Berita Gorontalo
Komunitas Pututa Recycle Gorontalo Ubah Sampah Jadi Furniture Estetik
Kepedulian terhadap lingkungan ditunjukkan secara nyata oleh sekelompok anak muda di Kelurahan Dulomo Selatan, Kecamatan Kota Utara, Kota Gorontalo.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/DAUR-ULANG-SAMPAH-Salah-satu-Pemuda-Tanggidaa.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Kepedulian terhadap lingkungan ditunjukkan secara nyata oleh sekelompok anak muda di Kelurahan Dulomo Selatan, Kecamatan Kota Utara, Kota Gorontalo.
Mereka tergabung dalam komunitas Pututa Recycle, yang bergerak di bidang pengelolaan sampah plastik menjadi perabotan rumah tangga bernilai seni tinggi.
Komunitas yang diprakarsai oleh Jamaludin Kadir (27) dan rekan-rekannya ini telah berdiri sejak Juni 2024.
Mereka tak hanya mendaur ulang sampah menjadi barang bermanfaat, tetapi juga membuka bank sampah yang memberi manfaat ekonomi langsung bagi warga.
Baca juga: Putar Music di Cafe atau Resto, Segini Royalti yang Harus Dibayar Pengusaha
“Kami ingin masyarakat tak sekadar buang sampah sembarangan, tapi juga belajar bagaimana mengelola dan memanfaatkannya,” ujar Jamaludin saat ditemui TribunGorontalo.com, Rabu (6/8/2025).
Pututa Recycle memproduksi berbagai jenis perabot seperti meja, kursi, jam dinding, plakat hingga lembaran papan plastik.
Semua berasal dari limbah, mulai dari tutup botol hingga plastik bekas.
Proses daur ulang dimulai dengan memilah sampah berdasarkan warna dan jenis, lalu dibersihkan, digiling, dijemur, masuk ke oven, hingga akhirnya dibentuk sesuai desain.
Uniknya, setiap produk yang dihasilkan memiliki ciri khas dan bisa dipesan secara kustom.
Harga perabotan yang ditawarkan bervariasi, mulai dari Rp25 ribu hingga jutaan rupiah.
Bahkan, produk daur ulang ini sudah tembus pasar luar daerah seperti Jakarta, Bekasi, Manado, dan Kalimantan.
Sayangnya, justru minat masyarakat Gorontalo sendiri masih tergolong rendah.
Selain menghasilkan produk kreatif, bank sampah yang dikelola komunitas ini juga memiliki konsep yang inovatif.
Sampah yang disetor oleh warga bisa ditukar dengan berbagai kebutuhan seperti voucher listrik, pulsa, pembayaran pajak PBB, bahkan uang tunai.
“Bank sampah ini bisa jadi semacam koperasi simpan pinjam, hanya dengan modal sampah,” ungkap Jamaludin.