Senin, 11 Mei 2026

Techno

Cara Bertahan di Era AI, Pelajari 6 Skill Paling Dicari Perusahaan Menurut Riset Harvard

Lanskap dunia kerja di tahun 2026 telah bergeser drastis seiring dengan semakin matangnya integrasi Kecerdasan Buatan

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Cara Bertahan di Era AI, Pelajari 6 Skill Paling Dicari Perusahaan Menurut Riset Harvard
Freepik
KECERDASAN BUATAN -- Ilustrasi dua karyawan tengah berdiskusi, diunduh gratis dari Freepik, Minggu (10/5/2026). Intip skill apa saja yang akan diperkuat AI di masa depan. 
Ringkasan Berita:
  • Sejak akhir 2022, lowongan kerja untuk posisi administratif dan rutin merosot 13 persen, sementara permintaan untuk peran yang membutuhkan kreativitas serta kemampuan analitis tingkat tinggi melonjak hingga 20 persen
  • AI tidak menghilangkan peluang kerja secara total, melainkan mengubah standar 
  • Untuk tetap relevan, pekerja wajib menguasai kompetensi baru

 

TRIBUNGORONTALO.COM – Lanskap dunia kerja di tahun 2026 telah bergeser drastis seiring dengan semakin matangnya integrasi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) generatif di berbagai sektor industri.

Bukan lagi sekadar tren, AI kini menjadi penentu utama siapa yang akan bertahan di pasar tenaga kerja. Riset terbaru dari Harvard Business School bertajuk "Displacement or Complementarity? The Labor Market Impact of Generative AI" mengonfirmasi fenomena tersebut dengan data yang sangat kontras.

Para peneliti, termasuk Profesor Suraj Srinivasan, membedah data lowongan kerja di Amerika Serikat dari tahun 2019 hingga Maret 2025. Hasilnya menunjukkan adanya pemisahan jalur karier yang sangat nyata bagi para pencari kerja.

Sejak ChatGPT meledak di akhir 2022, lowongan untuk posisi yang mengandalkan tugas terstruktur dan repetitif merosot tajam hingga 13 persen.

Pekerjaan administratif dan teknis dasar mulai ditinggalkan oleh pemberi kerja yang lebih memilih efisiensi mesin.

 

Namun, kabar baiknya adalah AI tidak benar-benar mematikan peluang kerja. Sebaliknya, permintaan terhadap peran yang membutuhkan kemampuan analitis, teknis tingkat tinggi, dan kreativitas justru melonjak sebesar 20 persen.

Melansir dari Kompas.com, penelitian ini menegaskan bahwa perusahaan kini tidak lagi mencari "pekerja rutin", melainkan individu yang mampu menjadi katalisator antara teknologi dan strategi bisnis. 

Penurunan lowongan justru paling terasa di sektor yang selama ini dianggap mapan, seperti keuangan dan teknologi.

Dinamika ini membuktikan bahwa AI generatif berfungsi sebagai pisau bermata dua: ia mengeliminasi peran usang namun sekaligus melahirkan kebutuhan mendesak akan kompetensi baru yang lebih kompleks.

Bagi para profesional, kuncinya kini terletak pada kolaborasi. Pekerjaan yang paling aman dan paling banyak dicari adalah profesi yang menggabungkan otomatisasi mesin dengan sentuhan unik manusia, seperti mikrobiolog atau neuropsikolog klinis.

Baca juga: 2 Perusahaan Swasta Gorontalo Buka Lowongan Kerja, Cek Formasi dan Syaratnya

Integrasi Manusia dan Mesin di Berbagai Sektor

Chat GPT rilis fitur
KOLABORASI -- Potret seseorang berinteraksi di Chat GPT (Getty Images)

Dalam industri keuangan, misalnya, kemampuan mengoperasikan AI untuk evaluasi data pasar adalah standar dasar. Namun, nilai jual utama seorang kandidat tetap terletak pada ketajaman insting dan pengambilan keputusan akhir yang tidak dimiliki algoritma.

Menariknya, tuntutan terhadap keterampilan dasar pada pekerjaan yang rentan otomasi justru menyusut. Perusahaan kini lebih selektif dan hanya berfokus pada "enam keterampilan kunci" yang menjadi standar baru di tahun 2026.

Daftar 6 Skill yang Paling Diburu Perusahaan

Berdasarkan temuan riset Harvard, berikut adalah kompetensi yang wajib dikuasai untuk tetap relevan di era AI seperti dikutip TribunGorontalo.com dari Kompas.com, Minggu (10/5/2026).

Prompt Writing:

Kemampuan menulis instruksi yang tepat untuk mendapatkan hasil optimal dari alat-alat AI.

Literasi AI:

Kemampuan memahami dan menggunakan alat-alat AI secara efektif dalam pekerjaan.

Kolaborasi Manusia dan AI: 

Kemampuan bekerja berdampingan dengan sistem AI secara produktif dan efisien.

Aplikasi AI spesifik bidang:

Penguasaan alat AI yang relevan dengan industri atau profesi tertentu.

Kemampuan penilaian situasional:

Kapasitas membaca konteks dan mengambil keputusan kompleks yang tidak bisa diotomasi mesin.

Komunikasi interpersonal:

Kemampuan berinteraksi dan membangun hubungan dengan orang lain yang sulit direplikasi AI.

Profesor Srinivasan menegaskan bahwa perusahaan sebaiknya memandang AI generatif sebagai alat untuk memperkuat kemampuan manusia, bukan sekadar alat pemangkas biaya. Menghadapi perubahan ini, ia merekomendasikan dua langkah utama bagi perusahaan:

Pertama, berinvestasi dalam program pelatihan ulang bagi karyawan di posisi yang rentan tergantikan, terutama untuk mengembangkan keterampilan yang tidak bisa diotomasi seperti penilaian situasional dan komunikasi interpersonal.

Kedua, mendorong peningkatan kemampuan AI secara berkelanjutan bagi karyawan di posisi yang bisa diperkuat teknologi ini.
Srinivasan juga mengingatkan bahwa penelitian ini berfokus pada dampak jangka pendek di pasar tenaga kerja Amerika Serikat, sehingga dampak jangka panjang maupun efeknya di wilayah lain masih belum bisa dipastikan. (*)

 

Artikel ini telah tayang di Kompas.com

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved