Makan Bergizi Gratis
Program MBG di SD Laboratorium UNG Gorontalo Dapat Sorotan, Sekolah Perketat Pengawasan
Implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SD Laboratorium UNG kini berada di bawah pengawasan ketat pihak sekolah.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
Ringkasan Berita:
- SD Laboratorium UNG menerapkan sistem screening berlapis oleh petugas khusus (PIC) untuk memastikan kelayakan konsumsi dan edar makanan sebelum dibagikan kepada siswa
- Pihak sekolah mengkritisi penyajian menu yang tidak standar, seperti susu pada Jasuke yang dicampur langsung (rawan bakteri) serta temuan roti tanpa label kedaluwarsa
- Meski belum ada laporan gangguan kesehatan, sekolah berkomitmen bersikap tegas terhadap penyedia terkait ketepatan waktu distribusi dan menuntut transparansi anggaran
TRIBUNGORONTALO.COM – Implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SD Laboratorium UNG kini berada di bawah pengawasan ketat pihak sekolah.
Langkah ini diambil sebagai respons atas munculnya berbagai sorotan terkait ketidaksesuaian menu, masalah keamanan pangan, hingga kendala distribusi yang sempat memicu keresahan orang tua siswa.
Kepala SD Laboratorium UNG, Muh Sahman Rahman, menegaskan bahwa pihaknya tidak ingin mengambil risiko terkait kesehatan siswa.
Sejumlah temuan di lapangan selama bulan Februari menjadi pemicu utama bagi sekolah untuk menyusun standar operasional prosedur (SOP) yang lebih tegas.
Sorotan tajam mengarah pada beberapa jenis menu yang dianggap tidak memenuhi standar keamanan pangan. Sahman mencontohkan penyajian menu Jasuke (jagung susu keju) yang susunya dicurahkan langsung ke dalam ompreng.
"Secara keilmuan biologi, susu itu sangat mudah terkontaminasi bakteri. Tidak dianjurkan disajikan dengan cara dicura. Seharusnya dikemas terpisah atau menggunakan susu kotak," tegas Sahman, Kamis (26/2/2026).
Selain itu, masalah roti tanpa label kedaluwarsa yang jelas juga menjadi perhatian serius. Temuan di lapangan menunjukkan adanya roti yang dibagikan pada Februari namun tertera tanggal 24 Januari, meski pihak penyedia mengklaim barang tersebut baru diproduksi.
Guna mencegah kejadian serupa, SD Laboratorium UNG kini menerapkan sistem screening berlapis sebelum makanan sampai ke tangan siswa:
1. Pemeriksaan PIC
Petugas khusus (PIC) sekolah wajib memastikan makanan layak konsumsi dan layak edar.
2. Verifikasi Label
Pihak sekolah akan langsung menolak dan mengembalikan makanan (khususnya roti) jika tidak memiliki label produksi dan kedaluwarsa yang jelas.
3. Instruksi Wali Kelas
Makanan baru boleh dijemput oleh wali kelas setelah dinyatakan aman oleh tim pengawas sekolah.
Baca juga: Dinas PUPR Kabupaten Gorontalo Prioritaskan Infrastruktur Pendukung UMKM hingga Penanganan Banjir
Kendala Distribusi dan Respons Penyelenggara
Selain aspek gizi, kendala teknis berupa keterlambatan distribusi juga sempat dikeluhkan. Renovasi dapur di pihak penyedia (SPPG) sempat menyebabkan makanan datang terlambat dari jam istirahat siswa.
Meski banyak catatan, Sahman mengakui bahwa pihak penyelenggara layanan cukup responsif.
"Setiap ada catatan, kita sampaikan melalui grup koordinasi dan alhamdulillah selalu direspons. Sekarang sudah disepakati pengantaran harus tiba sebelum istirahat pertama," jelasnya.
Pihak sekolah juga mendorong adanya transparansi terkait alokasi anggaran MBG yang beredar di masyarakat sebesar Rp15.000 per porsi. Menurut Sahman, keterbukaan informasi ini penting agar tidak terjadi salah persepsi antara sekolah, orang tua, dan penyedia layanan.
Hingga saat ini, belum ada laporan siswa yang mengalami gangguan kesehatan atau keracunan. Namun, SD Laboratorium UNG berkomitmen untuk tetap bersikap kritis demi menjaga kepercayaan publik dan keselamatan para siswa. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.