Mahasiswa Ditemukan Meninggal
Fakta Baru Kematian Mahasiswa Gorontalo Didik Pratama Karim, Kejanggalan Diungkap Penghuni Indekos
Tabir keseharian Didik Pratama Karim (33) sebelum ditemukan tak bernyawa di kamar kosnya di Desa Tuladenggi, Kecamatan Telaga Biru
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
Ringkasan Berita:
- Korban terakhir kali terlihat pada Senin sore dalam kondisi tampak sehat dan sempat bertegur sapa normal dengan penghuni kos lain
- Didik Pratama Karim dikenal sebagai penghuni senior yang sangat pendiam (introvert) dan sangat menjaga kebersihan
- Berdasarkan keterangan saksi dan kepolisian, korban diketahui memiliki riwayat sakit dada serta sering muntah darah sebelum ditemukan meninggal dunia
TRIBUNGORONTALO.COM – Tabir keseharian Didik Pratama Karim (33) sebelum ditemukan tak bernyawa di kamar kosnya di Desa Tuladenggi, Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo mulai terungkap.
Penghuni kos yang tinggal bersebelahan dengan korban memberikan kesaksian mendalam mengenai interaksi terakhir mereka dengan pria yang dikenal sangat pendiam dan bersih tersebut.
Sehari pasca penemuan jasad pada Rabu (4/2/2026), suasana di rumah kos tersebut tampak mulai kembali normal.
Meski aktivitas warga dan penghuni lainnya sudah berjalan seperti biasa, sisa-sisa cerita mengejutkan masih menjadi perbincangan hangat di antara para tetangga kamar.
Savitra Y Usu (29), salah satu penghuni kos yang kamarnya tepat berada di samping kamar korban, mengaku masih merasa terkejut dengan kejadian tersebut. Ia tidak menyangka bahwa tetangga yang dikenalnya tenang itu telah pergi untuk selamanya.
Savitra menjelaskan bahwa dirinya sudah menetap di kos tersebut sejak tahun lalu bersama suaminya yang bekerja di sebuah pabrik. Namun, menurutnya, Didik jauh lebih senior tinggal di sana dibandingkan dirinya.
“Dia yang duluan, sudah lama dia di sini,” ujar Savitra saat ditemui di lokasi, Kamis (5/2/2026).
Sebagai tetangga yang hanya dibatasi dinding, Savitra melihat Didik sebagai sosok yang sangat menjaga privasi. Namun, ada satu hal yang paling diingat oleh seluruh penghuni kos tentang pribadi Didik: kebersihannya.
“Orangnya itu bersih sekali,” kenang Savitra singkat namun menggambarkan karakter kuat almarhum.
Saking bersihnya, Savitra menyebutkan bahwa para penghuni lain bahkan merasa segan untuk sekadar lewat di depan kamar Didik.
Ada aturan tidak tertulis yang mereka rasakan untuk tidak menggunakan alas kaki atau sandal jika melintasi area depan kamar korban.
Kesan resik dan rapi itulah yang membuat para tetangga tidak menaruh curiga ketika melihat kondisi kamar korban di hari-hari terakhirnya.
Savitra mengungkapkan bahwa kamar korban memang lebih sering tertutup rapat sebagaimana kebiasaan orang yang menyukai ketenangan.
Meski demikian, sebuah interaksi penting sempat terjadi pada Senin sore, dua hari sebelum jasad ditemukan. Kesaksian ini datang dari sepupu Savitra yang kamarnya juga berdekatan dengan posisi kamar korban.
Perlu diketahui, posisi kamar Didik memang terbilang unik karena diapit oleh dua kamar mandi, yakni kamar mandi milik Savitra dan kamar mandi milik sepupunya.
Hal ini membuat interaksi singkat sering terjadi saat mereka berpapasan di lorong.
Aktivitas Didik sebelum Meninggal
Pada Senin sore itu, sepupu Savitra masih melihat Didik beraktivitas. Keduanya bahkan sempat terlibat dalam perbincangan singkat yang terlihat normal tanpa ada tanda-tanda kegentingan medis.
“Biasa, masih teguran biasa,” ungkap Savitra menirukan cerita sepupunya.
Dalam obrolan santai tersebut, sepupu Savitra sempat menanyakan bagaimana kabar dan kondisi kesehatan Didik.
Saat itu, Didik menjawab dengan tenang dan mengaku bahwa dirinya baik-baik saja tanpa ada keluhan penyakit apa pun.
Itulah momen terakhir Didik terlihat bernyawa oleh penghuni kos lainnya. Memasuki hari Selasa, keberadaan Didik mulai tidak terlihat lagi di area luar kamar, namun hal itu belum memicu kecurigaan karena dianggap sedang beristirahat.
Kejanggalan kecil mulai muncul ketika jendela kamar korban terlihat terbuka sejak Selasa. Savitra mengakui melihat hal tersebut, namun ia merasa takut dan sungkan untuk mengecek langsung ke dalam kamar.
“Kami juga takut mau lewat atau mengecek,” akunya jujur.
Baca juga: Polisi Gorontalo Selidiki Kematian Didik Pratama, Korban Sempat Keluhkan Dada Sesak dan Muntah Darah
Ketakutan itu didasari atas rasa hormat terhadap privasi korban yang dikenal tertutup. Selain jendela yang terbuka, aroma tidak sedap sebenarnya sudah mulai tercium oleh penghuni kos lainnya sejak hari Selasa.
Savitra menceritakan bahwa saat ia sedang memasak bersama sepupunya, mereka sempat mencium bau yang asing. Aroma tersebut tercium cukup menyengat saat mereka melintasi area dekat pintu kamar korban.
Namun, lagi-lagi kecurigaan itu ditepis. Savitra mengira sumber bau tersebut berasal dari hal lain di sekitar lingkungan kos dan tidak terpikir bahwa itu adalah tanda kondisi darurat dari tetangga sebelah.
Tabir kematian Didik baru benar-benar tersingkap pada Rabu sore sekitar pukul 15.00 Wita. Saat itu, seorang teman korban datang berkunjung karena merasa khawatir atau memiliki keperluan tertentu.
Teman korban tersebutlah yang pertama kali menyadari ada yang tidak beres. Melalui jendela yang terbuka, ia melihat Didik dalam posisi miring di atas tempat tidur, layaknya orang yang sedang terlelap.
Namun, saat dipanggil berkali-kali, tidak ada respons sedikit pun dari dalam kamar. Teman korban tersebut bahkan sempat menggunakan sebuah sapu untuk menyentuh tubuh korban dari luar jendela guna memastikan apakah ia hanya tidur pulas atau pingsan.
“Disentuh menggunakan sapu, tapi tidak ada respons sama sekali,” jelas Savitra menceritakan detik-detik penemuan tersebut.
Sontak, kejadian itu langsung membuat geger seluruh penghuni kos dan warga Desa Tuladenggi. Kabar pun sempat simpang siur, bahkan ada desas-desus liar yang menyebutkan kemungkinan korban mengakhiri hidup sendiri.
Mendengar isu tersebut, Savitra dengan tegas membantah spekulasi negatif yang beredar di masyarakat. Berdasarkan pengamatannya selama bertetangga, tidak ada tanda-tanda depresi yang mengarah ke sana.
“Tidak benar itu (kabar bunuh diri), tidak ada seperti itu,” tegasnya.
Pernyataan Savitra sejalan dengan temuan pihak kepolisian. Kanit Intel Polsek Telaga Biru, Bripka Alfian Thaib, menjelaskan bahwa berdasarkan informasi dari lingkungan pertemanan, Didik memang memiliki riwayat kesehatan yang kurang baik.
Didik diketahui sering mengeluh kepada teman-temannya mengenai rasa sakit di bagian dada. Bahkan, informasi yang dihimpun menyebutkan bahwa korban sering mengalami muntah darah sebelum kejadian ini.
Posisi tubuh korban saat ditemukan memang dalam keadaan miring seperti sedang tidur normal. Polisi memperkirakan Didik telah meninggal dunia sejak malam sebelumnya atau Selasa sore, mengingat aroma yang mulai muncul saat ditemukan.
Almarhum Didik Pratama Karim sendiri diketahui merupakan sosok yang mandiri. Meski memiliki keluarga di Paguyaman dan paman yang menjabat sebagai Lurah di Kota Gorontalo, ia lebih memilih tinggal sendiri di kos-kosan.
Menurut sang paman, Didik memang memiliki karakter yang senang menyendiri atau *introvert*. Pilihan untuk tinggal di kos di Tuladenggi adalah atas kemauannya sendiri demi ketenangan.
Kini, kamar kos nomor tersebut telah nampak sepi. Garis polisi yang sebelumnya melintang kini sudah dilepas, menyisakan sobekan plastik kuning yang tergeletak di tanah sebagai saksi bisu peristiwa tragis tersebut.
Barang-barang milik almarhum pun telah dikemas dan dikumpulkan di tengah ruangan. Rencananya, seluruh aset pribadi Didik akan segera dijemput oleh pihak keluarga untuk dibawa pulang.
Jenazah Didik sendiri telah melalui proses pemeriksaan medis di rumah sakit sebelum akhirnya diserahkan kepada pihak keluarga pada Rabu malam.
Almarhum kini telah beristirahat dengan tenang di tempat pemakaman yang tak jauh dari lokasi kos tempat ia menghabiskan hari-hari terakhirnya.
(TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.