Rabu, 25 Maret 2026

Warga Gorontalo Disekap

Tiba di Gorontalo, Tangis Haru Keluarga Sambut Agus Hilimi Korban Sindikat Kamboja

Agus Hilimi, warga Desa Tolotio, Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo, tiba di rumah keluarganya.

Tayang:
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Tiba di Gorontalo, Tangis Haru Keluarga Sambut Agus Hilimi Korban Sindikat Kamboja
Hand Over
KORBAN SINDIKAT -- Agus Hilimi bersama keluarga dan Kades Tolotio, Sandra Djafar Biu. Agus Hilimi, korban dugaan sindikat penipuan daring (scammer) di Kamboja telah tiba di rumah orang tuanya di Desa Tolotio, Kabupaten Gorontalo. 

TRIBUNGORONTALO.COM – Agus Hilimi, warga Desa Tolotio, Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo, tiba di rumah keluarganya.

Kepulangannya menjadi momen haru bagi keluarga setelah sebelumnya ia diduga disekap oleh sindikat penipuan daring (scammer) di Kamboja.

Agus mendarat di Bandara Djalaluddin Gorontalo pada Kamis (28/8/2025), pukul 07.30 Wita. 

Kedatangannya disambut dengan tangis haru oleh keluarga, aparat desa, serta aparat kepolisian yang turut mengawal.

Kepala Desa Tolotio, Sandra Djafar Biu, yang ikut menjemput, membenarkan kabar tersebut. 

“Sudah di rumah yang bersangkutan,” ungkap Sandra kepada TribunGorontalo.com, Minggu (31/8/2025). 

Ia menambahkan bahwa proses penjemputan Agus juga melibatkan Algazali Katili, anggota DPRD Kabupaten Gorontalo, yang ikut mendampingi langsung dari Jakarta.

“Yang jemput di bandara ada pihak kepolisian, Pak anggota legislatif yang sama-sama dari Jakarta, saya bersama keluarganya,” jelas Sandra.

Setibanya di rumah, suasana haru kembali terasa. 

Dalam video yang beredar, Agus terlihat menenteng sebuah koper, diikuti oleh aparat. Tangisnya pecah saat ia memeluk kerabat yang menunggunya di depan teras.

Kepulangan ini mengakhiri babak kelam yang membuat keluarganya cemas. 

Sosok Agus Hilimi

Potret Agus Hilimi bersama pihak kepolisian
KORBAN SINDIKAT -- Potret Agus Hilimi (mengenakan kaus putih) bersama pihak kepolisian dan Kepala Desa Tolotio. Agus Hilimi sempat viral karena diduga korban sindikat penipuan daring (scammer) di Kamboja. (Sumber Foto: Sandra Biu/Hand Over)

Agus Hilimi, pria berusia 28 tahun, adalah warga Desa Tolotio, Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo. 

Ia merupakan anak bungsu dari lima bersaudara.

Saat ini Agus tinggal bersama ibunya karena ayahnya sudah meninggal. 

Semua saudaranya sudah menikah, dan hanya ia yang belum.

Kronologi Agus Terjebak Sindikat

WARGA DISEKAP -- Kolase foto Agus Hilimi. Warga Desa Tolotio itu mengaku disekap di Kamboja. Pihak perusahaan tempat Agus Hilmi bekerja meminta uang tebusan.
WARGA DISEKAP -- Kolase foto Agus Hilimi. Warga Desa Tolotio itu mengaku disekap di Kamboja. Pihak perusahaan tempat Agus Hilmi bekerja meminta uang tebusan. (Kolase TribunGorontalo.com/Ist)

Kasus ini terungkap ketika Agus, yang dijanjikan pekerjaan dengan gaji tinggi di Thailand.

Ia justru dibawa ke Kamboja setelah dipaksa menggunakan paspor wisata Malaysia. 

"Awalnya saya hanya ingin mencari rezeki yang halal, tapi ternyata saya ditipu, saya dibawa ke Kamboja, bukan Thailand," ungkap Agus dalam sebuah panggilan video yang beredar di media sosial beberapa waktu lalu.

Namun belum dapat dipastikan terkait kebenaran paspor tersebut. Sebab hingga saat ini belum ada pernyataan dari pihak Imigrasi.

Adapun Agus menyatakan dirinya dipaksa menjadi penipu daring (scammer) di Kamboja. Ia diancam denda 100 dolar AS jika tidak mencapai target kerja.

Saat meminta pulang, Agus malah dibebankan denda sebesar Rp 50 juta.

Ia dipaksa menjadi penipu online dan diancam akan dijual ke perusahaan lain jika tidak mau bekerja. 

"Saya tidak bisa komputer, jadi tidak tahu harus bagaimana. Saya tidak mau kerja menipu orang," ujar Agus lirih.

Karena menolak bekerja, Agus justru dimintai uang tebusan puluhan juta rupiah agar bisa pulang. 

Gaji yang dijanjikan tidak pernah ia terima. 

Ibu Agus, Hadija B Tuli, bersama keluarganya telah melaporkan kejadian ini ke Polda Gorontalo, meski pihak kepolisian menyatakan belum menerima laporan resmi.

Pihak Polda Gorontalo menegaskan bahwa mereka sangat terbuka untuk menerima laporan terkait Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).

Risiko Bekerja di Kamboja

Banyak warga Gorontalo diketahui telah bekerja di negara Kamboja.

Mereka berangkat secara ilegal dan bekerja di sektor yang berisiko tinggi.

Hal ini diungkapkan oleh Koordinator Pos Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P4MI) Gorontalo, Sutrisno kepada TribunGorontalo.com pada Minggu (10/8/2025).

Ia menjelaskan bahwa bekerja di Kamboja memiliki risiko besar, apalagi sebagian pekerja di sana direkrut untuk menjadi scammer atau penipu daring.

"Kamboja dan Indonesia tidak ada MOU penempatan tenaga kerja," tegas Sutrisno. 

Ia menambahkan, Kamboja tidak memiliki regulasi atau perlindungan hukum terhadap tenaga kerja asing. 

Meskipun begitu, minat masyarakat untuk bekerja di sana masih tinggi. 

Menurut Sutrisno, salah satu alasannya adalah karena di Kamboja, beberapa jenis pekerjaan yang dilarang di Indonesia justru dilegalkan.

"Di Kamboja dihalalkan beberapa pekerjaan yang ilegal seperti judi atau perjudian," ungkapnya.

Berdasarkan catatan P4MI, sejumlah calon pekerja migran asal Gorontalo pernah dicegah keberangkatannya ke Kamboja. 

"Pencegahannya kita lakukan di beberapa tempat seperti empat di Jakarta dan satu di Kepulauan Riau," kata Sutrisno.

Meski demikian, dari hasil penelusuran dan informasi yang diterimanya, sudah banyak warga Gorontalo yang berada dan bekerja di Kamboja. 

"Aku dapat info, di sana itu sudah banyak orang Gorontalo, tapi kita tidak bisa dapat itu data," ujarnya.

Menurut Sutrisno, kesulitan mendapatkan data disebabkan oleh status keberangkatan mereka yang ilegal. 

Pekerja yang direkrut untuk menjadi scammer biasanya diberikan target tertentu. Jika target tidak tercapai, risiko kekerasan hingga perdagangan orang mengintai mereka.

"Bisa jadi jika tidak memenuhi target, yang bersangkutan akan dijual ke perusahaan lain. 

Bahkan jika mereka tetap tidak bisa mencapai target, bisa saja organ tubuh mereka dijual," jelasnya.

Ternyata, iming-iming gaji besar dan fasilitas lengkap menjadi daya tarik utama para perekrut.

"Dibeliin uang tiket, dikasih uang saku. Dalam proses pemberangkatan diuruskan paspor dan diberi akomodasi di hotel," tambah Sutrisno.

P4MI Gorontalo mengimbau masyarakat untuk melapor jika ada anggota keluarga yang berangkat ke Kamboja atau luar negeri secara ilegal. 

"Lapor ke sini, bikin laporan resmi. Nanti kita akan laporkan ke pusat, dari pusat akan diteruskan ke KBRI Phnom Penh," jelasnya.

Ia juga meminta Pemerintah Provinsi Gorontalo mengeluarkan imbauan resmi agar masyarakat tidak tergiur bekerja di Kamboja.

 


(Tribungorontalo.com/ht)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved