Selasa, 24 Maret 2026

Mahasiswa Ditemukan Meninggal

Sosok Didik Pratama Karim Diungkap Teman Indekos di Gorontalo: Orangnya Itu Bersih Sekali

Sosok Didik Pratama Karim (33), pria yang ditemukan meninggal dunia di kamar kosnya di Desa Tuladenggi, Kecamatan Telaga Biru

Tayang:
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Sosok Didik Pratama Karim Diungkap Teman Indekos di Gorontalo: Orangnya Itu Bersih Sekali
TribunGorontalo.com
MAHASISWA MENINGGAL -- Kolase foto Savitra Y Usu dan proses evakuasi jenazah di indekos. Sosok Didik Pratama Karim diungkap oleh Savitra selaku teman indekos almarhum. (Sumber Foto: TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu) 
Ringkasan Berita:
  • Pribadi yang Sangat Resik dan Disiplin: Didik dikenal oleh para tetangga kos sebagai sosok yang luar biasa rapi dan menjaga kebersihan
  • Meskipun cenderung pendiam dan lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar yang tertutup rapat, ia tetap dikenal memiliki etika bertetangga yang baik dan selalu bertegur sapa jika berpapasan dengan penghuni lain
  • Pihak Kepolisian Sektor Telaga Biru memastikan tidak ada tanda-tanda kekerasan, indikasi bunuh diri, maupun keracunan

 

TRIBUNGORONTALO.COM – Sosok Didik Pratama Karim (33), pria yang ditemukan meninggal dunia di kamar kosnya di Desa Tuladenggi, Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo, ternyata meninggalkan kesan mendalam bagi orang-orang di sekitarnya.

Di balik pintu kamar yang selalu tertutup rapat, Didik dikenal sebagai pribadi yang luar biasa rapi dan sangat menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggalnya.

Kesan mendalam ini terungkap sehari pasca penemuan jasad korban pada Rabu (4/2/2026) sore yang sempat menggegerkan warga sekitar.

Meski garis polisi telah dilepas, cerita tentang kebaikan dan kepribadian Didik masih menjadi buah bibir hangat di antara para penghuni kos.

Savitra Y Usu (29), tetangga kamar yang posisinya tepat berada di samping kamar korban, menjadi saksi kunci keseharian pria tersebut.

Savitra mengaku masih merasa terguncang dan tidak menyangka tetangga yang dikenalnya sangat tenang itu telah berpulang.

Bagi Savitra, Didik bukan sekadar tetangga biasa, melainkan penghuni senior yang sudah lama menetap di sana.

"Dia yang duluan, sudah lama dia di sini," ujar Savitra saat mengenang sosok almarhum pada Kamis (5/2/2026).

Savitra sendiri baru menempati kos tersebut sejak tahun lalu bersama suaminya yang bekerja di sebuah pabrik.

Selama bertetangga, satu hal yang paling melekat di ingatan Savitra adalah karakter Didik yang sangat resik.

"Orangnya itu bersih sekali," ungkap Savitra dengan nada bicara yang penuh penekanan.

Kebersihan Didik bukan hanya sekadar rapi di dalam kamar, tetapi juga berdampak pada area koridor kos.

Saking bersihnya area di depan kamar Didik, para penghuni lain merasa memiliki rasa hormat yang tinggi terhadap privasinya.

Ada semacam aturan tidak tertulis di antara para penghuni untuk selalu menjaga kebersihan saat melintasi kamar Didik.

Bahkan, tetangga merasa sungkan jika harus lewat di depan kamar korban dengan menggunakan alas kaki atau sandal.

Mereka lebih memilih melepas alas kaki agar lantai di depan kamar Didik tetap mengkilap dan tidak kotor.

Kedisiplinan Didik dalam menjaga kebersihan inilah yang membuat para tetangga sangat menghargai keberadaannya.

Namun, selain dikenal bersih, Didik juga merupakan sosok yang sangat tertutup dan jarang berinteraksi berlebihan.

Ia lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamarnya yang selalu tertutup rapat demi mencari ketenangan.

Meskipun pendiam, Didik tetap menjaga etika bertetangga dengan melakukan tegur sapa jika berpapasan.

Kecurigaan Penghuni Indekos

PENEMUAN MAYAT -- Penghuni kos, Savitra Y Usu (29) saat ditemui TribunGorontalo.com, Kamis (5/2/2026). Kejanggalan sebelum penemuan mayat diungkap penghuni kos.
PENEMUAN MAYAT -- Penghuni kos, Savitra Y Usu (29) saat ditemui TribunGorontalo.com, Kamis (5/2/2026). Kejanggalan sebelum penemuan mayat diungkap penghuni kos. (TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu)

Interaksi terakhir yang tercatat terjadi pada Senin sore, dua hari sebelum Didik ditemukan meninggal dunia.

Saat itu, sepupu Savitra yang kamarnya juga berdekatan, sempat melihat Didik beraktivitas seperti biasa di luar kamar.

Posisi kamar Didik memang diapit oleh dua kamar mandi, sehingga pertemuan di lorong kecil itu sering terjadi.

Dalam pertemuan singkat di Senin sore itu, sepupu Savitra sempat menyapa dan menanyakan kabar kesehatan korban.

Didik menjawab dengan nada bicara yang tenang bahwa kondisinya sedang baik-baik saja dan tidak ada keluhan.

"Biasa, masih teguran biasa," kata Savitra menirukan cerita sepupunya mengenai momen terakhir tersebut.

Tidak ada gurat kesakitan atau tanda-tanda kegentingan medis yang ditunjukkan Didik pada sore itu.

Namun, memasuki hari Selasa, keberadaan Didik mulai menghilang dari pantauan mata para tetangganya.

Kamar yang biasanya rapi itu mulai menunjukkan kejanggalan dengan jendela yang terus terbuka sejak hari Selasa.

Savitra mengaku sempat melihat jendela itu terbuka, namun ia merasa takut dan sungkan untuk sekadar mengintip.

Rasa segan terhadap privasi Didik membuat Savitra dan penghuni lain memilih untuk tidak mencampuri urusan korban.

Padahal, aroma tidak sedap sebenarnya sudah mulai tercium samar-samar sejak Selasa sore saat Savitra sedang memasak.

Baca juga: Mahasiswa Meninggal di Indekos, Polisi Gorontalo Pastikan Tak Ada Tanda Kekerasan hingga Keracunan

PENEMUAN MAYAT -- Mayat Pria 33 Tahun Ditemukan di Kos Tuladenggi, Polisi Selidiki Penyebab Kematian
PENEMUAN MAYAT -- Mayat Pria 33 Tahun Ditemukan di Kos Tuladenggi, Polisi Selidiki Penyebab Kematian (TribunGorontalo.com)

Ia sempat mengira bau tersebut berasal dari limbah di sekitar lingkungan kos dan tidak menaruh curiga pada kamar sebelah.

Hingga akhirnya, misteri diamnya Didik terpecahkan pada Rabu sore sekitar pukul 15.00 Wita oleh seorang temannya.

Teman korban yang datang berkunjung merasa ada yang aneh karena pintu terkunci namun jendela terbuka lebar.

Melalui jendela itulah, sang teman melihat Didik dalam posisi miring di atas kasur, terlihat seperti sedang tidur lelap.

Upaya memanggil korban tidak membuahkan hasil, hingga sang teman menggunakan gagang sapu untuk menyentuh tubuh korban.

Ketika tubuh tersebut tidak memberikan respons sedikit pun, barulah disadari bahwa sang penghuni kos yang bersih itu telah tiada.

Savitra dengan tegas membantah isu miring mengenai penyebab kematian korban yang sempat dikaitkan dengan bunuh diri.

Baginya, Didik adalah orang yang tenang dan tidak menunjukkan tanda-tanda depresi berat selama tinggal di sana.

Kecurigaan itu juga dibantah oleh Kepolisian Sektor (Polsek) Telaga Biru. Kapolsek Telaga Biru, Iptu Fitri S Alimemastikan tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan maupun unsur tindak pidana pada jasad Didik Pratama Karim.

Didik merupakan seorang mahasiswa yang ditemukan meninggal dunia di sebuah rumah kos, Desa Tuladenggi, Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo.

Iptu Fitri S Ali, menegaskan bahwa berdasarkan hasil olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) bersama tim Inafis Polda Gorontalo, kondisi kamar korban dalam keadaan terkunci dari dalam dan tidak ada barang-barang yang rusak.

“Yang bersangkutan tidak ada tanda-tanda kekerasan maupun indikasi bunuh diri. Kami juga memastikan tidak ada bukti korban mengonsumsi racun sebelum meninggal dunia,” tegasnya.

 

(TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved