Berita Nasional
Rekaman CCTV Jadi Petunjuk Kunci Kasus Diplomat Arya Daru, Polisi Diminta Dalami Peran Istri
Depan kamar kos Arya beredar di media sosial, muncul berbagai spekulasi yang mengarah pada sosok penjaga kos yang terlihat beberapa kali mondar-mandir
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Kematian-Diploma-Arya-Daru-xncjv.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM -- Misteri kematian diplomat muda Arya Daru makin menyita perhatian publik.
Setelah rekaman CCTV di depan kamar kos Arya beredar di media sosial, muncul berbagai spekulasi yang mengarah pada sosok penjaga kos yang terlihat beberapa kali mondar-mandir dan mengintip ke dalam kamar korban.
Yang mengejutkan, sang penjaga kos mengaku hanya menjalankan perintah dari istri Arya Daru.
Klaim ini sontak memantik tanda tanya besar: apakah istri korban mengetahui lebih banyak dari yang ia sampaikan ke publik?
Rekaman CCTV yang memperlihatkan penjaga kos depan kamar Diplomat Arya Daru menimbulkan kecurigaan.
Jika benar, maka harus didalami, namun jika tidak benar maka apa yang ditunjukan di CCTV memang adalah suatu kejanggalan.
Baca juga: 4 Keberangkatan Kapal Pelni Nabire - Sorong Juli 2025: KM Ciremai Tanpa Transit
Baca juga: Gagal Haji Furoda, Ruben Onsu Pilih Fokus Umrah dan Belajar Al-Quran
Hal ini dikatakan oleh Mantan Kapolda Jawa Barat (Jabar) Irjen Pol Purn Anton Charliyan.
Dalam hasil analisanya terkait kasus ini, Anton juga menyebut-nyebut soal kasus subang.
"Saya kira kalau tidak ada latar belakang itu sesuatu yang janggal, tetapi ketika ada latar belakang misalkan seperti yang dikatakan bahwa itu diminta oleh istrinya, kalau diminta oleh istrinya itu juga harus didalami lagi," kata Anton, Minggu (13/7/2025), dikutip dari YouTube Kompas TV.
"Seperti, mohon maaf, tidak menuduh, masalah pembunuhan Subang kan ternyata (pelaku) adalah dari keluarganya sendiri," imbuhnya.
Menurut Anton, polisi harus mengumpulkan seluruh bukti-bukti dalam kasus diplomat muda tewas ini.
"Makanya ini di samping physical evidence, bukti-bukti mati, bukti-bukti hidup, latar belakang ini harus saling berkelindan erat karena untuk mengungkap satu masalah tidak bisa dari satu sisi," katanya.
"Apalagi ini dikatakan apakah sidik jari itu hanya di lakban saja atau ada di tempat lain kan ini perlu terus-terusan dikumpulkan antara satu bukti dengan satu yang lain," imbuhnya.
Anton sependapat dengan pernyataan eks Wakapolri Komjen Pol (Purn) Oegroseno yang menyabut bahwa kasus diplomat muda tewas ini kemungkinan 50 persen bunuh diri dan 50 persen pembunuhan.
"Tapi apabila dilihat dari tutupan lakban itu apakah tutupan lakban itu di hidung kan kita juga tidak tahu," ujar Anton.