Minggu, 29 Maret 2026

Banjir Gorontalo

Banjir Limboto Barat Berpotensi Terulang, BPBD Gorontalo Dorong Status Tanggap Darurat

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gorontalo mendorong penetapan status tanggap darurat

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Banjir Limboto Barat Berpotensi Terulang, BPBD Gorontalo Dorong Status Tanggap Darurat
Facebok
KASUS BANJIR -- Kolase foto peristiwa banjir di Kabupaten Gorontalo. Kasus banjir di Limboto Barat berpotensi berulang. 

TRIBUNGORONTALO.COM – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gorontalo mendorong penetapan status tanggap darurat menyusul banjir yang melanda sejumlah wilayah, termasuk Kecamatan Limboto Barat.

Kepala BPBD Kabupaten Gorontalo, Udin Pango, mengatakan status tersebut diperlukan sebagai dasar percepatan penanganan infrastruktur pengendali banjir, khususnya tanggul dan sungai.

“Dalam rangka penetapan status tanggap darurat ini, kami sudah berkoordinasi. Kepala Dinas PU juga telah menghubungi Balai Sungai karena ada beberapa tanggul yang perlu segera ditangani,” ujar Udin Pango saat diwawancarai TribunGorontalo.com, Rabu (7/1/2026).

Menurutnya, Balai Sungai siap melakukan pekerjaan, namun masih menunggu dasar administrasi berupa surat keputusan tanggap darurat.

“Mereka siap mengerjakan, hanya menunggu SK tanggap darurat. Jika itu sudah ada, insya Allah tanggul-tanggul yang membutuhkan anggaran besar bisa segera ditangani,” katanya.

Udin menjelaskan, penanganan akan disesuaikan dengan skala kebutuhan dan kemampuan anggaran. Pekerjaan besar ditangani instansi vertikal, sementara yang bersifat terbatas ditangani pemerintah daerah.

“Kalau anggarannya besar tentu dikerjakan Balai Sungai, sedangkan yang terbatas ditangani pemerintah daerah,” ujarnya.

Selain tanggul, BPBD juga menyoroti kondisi sungai yang mengalami pendangkalan akibat sedimentasi.

“Pengurukan sungai yang sedimennya sudah terlalu tinggi juga perlu dilakukan, karena itu sangat memengaruhi daya tampung air saat hujan deras,” ucapnya.

Udin menyebut genangan di Desa Tunggulo dan Haya-haya mulai berangsur surut. Meski demikian, potensi banjir masih ada karena cuaca belum sepenuhnya stabil.

“Kemarin di Olobua Tibawa sempat terjadi banjir. Ada juga beberapa kecamatan lain yang terdampak, termasuk wilayah bawah aliran sungai. Bahkan di Dulamayo sempat terjadi longsor,” jelasnya.

Ia menambahkan, pendataan dampak bencana masih terus diperbarui karena kondisi cuaca yang dinamis.

“Kita belum bisa menetapkan data final, karena hari ini hujan, besok hujan lagi, lalu terjadi banjir lagi. Jadi datanya masih berubah-ubah,” katanya.

BPBD mengimbau masyarakat tetap waspada, terutama warga yang tinggal di bantaran sungai.

“Sesuai informasi BMKG, hujan masih berpotensi terjadi. Warga yang rumahnya di bantaran sungai kalau memungkinkan sementara mengungsi ke rumah keluarga, karena kondisinya cukup berbahaya,” ujarnya.

Baca juga: Harga Emas Pegadaian Hari Ini Kamis 8 Januari, Galeri24 dan UBS Catat Kenaikan

Data Dampak Banjir

BPBD Kabupaten Gorontalo mencatat sebanyak 146 kepala keluarga atau 453 jiwa terdampak banjir di Kecamatan Limboto Barat akibat luapan Sungai Marisa pada Minggu (4/1/2026).

Dua desa terdampak yakni Desa Tunggulo dan Desa Haya-haya. Sedikitnya 120 unit rumah terendam, dengan tingkat kerusakan yang masih dalam proses asesmen.

Di Desa Tunggulo, banjir berdampak pada Sekolah Lukmanul Hakim, area persawahan sekitar 40 hektare, satu masjid, serta fasilitas pemerintahan desa.

Sementara di Desa Haya-haya, genangan air mengganggu aktivitas belajar mengajar di SDN 12 Limboto Barat dan TK Anggrek Mekar.

Selain banjir, tanah longsor juga terjadi di Desa Dulamayo Selatan, Kecamatan Telaga, yang sempat menutup akses jalan menuju Dulamayo Utara.

BPBD bersama camat, aparat desa, TNI, Polri, dan masyarakat melakukan penanganan awal berupa pendataan, pembukaan akses, serta koordinasi lintas instansi. Data dampak bencana masih bersifat sementara dan akan terus diperbarui sesuai kondisi lapangan.

Diketahui bahwa banjir di Kecamatan Limboto Barat terjadi pada Minggu (4/1/2026) akibat curah hujan dengan intensitas tinggi yang memicu luapan Sungai Marisa. 

Udin menambahkan, data dampak yang dihimpun BPBD masih bersifat sementara dan dapat mengalami perubahan seiring perkembangan kondisi di lapangan.

“Data ini masih sementara dan akan terus diperbarui sesuai hasil pendataan di lapangan,” ujarnya.

Selain kejadian banjir, BPBD Kabupaten Gorontalo juga mencatat peristiwa tanah longsor di Kecamatan Telaga pada hari yang sama.

Longsor terjadi di Desa Dulamayo Selatan dan sempat menutup akses jalan penghubung Dulamayo Selatan menuju Dulamayo Utara akibat material longsoran.

Secara keseluruhan, BPBD mencatat dampak bencana hidrometeorologi yang terjadi pada periode tersebut mencakup 146 KK, 453 jiwa terdampak, 120 unit rumah, serta lima fasilitas umum.

Menindaklanjuti kejadian tersebut, BPBD Kabupaten Gorontalo langsung melakukan penilaian situasi di lokasi bencana bersama aparat kecamatan dan pemerintah desa setempat.

Dalam proses penanganan awal, BPBD berkoordinasi dengan camat, aparat desa, TNI, Polri, serta unsur terkait lainnya untuk memastikan respons di lapangan berjalan optimal.

 

(TribunGorontalo.com/Jefry Potabuga)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved