Universitas Negeri Gorontalo
Mahasiswa UNG Berjualan Takjil di Kota Gorontalo, Cari Sumber Dana Kegiatan
Bulan Ramadan dimanfaatkan mahasiswa Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (HIMAKOM) Universitas Negeri Gorontalo (UNG) membangun kemandirian
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Mahasiswa-Ilkom-UNG-berjualan-takjil-di-Kota-Gorontalo.jpg)
Ringkasan Berita:
- Mahasiswa HIMAKOM UNG membuka lapak takjil Ramadan berupa es buah prasmanan dengan harga Rp10 ribu per cup, sebagai upaya membiayai program kerja organisasi tanpa membebani anggota
- Kegiatan wirausaha dijalankan bergilir oleh seluruh bidang sehingga menjadi sarana pembelajaran organisasi, pengelolaan anggaran, serta penanaman tanggung jawab kolektif
- Seluruh hasil penjualan dialokasikan untuk program organisasi dan kegiatan sosial, termasuk Sahur On The Road
TRIBUNGORONTALO.COM – Bulan suci Ramadan dimanfaatkan mahasiswa Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (HIMAKOM) Universitas Negeri Gorontalo (UNG) untuk membangun kemandirian organisasi melalui kegiatan wirausaha.
Para mahasiswa membuka lapak takjil sebagai upaya mendukung pembiayaan program kerja tanpa membebani anggota.
Kegiatan ini tidak semata berorientasi pada penjualan, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembelajaran organisasi, pengelolaan anggaran, serta penanaman tanggung jawab kolektif di kalangan mahasiswa.
Kepala Bidang II Pengembangan Organisasi HIMAKOM, Renaldi H Tabingo, mengatakan kegiatan tersebut dirancang dan dijalankan sepenuhnya oleh mahasiswa.
“Kami membangun organisasi agar tetap eksis setiap tahun. Program kerja HIMAKOM harus memiliki esensi, dan anggaran tidak seharusnya dibebankan kepada mahasiswa,” ujar Renaldi saat diwawancarai di sela-sela berjualan, Senin (2/3/2026).
Renaldi menjelaskan, HIMAKOM memiliki lebih dari 200 anggota aktif. Dalam pelaksanaan lapak takjil Ramadan, mahasiswa dibagi dalam jadwal bergilir agar seluruh bidang ikut terlibat.
“Setiap hari ada dua bidang yang bertugas berjualan. Jadi semua merasakan prosesnya, mulai dari persiapan hingga penjualan,” katanya.
Baca juga: TOP 3 BERITA GORONTALO: Pemkab Gorontalo Siapkan THR ASN hingga Pengusaha Pohuwato Tutup Toko
Selama Ramadan, kegiatan berjualan dilakukan empat kali dalam sepekan, yakni Senin hingga Jumat, sementara Sabtu dan Minggu diliburkan. Waktu operasional dimulai sejak siang hari.
“Persiapan dimulai sekitar pukul 10 pagi, lalu penjualan berlangsung hingga menjelang Magrib,” jelas Renaldi.
Lapak takjil yang dikelola mahasiswa Ilmu Komunikasi ini menawarkan menu sederhana sesuai kebutuhan masyarakat saat berbuka puasa, berupa es buah prasmanan.
Harga yang ditetapkan relatif terjangkau, yakni Rp10 ribu per cup, sehingga dapat dijangkau berbagai kalangan, termasuk mahasiswa dan masyarakat sekitar.
Seluruh hasil penjualan dialokasikan untuk mendukung program kerja organisasi. Menurut Renaldi, langkah ini menjadi solusi agar kegiatan HIMAKOM tetap berjalan tanpa menarik iuran tambahan dari mahasiswa.
“Hasil jualan dialokasikan ke program-program organisasi. Jadi anggaran kegiatan tidak dikumpulkan dari mahasiswa,” ujarnya.
Selain wirausaha, HIMAKOM juga menjalankan program sosial selama Ramadan. Salah satunya adalah kegiatan Sahur On The Road yang dikelola oleh bidang advokasi sebagai bentuk kepedulian kepada masyarakat.
Renaldi menegaskan, seluruh rangkaian kegiatan Ramadan tersebut murni digagas dan dijalankan oleh mahasiswa, tanpa campur tangan pihak luar.
“Program kerja ini dibuat murni oleh anak-anak HIMAKOM. Ini bagian dari proses belajar kami sebagai mahasiswa,” katanya.
Menurutnya, kegiatan sederhana seperti berjualan takjil justru menjadi sarana efektif untuk membangun mental mandiri, kerja sama tim, dan kepemimpinan di lingkungan organisasi mahasiswa.
Pantauan Tribun Gorontalo di lapangan, para mahasiswa terlihat berjualan di depan kampus UNG, tepatnya di pertigaan Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Nani Wartabone.
Di lokasi tersebut, berdiri sebuah meja sederhana bertuliskan “Lapak Es Prasmanan” yang menjajakan es buah sebagai menu utama berbuka puasa.
Sejumlah mahasiswa perempuan tampak sigap melayani pembeli. Sesekali, mereka terdengar memanggil dan menawarkan dagangan dengan suara lantang untuk menarik perhatian pengendara dan pejalan kaki yang melintas.
Di sekitar lokasi, tidak hanya lapak takjil mahasiswa yang berjejer. Berbagai lapak takjil lainnya turut meramaikan kawasan depan kampus. Setiap Ramadan, area ini memang selalu menjadi pusat penjualan takjil bagi masyarakat.
Menjelang sore hingga waktu berbuka, kawasan tersebut semakin padat oleh warga yang berburu hidangan berbuka. Arus kendaraan melambat, sementara pembeli silih berganti mendatangi lapak-lapak takjil yang berjajar di sepanjang jalan. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.