Kecelakaan Maut Minsel
Niat Liburan Bersama Ibu Pupus, ASN Gorontalo Fanny dan Yessi Meninggal Akibat Kecelakaan Mobil
Rencana liburan Fanny Anelsia Mustaki dan Yessi Sukersi Mustaki, berakhir dalam suasana duka yang mendalam.
Penulis: Tim Redaksi | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Kolase-foto-pemakaman-dan-kondisi-mobil-yang-ditumpangi-Fanny-dan-Yessi.jpg)
Ringkasan Berita:
- Mobil PO Garuda yang ditumpangi kakak beradik ASN asal Gorontalo, Fanny Anelsia Mustaki (Kejati Gorontalo) dan Yessi Sukersi Mustaki
- Insiden ini menyebabkan Fanny dan Yessi meninggal dunia di lokasi kejadian. Sementara itu, sopir mobil bernama Ismail Zees mengalami luka berat
- Sebelum kejadian, Fanny sempat melakukan panggilan telepon yang tidak biasa kepada pamannya untuk menitipkan pesan agar mobil pribadinya tidak dibawa ke bengkel
TRIBUNGORONTALO.COM – Rencana liburan Fanny Anelsia Mustaki dan Yessi Sukersi Mustaki, berakhir dalam suasana duka yang mendalam.
Niat hati ingin menemui sang ibu di Kota Manado, Sulawesi Utara, Aparatur Sipil Negara (ASN) ini lebih dahulu ditemui maut.
Peristiwa memilukan ini bermula saat Fanny dan Yessi menumpang mobil PO Garuda dengan nomor polisi DM 1195 BA yang dikemudikan oleh Ismail Zees (47).
Kendaraan berwarna hitam tersebut melaju dari arah Gorontalo menuju Manado. Di dalam mobil, selain kakak beradik tersebut dan sang sopir, terdapat satu penumpang lain bernama Doni Tentero (45).
Mereka membelah jalanan Trans Sulawesi dengan harapan bisa tiba di tujuan tepat saat matahari pagi menyambut Kota Manado.
Nahas, saat memasuki wilayah Desa Sapa, Kecamatan Tenga, Kabupaten Minahasa Selatan pada Sabtu (14/3/2026) sekitar pukul 06.30 Wita, kendaraan dilaporkan kehilangan kendali.
Mobil yang diduga melaju dengan kecepatan tinggi itu keluar dari badan jalan, kemudian menghantam pohon dan bangunan rumah makan di pinggir jalan dengan sangat keras.
Kondisi kendaraan mengalami kerusakan yang sangat parah hingga ringsek di bagian kabin penumpang, mengakibatkan benturan yang fatal bagi mereka yang berada di dalamnya.
Kasat Lantas Polres Minsel, Iptu Engelina Yusuf, mengonfirmasi bahwa benturan tersebut menyebabkan Fanni dan Yessi meninggal dunia di lokasi kejadian.
Sementara itu, sang sopir, Ismail Zees, mengalami luka berat dan harus segera dilarikan ke RSUD Teep Minsel untuk mendapatkan perawatan intensif, sedangkan Doni Tentero dilaporkan selamat meski mengalami luka ringan.
Kabar duka ini baru sampai ke telinga keluarga di Gorontalo sekitar pukul 06.00 Wita, di mana saat itu ketidakpastian sempat menyelimuti rumah duka karena jeda waktu informasi yang cukup lama sejak perkiraan waktu kejadian pada dini hari.
Sebelum kecelakaan itu terjadi, terdapat sebuah komunikasi yang kini terasa sebagai firasat pilu. Fanni sempat menghubungi pamannya, Apris Doda, melalui telepon pada malam sebelum keberangkatan. Hal ini terasa tidak biasa karena biasanya sang paman yang lebih dulu menghubungi.
Dalam percakapan terakhir itu, Fanni menitipkan pesan singkat agar mobil pribadinya tidak dibawa ke bengkel untuk sementara waktu. Pesan tersebut menjadi kata-kata terakhir Fanni kepada keluarga di Gorontalo sebelum musibah itu merenggut nyawanya.
Sosok Fanny dan Yessi
Kepergian kedua korban meninggalkan lubang besar di instansi tempat mereka mengabdi selama ini.
Yessi Sukersi Mustaki (41) dikenal sebagai sosok pendidik yang sangat sabar di SMA Negeri 5 Gorontalo.
Sebagai guru Bahasa Inggris, ia dikenang oleh para muridnya sebagai pribadi yang sangat terbuka dan rendah hati.
Mantan siswanya, Widiastuti, mengenang Yessi sebagai guru yang tidak pernah marah meskipun muridnya kesulitan memahami materi, ia justru dengan sabar mengulang penjelasan dari awal demi kemajuan anak didiknya.
Sementara sang adik, Fanny Anelsia Mustaki, merupakan figur yang sangat ceria di lingkungan Kejaksaan Tinggi (Kejati) Gorontalo.
Fanny bertugas sebagai Pranata Humas pada bidang Intelijen, Fanni dikenal oleh rekan kerjanya sebagai sosok yang ramah dan mudah bergaul.
Yursin Djafar, Kaur Pegawai Kejati Gorontalo, menceritakan bahwa pada hari Jumat sebelum kejadian, Fanny masih beraktivitas normal dan sempat bertegur sapa dengan hangat. Bahkan, Fanny menyampaikan rencananya untuk pergi ke Manado.
Kini, kedua almarhumah dipulangkan ke Gorontalo dan dimakamkan berdampingan di area pemakaman keluarga di samping rumah duka mereka di Kelurahan Wongkaditi Barat pada Minggu (15/3/2026).
Baca juga: 7 Fakta Kecelakaan Maut Kakak Beradik PNS Gorontalo, Panggilan Terakhir Fanni Jadi Sorotan
Panggilan Terakhir Fanny
Sebuah fakta menyedihkan terungkap di balik peristiwa kecelakaan maut yang merenggut nyawa kakak beradik, Fanny Anelsia Mustaki dan Yessi Sukersi Mustaki.
Fanny Anelsia Mustaki ternyata sempat menghubungi pamannya di Gorontalo tepat sebelum insiden terjadi.
Hal tersebut diungkapkan oleh tetangga keluarga korban, Apris Doda, saat ditemui di rumah duka yang terletak di Jalan Pangeran Hidayat, Kelurahan Wongkaditi Barat, Kota Gorontalo.
Apris memberikan keterangan tersebut kepada awak media pada hari Sabtu (14/3/2026) di tengah suasana duka yang menyelimuti kediaman korban.
Menurut keterangan Apris, selama ini korban Fanny dikenal sebagai sosok yang sangat jarang menghubungi pamannya secara langsung melalui telepon.
Biasanya, komunikasi antara mereka lebih sering diinisiasi oleh sang paman terlebih dahulu untuk menanyakan kabar keponakannya tersebut.
Hal ini membuat pesan tak biasa tepat sebelum kecelakaan maut itu menyisakan kenangan mendalam bagi keluarga.
“Selama ini jarang sekali dia telepon omnya. Biasanya omnya yang hubungi dia. Tapi tadi malam dia sendiri yang hubungi,” kata Apris dengan nada sedih.
Pihak keluarga merasakan ada sesuatu yang berbeda dari sikap Fanni yang tiba-tiba berinisiatif menghubungi sang paman tanpa diminta.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, percakapan melalui sambungan telepon tersebut terjadi tidak lama sebelum kecelakaan maut itu berlangsung di Jalan Trans Sulawesi.
Dalam percakapan terakhir itu, Fanni menyampaikan pesan singkat mengenai urusan kendaraan pribadi kepada pamannya di Gorontalo.
Fanny menghubungi pamannya agar tidak membawa mobil miliknya ke bengkel untuk sementara waktu.
Pesan tersebut menjadi komunikasi verbal terakhir yang diterima pihak keluarga sebelum berita duka sampai ke telinga mereka.
Keluarga besar baru mengetahui kabar mengenai kecelakaan yang menimpa Fanni dan Yessi pada pagi hari Sabtu (14/3/2026) sekitar pukul 06.00 Wita.
Padahal, berdasarkan estimasi waktu kejadian, kecelakaan hebat tersebut diperkirakan terjadi sekitar pukul 02.00 Wita dini hari.
Terdapat jeda waktu yang cukup lama antara waktu kejadian dengan waktu pihak keluarga menerima informasi resmi mengenai kondisi para korban.
“Informasi baru keluarga dapat sekitar jam enam pagi. Itu pun masih belum jelas,” ujar Apris menceritakan situasi kepanikan keluarga saat itu.
Kabar duka tersebut seketika meruntuhkan harapan keluarga yang menanti kedatangan kedua kakak beradik itu di tempat tujuan. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.