Sabtu, 21 Maret 2026

Human Interest Story

Cerita Andi Samsudin Geluti Usaha Pisang di Gorontalo, Punya Pelanggan Luar Daerah

Di sebuah lapak sederhana di Jalan Raja Eyato, Kelurahan Molosipat W, Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo, Andi Samsudin

Tayang:
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Cerita Andi Samsudin Geluti Usaha Pisang di Gorontalo, Punya Pelanggan Luar Daerah
TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu
PENJUAL PISANG -- Andi Samsudin (43) penjual pisang di Jalan Raja Eyato, Kota Gorontalo. Andi bercerita awal mula dirinya menggeluti usaha pisang mentah. 
Ringkasan Berita:
  • Andi memilih meninggalkan usaha depot air minum karena tidak cocok dengan sistem "titip galon" dan beralih berjualan pisang sejak tahun 2021 karena dianggap lebih menguntungkan
  • Dengan modal lapak kontrakan Rp10 juta per tahun, ia memasok berbagai jenis pisang dari Gorontalo hingga Sulawesi Utara
  • Melalui usaha ini, Andi sukses menghidupi keluarga dan membiayai pendidikan keempat anaknya yang menempuh jenjang SD, SMP, hingga SMA

 

TRIBUNGORONTALO.COM – Di sebuah lapak sederhana di Jalan Raja Eyato, Kelurahan Molosipat W, Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo, Andi Samsudin (43) tampak sibuk menata sisir-sisir pisang yang siap dijual.

Dari tempat inilah, ia menghidupi keluarga dan membiayai sekolah keempat anaknya yang kini menempuh jenjang pendidikan berbeda.

Usaha berjualan pisang ini ia rintis sejak tahun 2021, tak lama setelah pandemi Covid-19 mereda. Sebelumnya, Andi menggeluti bisnis depot air minum.

Meski omzetnya terbilang besar, ada satu kendala yang membuatnya memutuskan untuk berhenti.

“Omzetnya besar, cuma saya tidak suka dengan sistem titip galonnya,” ujar Andi kepada TribunGorontalo.com, Minggu (1/2/2026).

Andi menjelaskan bahwa usaha depot air tersebut sudah dijalani cukup lama. Namun, karena sistem kerja yang dirasa tidak cocok, ia mantap beralih profesi. Pilihannya jatuh pada komoditas pisang.

Untuk memulai langkah baru, Andi mengontrak sebuah lapak seharga Rp10 juta per tahun. Keputusan ini bukan tanpa perhitungan matang; baginya, potensi pendapatan dari pisang justru lebih menjanjikan.

“Pisang omzetnya lebih besar,” katanya yakin.

Ia mencontohkan perhitungan sederhananya: rata-rata satu sisir pisang dibeli seharga Rp7.000 dan dijual kembali seharga Rp10.000.

Dari satu sisir saja, ia bisa meraup untung Rp3.000, bahkan lebih untuk jenis tertentu. Meski begitu, ia menekankan bahwa keuntungan sangat bergantung pada kualitas buah.

Stok pisang di lapak Andi berasal dari berbagai wilayah, mulai dari Kecamatan Sumalata di Kabupaten Gorontalo Utara hingga Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan di Sulawesi Utara. Hubungan baik dengan para pemasok telah terjalin lama.

Andi Samsudin (43) Penjual pisang di Jalan Raja Eyato
HUMAN STORY -- Andi Samsudin (43) Penjual pisang di Jalan Raja Eyato, Kelurahan Molosipat W, Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo, Minggu (1/2/2026).

“Sudah langganan. Pasokannya fleksibel. Kalau stok habis, saya tinggal telepon,” ungkapnya.

Andi menjual beragam jenis pisang seperti gapi, ambon, kepok, hingga raja. Di antara semuanya, pisang kepok menjadi primadona karena tingginya permintaan dari para penjual pisang goreng.

Menurut Andi, puncak penjualan biasanya terjadi saat masa sekolah aktif. Sebaliknya, omzet cenderung menurun saat libur sekolah tiba.

Ia menduga hal ini berkaitan erat dengan aktivitas kantin sekolah dan pedagang jajanan di sekitar sekolah yang menjadi pelanggan setianya.

Baca juga: Lowongan Kerja Gorontalo Hari Ini 1 Februari 2026, Lulusan SMA hingga Sarjana Cek Persyaratannya

Merambah Pasar Nasional

Tak hanya melayani pembeli lokal di Kelurahan Molosipat W, Andi ternyata memiliki pelanggan dari luar daerah.

“Khusus pisang Goroho, biasanya saya kirim sampai ke Surabaya dan Jakarta,” tambahnya.

Pengiriman ini berawal dari permintaan seorang teman, yang kemudian berlanjut menjadi pesanan rutin hingga kini.

Menariknya, Andi mengaku hampir tidak pernah merugi akibat buah busuk. Pisang yang ia pasok rata-rata memiliki daya tahan hingga dua minggu, jangka waktu yang cukup untuk memastikan dagangannya habis terjual.

Kini, dari lapak sederhana tersebut, Andi membuktikan dedikasinya sebagai kepala keluarga. Seluruh hasil jerih payahnya ia fokuskan untuk masa depan keempat anaknya.

“Anak saya empat, semuanya ada di setiap jenjang, mulai dari SD, SMP, hingga SMA,” tuturnya bangga.

Kisah Andi menjadi bukti bahwa usaha kecil, jika ditekuni dengan konsisten dan perhitungan yang tepat, mampu menjadi penopang ekonomi keluarga yang kokoh. 

 

(TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved