Berita Nasional
Kemenekraf Bantah Kucurkan Dana untuk Film Animasi Merah Putih One For All
Kementerian Ekonomi Kreatif mengklarifikasi aliran dana untuk pembuatan film animasi bertajuk Merah Putih One For All.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/VISUAL-Visual-Merah-Putih-One-For-All-yang-kini-menuai-kritik-pedas.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM -- Kementerian Ekonomi Kreatif mengklarifikasi aliran dana untuk pembuatan film animasi bertajuk Merah Putih One For All.
Tak cuma finansial, bahkan untuk fasilitas promosi pun menurut Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, sama sekali tak diberikan.
Namun ia mengakui jika sebelum film itu diproduksi, pihaknya menerima audiens tim produser.
Sebagai pejabat yang membidangi urusan kreativitas, ia mengaku memberikan masukan.
Dalam pertemuan itu kata dia ada masukan yang diberikan Wamen Irene terkait technical dan karakter cerita dalam film.
"Saya sendiri menerima audiensi dari tim produksi film beberapa waktu yang lalu dimana saya menyampaikan beberapa masukan termasuk yang technical terkait cerita karakter, looks and feels, trailer dll. Hal ini selalu saya lakukan di setiap audiensi dengan semua pihak supaya setiap audiensi saya bisa mendengar langsung dari pelaku industri dan memberikan feedback," kata Wamen Irene.
Ia juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang menginginkan film animasi di Indonesia maju dan jadi lebih baik.
"I truly appreciate it," ujar Irene.
Merah Putih One For All
Merah Putih One For All adalah film animasi Indonesia bertema nasionalisme yang dijadwalkan tayang di bioskop mulai 14 Agustus 2025, menjelang peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-80.
Film ini diproduksi oleh Perfiki Kreasindo di bawah Yayasan Pusat Perfilman H Usmar Ismail, dengan Toto Soegriwo sebagai produser utama dan Endiarto serta Bintang Takari sebagai sutradara dan penulis naskah.
Sinopsis Singkat
Sebuah desa yang bersiap menyambut Hari Kemerdekaan.
Tiga hari sebelum upacara, bendera pusaka Merah Putih hilang secara misterius.
Delapan anak dari latar budaya berbeda (Betawi, Papua, Medan, Tegal, Jawa Tengah, Makassar, Manado, dan Tionghoa) membentuk “Tim Merah Putih”.
Mereka menjalani misi heroik untuk menemukan dan mengibarkan kembali bendera tersebut tepat pada 17 Agustus.
Kontroversi dan Kritik
Anggaran besar: Rp6,7 miliar, namun kualitas animasi dinilai buruk dan kaku.
Waktu produksi sangat singkat: hanya sekitar dua bulan.
Dugaan penggunaan aset visual stok dari situs animasi seperti Reallusion.
Respons publik negatif: trailer yang dirilis di YouTube dibanjiri kritik dan meme.
Film ini dimaksudkan sebagai simbol persatuan dan semangat kebangsaan, namun justru memicu perdebatan soal kualitas, transparansi anggaran, dan etika produksi.
Warganet minta KPK turun tangan
Warganet meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengusut tuntas produksi film animasi Merah Putih One For All.
Alasannya film tersebut sudah menghabiskan anggaran nyaris Rp 7 miliar namun kualitasnya sangat buruk.
Animasi film tersebut dianggap kaku dan tidak sesuai standar industri. Cerita dan grafis dari film yang rencananya akan tayang menjelang HUT ke-80 RI tersebut bahkan dianggap jauh di bawah standar film animasi modern.
"Tolong diusut KPK," tulis akun Instagram @pancapradipta 17 dikutip Minggu(10/8/2025). Akun tersebut berkomentar di akun instagram produser Toto Soegriwo.
"Ini bau cuci uang menyengat sekali, tolong usut KPK," tulis warganet dengan akun@cuddleseasonii.
Akun resmi Instagram Toto Soegriwo beberapa hari belakangan terus diserang warganet. Setiap postingan Toto di Instagram Feeds mengenai film animasi Merah Putih One For All selalu dibanjiri komentar warganet yang mencibir dan mengkritik film animasi garapan Perfiki Kreasindo di bawah Yayasan Pusat Perfilman H Usmar Ismail tersebut.
Merespon kritikan warganet tersebut Toto Soegriwo angkat bicara. Kata dia tidak ada satu Rupiah pun anggaran pemerintah mendanai film yang rencananya bakal tayang jelang HUT ke-80 RI tersebut.
"Satu Rupiah pun tidak ada dari pemerintah," kata dia.
Diketahui film Merah Putih: One For All menuai kritik tajam karena animasi yang dianggap kaku dan tidak sesuai standar industri. Cerita dan grafis dari film yang rencananya akan tayang menjelang HUT ke-RI tersebut dianggap jauh di bawah standar film animasi modern.
Bahkan tak sedikit membandingkan kualitas film animasi Merah Putih: One For All, jauh di bawah film animasi "Jumbo" yang sukses menggaet lebih dari 10 juta penonton di bioskop, sekaligus tercatat sebagai film animasi terlaris sepanjang masa di Indonesia.
Film Merah Putih: One For All diproduksi oleh Perfiki Kreasindo di bawah Yayasan Pusat Perfilman H Usmar Ismail, dengan Toto Soegriwo sebagai produser utama dan Endiarto serta Bintang Takari sebagai sutradara dan penulis naskah.
Film tersebut dikabarkan mendapat kucuran anggaran dari pemerintah.
Film ini dimaksudkan sebagai simbol persatuan dan semangat kebangsaan, namun justru memicu perdebatan soal kualitas, transparansi anggaran, dan etika produksi.
(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.