Demo Mahasiswa
Demo Ricuh di Perlimaan Telaga Gorontalo, Polisi Balas Lemparan Batu dengan Water Canon
Aksi unjuk rasa di Perlimaan Telaga, Kabupaten Gorontalo, berakhir ricuh pada pukul 18.00 Wita, Senin (1/9/2025).
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Demonstrasi-berakhir-ricuh-di-perlimaan-Telaga.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM – Aksi unjuk rasa di Perlimaan Telaga, Kabupaten Gorontalo, berakhir ricuh pada pukul 18.00 Wita, Senin (1/9/2025).
Pihak kepolisian mengerahkan dua kendaraan taktis untuk membubarkan massa.
Semburan water canon itu membuat pengunjuk rasa tercerai-berai.
Sementara itu, sejumlah pengunjuk rasa melemparkan bebatuan ke arah barikade polisi.
Aksi ini semula berjalan damai. Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam aliansi Cipayung Plus Gorontalo menduduki jalanan di kawasan videotron.
Poros Jalan John Ario Katili yang menjadi jalur strategis transportasi antarwilayah dengan lima jalur berbeda praktis lumpuh total.
Kendaraan yang biasanya padat melintas terpaksa harus berhenti akibat jalanan dikuasai oleh mahasiswa.
Meski jumlah massa semakin banyak, situasi masih terpantau kondusif.
Para mahasiswa memilih fokus menyuarakan aspirasi mereka dari atas jalanan dengan pengeras suara.
Tercatat 36 organisasi mahasiswa bergabung dalam aksi ini. Mereka menegaskan bahwa blokade jalan adalah simbol kekecewaan terhadap DPR RI dan pemerintah yang dinilai tidak berpihak pada rakyat.
Aksi di Simpang 5 ini merupakan bagian dari gelombang demonstrasi serentak di Gorontalo, di mana sebelumnya mahasiswa juga memusatkan aksinya di DPRD Provinsi, Kantor Gubernur, Polresta, hingga Bundaran Saronde.
Secara bergantian, perwakilan dari berbagai organisasi mahasiswa tampil menyampaikan tuntutan.
Baca juga: Gubernur Gorontalo Janji Kawal Tuntutan Mahasiswa ke Kemendagri
Kondisi lain di Bundaran Saronde
Kericuhan yang terjadi ini bertolak belakang dengan titik aksi di Bundaran Saronde.
Gubernur Gusnar Ismail, Wakil Gubernur Idah Syaidah, Ketua DPRD Thomas Mopili, dan Kapolda Gorontalo Irjen Pol Widodo menemui pengunjuk rasa di Bundaran Saronde, Kota Gorontalo, Senin (1/9/2025).
Aksi unjuk rasa digelar Aliansi Merah Maron, yang mayoritas anggotanya adalah mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG), telah berlangsung selama dua jam.
Bundaran Saronde sengaja dipilih sebagai pusat aksi karena dianggap sebagai titik paling strategis untuk menyuarakan tuntutan mereka.
Sebelum para pemimpin daerah hadir, sempat terjadi negosiasi antara koordinator aksi dan Kapolresta Gorontalo Kota, Kombes Pol Suryono.
Lobi ini membahas teknis pertemuan, mengingat besarnya jumlah massa dan situasi yang mulai memanas.
Pada puncaknya, Presiden BEM UNG, Surya Reska Umar, melontarkan ultimatum.
"Kami tunggu 10 menit untuk berada di sini," katanya lantang dari atas mobil komando, membuat suasana semakin tegang.
Benar saja, setelah ultimatum diberikan, ketiga pejabat itu akhirnya hadir di lokasi.
Namun, awalnya mereka hanya berdiri sekitar 10 meter dari titik kumpul mahasiswa.
Kondisi sempat membingungkan karena masih ada tarik-menarik tentang siapa yang harus mendekat.
Sementara itu, suasana aksi semakin panas dengan kepulan asap hitam dari ban bekas yang dibakar mahasiswa sebagai simbol perlawanan.
Ketegangan ini membuat aparat keamanan memperketat pengawasan di sekitar Bundaran Saronde.
Beberapa mahasiswa sempat berdebat dengan polisi, menolak opsi pertemuan yang dianggap menjaga jarak antara pejabat dan rakyat.
Pada akhirnya, Gubernur Gusnar Ismail, Kapolda Irjen Widodo, Ketua Deprov Thomas Mopili, dan Wakil Gubernur Idah Syahidah memutuskan untuk duduk bersila di jalan, mendengarkan tuntutan para pengunjuk rasa secara langsung.
Hal ini berhasil meredam ketegangan dan menunjukkan niat baik dari pihak pemerintah.
(Tribungorontalo.com/ht)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.