Human Interest Story
Sosok Ucon, Kakek Penjual Kembang Api di Kawasan Kota Tua Gorontalo
Ucon memang bukan pedagang harian. Mata pencaharian utamanya adalah tukang kayu, kadang juga driver bentor
Penulis: WawanAkuba | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Ucon-77-penjual-kembang-api-di-kawasan-Kota-Tua.jpg)
Ringkasan Berita:
- Ucon, 77 tahun, tukang kayu sekaligus driver bentor, setiap Desember beralih profesi menjadi pedagang kembang api
- Sudah satu dekade ia menekuni usaha musiman ini dengan modal awal Rp10 juta, demi memastikan anak-anaknya tetap bisa sekolah
- Lapaknya berada di lokasi strategis dekat hotel-hotel, menjadi pusat perhatian saat pesta kembang api malam pergantian tahun
TRIBUNGORONTALO.COM – Tepat di depan deretan pertokoan kawasan Kota Tua Gorontalo, di sebuah sudut Jalan Sutoyo, seorang pria paruh baya tampak serius berbincang dengan kawannya, Selasa siang (9/12/2025).
Di hadapannya, berjejer rapi kardus-kardus berisi kembang api dan petasan.
Dua benda yang kerap dianggap sama, padahal sejatinya berbeda. Kembang api biasanya meledak di udara, pecah menjadi warna-warni, sementara petasan justru menghasilkan suara ledakan keras.
Dua jenis dagangan inilah yang sejak satu dekade terakhir menjadi sumber rezeki musiman bagi Mohamad Abudi, atau yang akrab disapa Ucon, 77 tahun.
Lapak kecilnya berdiri di kawasan Kantor BSG Cabang Gorontalo, Kelurahan Biawao, Kecamatan Kota Selatan. Saat dihampiri, Ucon langsung berdiri, tersenyum, lalu memulai cerita.
“Saya sebetulnya tukang kayu,” ujarnya sambil menunjuk jajaran kembang api.
“Tapi kalau sudah masuk Desember, ya begini. Jualan kembang api dulu,” tambahnya.
Ucon memang bukan pedagang harian. Mata pencaharian utamanya adalah tukang kayu, kadang juga driver bentor, pekerjaan yang selama ini menghidupi tiga anaknya.
Baca juga: Jadwal Libur Sekolah SD-SMA Desember 2025, Lengkap Semua Provinsi Termasuk Gorontalo
Anak sulung sudah bekerja, anak kedua masih duduk di bangku SMP, sementara si bungsu kelas 5 SD.
“Yang penting mereka tetap sekolah,” katanya mantap.
Setiap akhir tahun, Ucon berganti peran. Ia menjual kembang api dengan modal awal Rp10 juta, modal yang menurutnya selalu dimulai dengan nekat.
“Tapi karena sudah 10 tahun, sudah bisa kira-kira hasilnya bagaimana,” ujarnya.
Keinginannya sederhana: modal kembali, lalu untung sedikit pun tak apa. Harga dagangannya bervariasi, dari yang kecil Rp5 ribu hingga kembang api jumbo seharga Rp850 ribu.
“Biasanya bos-bos yang beli yang mahal. Setahun sekali tidak apa-apa,” selorohnya.
Meski Desember sudah berjalan, pembeli masih terbilang sepi. Ucon maklum, sebab puncaknya bukan sekarang, melainkan seminggu terakhir menjelang pergantian tahun.
“Nanti kalau sudah dekat-dekat malam tahun baru, banyak yang datang,” katanya.
Lapaknya berada di lokasi strategis, di jantung Kota Tua Gorontalo, dikelilingi hotel-hotel yang setiap tahun menggelar pesta kembang api.
Saat malam pergantian tahun tiba, langit di sekitar tempat Ucon berjualan selalu menjadi pusat perhatian. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.