Selasa, 10 Maret 2026

Berita Viral

Waspada Penipuan Berkedok Seleksi Pegawai Badan Gizi Nasional, Simak Penjelasan Pihak BGN

Badan Gizi Nasional (BGN) memperingatkan masyarakat agar waspada terhadap penipuan terkait seleksi pegawai yang mengatasnamakan lembaga ini. 

Tayang:
Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Waspada Penipuan Berkedok Seleksi Pegawai Badan Gizi Nasional, Simak Penjelasan Pihak BGN
Generated by AI
REKRUTMEN PEGAWAI -- Ilustrasi penipuan rekrutmen pegawai, dibuat oleh ChatGPT. Badan Gizi Nasional memperingatkan masyarakat perihal dugaan penipuan rekrutmen pegawai yang mengatasnamakan BGN. 

TRIBUNGORONTALO.COM – Badan Gizi Nasional (BGN) memperingatkan masyarakat agar waspada terhadap penipuan terkait seleksi pegawai yang mengatasnamakan lembaga ini. 

BGN menegaskan bahwa mereka tidak pernah meminta biaya apa pun atau data pribadi melalui saluran tidak resmi dalam proses rekrutmen.

"Kami mengimbau masyarakat untuk berhati-hati terhadap informasi yang tidak berasal dari saluran resmi BGN," ujar Khairul Hidayati, Kepala Biro Hukum dan Humas BGN, dalam keterangan tertulis seperti dikutip TribunGorontalo.com dari Kompas.com pada Minggu (3/8/2025).

Khairul menjelaskan bahwa semua informasi resmi mengenai rekrutmen pegawai hanya akan diumumkan melalui situs web dan media sosial resmi BGN. 

Ia mengajak masyarakat untuk memverifikasi setiap informasi yang diterima demi menghindari penipuan dan menjaga keamanan data pribadi.

Adapun pemerintah akan kembali mengadakan seleksi Calon Aparatur Sipil Negara (CASN) pada tahun 2025. 

Namun, fokus rekrutmen kali ini adalah Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), bukan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS).

Seleksi PPPK 2025 akan dibuka untuk tiga instansi, yaitu Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), Kejaksaan Agung, dan Badan Gizi Nasional (BGN). 

Hal ini dikonfirmasi oleh Kepala Biro Hukum dan Komunikasi Publik Badan Kepegawaian Negara (BKN), Wisudo Putro Nugroho.

"Seleksi CASN tahun 2025 akan dilaksanakan khusus untuk formasi PPPK pada 3 instansi tersebut," jelas Wisudo.

Tribunners, berhati-hatilah terhadap segala informasi yang beredar di media sosial. 

Cara mengetahui lowongan kerja yang palsu 

Dilansir TribunGorontalo.com dari Kompas.com, berikut tujuh cara mengetahui lowongan kerja yang palsu menurut Country Marketing Manager Indonesia, Sawitri.

1. Mengecek posisi

Sawitri menjelaskan, salah satu cara untuk mengidentifikasi keaslian lowongan kerja adalah mengecek posisi yang ditawarkan. 

Ia mengatakan, lowongan kerja palsu biasanya mencantumkan kualifikasi yang terlalu umum.

"Seperti menerima kandidat dari semua jenjang pendidikan dan keahlian yang dibutuhkan hanya keahlian dasar," ujar Sawitri dalam keterangan resminya kepada Kompas.com, Sabtu (5/8/2023). 
"Padahal untuk posisi yang mereka tawarkan sebenarnya memerlukan keterampilan khusus," sambungnya. 

Ia juga mengingatkan, pencari kerja sebaiknya berhati-hati dengan informasi lowongan kerja yang diterima apalagi jika iklannya menawarkan gaji besar namun tidak menyebutkan posisi yang sedang dibuka. 

2. Cermati email dan laman perusahaan 

Cara lain untuk mengidentifikasi keaslian lowongan kerja adalah mengecek email dan laman perusahaan. 

Sawitri menyampaikan, perusahaan yang membuka lowongan kerja akan mencantumkan email resminya. 

Perusahaan menyertakan email untuk menerima lamaran atau memanggil kandidat untuk wawancara. 

"Alamat email perusahaan palsu biasanya domain gratis atau web based seperti Yahoo dan Gmail," jelas Sawitri. 

Sawitri juga menerangkan, email perusahaan yang benar-benar membuka lowongan pekerjaan bisa diidentifikasi. 

Simak contohnya berikut ini: 

Resmi : namapenerima@namaperusahaan.com 

Fiktif: nama.perusahaan@gmail.com atau namahrd@yahoo.com. 

3. Langsung diterima kerja

Sawitri menyampaikan, kejanggalan lowongan kerja yang palsu bisa diketahui jika salah satu pihak langsung memanggil pencari kerja untuk bekerja tanpa mengikuti tes dan wawancara. 

Padahal, kata Sawitri, idealnya proses rekrutmen membutuhkan waktu berkala dan kandidat harus melalui beberapa tahapan sebelum diterima bekerja. 

"Selain itu, perusahaan akan memastikan kandidat memiliki skill dan memenuhi persyaratan rekrutmen," jelasnya. 

"Perusahaan yang profesional tidak mungkin langsung menerima begitu saja," sambung Sawitri. 

4. Cek sumber informasi lowongan pekerjaan 

Sawitri meminta pencari kerja untuk memerhatikan penyampaian informasi pada iklan yang berisi lowongan pekerjaan. 

Jika informasi yang tertera banyak typo, penggunaan huruf kapital yang tidak tepat, atau salah tanda baca, pencari kerja harus berhati-hati dengan hal ini. 

Selain itu, hal lain yang perlu diwaspadai adalah informasi yang disampaikan tanpa memiliki poin yang jelas dan ejaan tidak sesuai EYD. 

"Cobalah cari situs lowongan pekerjaan yang menyediakan informasi lowongan kerja yang mempunyai kredibilitas tinggi," saran Sawitri.

 Ia juga mengatakan, setiap perusahaan yang mengiklankan lowongan pekerjaan diharuskan untuk mencantumkan detail menyeluruh. 

Informasi tersebut meliputi profil perusahaan, jenis pekerjaan, gaji, lokasi, job desk, termasuk kualifikasi yang dibutuhkan.

5. Ada pungutan biaya 

Sawitri menyampaikan, perusahaan fiktif akan meminta sejumlah uang untuk biaya transportasi atau registrasi. 

Bila pencari kerja juga diarahkan untuk menggunakan agen travel atau hotel tertentu ketika melamar pekerjaan, pencari kerja sebaiknya waspada dengan hal ini. 

"Berhati-hatilah karena ini adalah salah satu modus yang oknum-oknum sering pakai," imbuh Sawitri. 

Ia mengingatkan supaya pencari kerja tidak memercayai pihak yang meminta sejumlah uang ketika rekrutmen.

Pencari kerja perlu memahami bahwa perekrut sudah pasti digaji oleh perusahaan sehingga mereka tidak mematok bayaran kepada kandidat.

"Jika mereka mengharuskan Anda untuk membayar biaya untuk mengirimkan resume atau melanjutkan ke tahap wawancara, kemungkinan besar itu penipuan," jelas Sawitri. 

Selain meminta uang untuk proses rekrutmen, hal lain yang patut diwaspadai adalah permintaan untuk membayarkan sejumlah uang dengan alasan biaya pelatihan atau seminar.

6. Meminta data pribadi 

Sawitri menyampaikan, perusahaan akan meminta data-data pribadi yang dibutuhkan untuk keperluan administrasi. 

Namun, data tersebut baru diminta perusahaan bila kandidat sudah diterima bekerja, bukan ketika proses rekrutmen. 

Bila kandidat ditawari lowongan pekerjaan dan langsung dimintau data pribadi, ada kemungkinan informasi ini palsu. 

Adapun, data pribadi yang sering diminta, meliputi:

- Foto KTP 

- SIM 

- Kartu Keluarga 

- Fotokopi ijazah 

- Transkrip nilai 

- NPWP. 

Sawitri menambahkan, pelaku penipuan biasanya juga meminta data lain secara detail, seperti foto depan dan belakangnya. Padahal, foto seperti itu tidak terlalu diperlukan ketika pencari kerja baru di awal tahap rekrutmen. 

"Hati-hati ketika hendak membagikan data-data tersebut, setidaknya sampai sudah melewati tahap interview," tutur Sawitri.

7. Cek informasi perusahaan 

Cara lainnya untuk mengetahui lowongan pekerjaan asli atau palsu adalah mengecek informasi perusahaan. 

Pastikan perusahaan yang namanya tertera pada lowongan kerja punya kredibilitas alamat dan nomor kontak. Telusuri juga alamat resmi perusahaan. 

Jika alamat asli dan yang tertera pada iklan berbeda, ada kemungkinan ini adalah lowongan kerja palsu. 

Pencari kerja juga bisa mengecek kontak perusahaan yang dilamar menggunakan aplikasi identifikasi nomor telepon, misalnya Get Contact.

 


Jangan ketinggalan informasi terkini. Ikuti TribunGorontalo.com untuk mengetahui peristiwa lokal maupun nasional

 

(TribunGorontalo.com/Kompas.com)

 

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Penipuan Berkedok Seleksi Pegawai, Catut Nama Badan Gizi Nasional"

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved