, hipertensi, dan obesitas.