Prakiraan Cuaca Gorontalo
Pantas Gorontalo Masih Diguyur Hujan Padahal Sudah Masuk Kemarau, Begini Penjelasan BMKG
Memasuki pertengahan Juni 2025, sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Gorontalo, masih diwarnai hujan.
Penulis: Redaksi | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Prakiraan-cuaca-BMKG-besok-Kamis-27-Maret-2025-889999.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Memasuki pertengahan Juni 2025, sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Gorontalo, masih diwarnai hujan.
Padahal secara klimatologis, Juni 2025 seharusnya Gorontalo sudah memasuki musim kemarau.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan di kalangan masyarakat.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan terkait anomali iklim ini.
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, mengungkapkan bahwa hingga awal Juni 2025, baru sekitar 19 persen zona musim di Indonesia yang benar-benar telah memasuki musim kemarau.
Ini berarti mayoritas wilayah Tanah Air masih berada dalam kategori musim hujan.
Penyebab Mundurnya Musim Kemarau
Menurut Dwikorita, kemunduran musim kemarau tahun ini utamanya dipicu oleh tingginya curah hujan yang terjadi selama April hingga Mei 2025.
Periode tersebut seharusnya menjadi masa peralihan dari musim hujan ke kemarau.
Peningkatan curah hujan ini diamati di sebagian besar wilayah Indonesia bagian selatan, termasuk Sumatera bagian selatan, Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Meskipun Gorontalo tidak disebutkan secara spesifik dalam daftar wilayah dengan peningkatan curah hujan ekstrem tersebut, kondisi umum di Indonesia bagian selatan yang masih diguyur hujan lebat turut memengaruhi pola iklim regional.
"Prediksi musim dan bulanan yang kami rilis sejak Maret lalu menunjukkan adanya anomali curah hujan di atas normal di wilayah-wilayah tersebut, dan ini menjadi dasar utama dalam memprediksi mundurnya musim kemarau tahun ini," ujar Dwikorita, seperti dilansir laman resmi BMKG pada Sabtu (21/6/2025).
Analisis curah hujan pada sepuluh hari pertama Juni 2025 (Dasarian I) juga menunjukkan bahwa 72 persen wilayah Indonesia berada dalam kategori normal, 23 persen di bawah normal, dan hanya 5 persen yang masih mengalami curah hujan di atas normal.
Prediksi Kemarau Lebih Singkat dan Basah
BMKG memprediksi bahwa kondisi curah hujan di atas normal ini masih akan berlangsung di sejumlah wilayah hingga Oktober 2025.
Oleh karena itu, musim kemarau tahun ini diperkirakan akan berlangsung lebih singkat dari biasanya dan tidak merata secara spasial.
Kondisi yang disebut sebagai "kemarau basah" ini membawa dampak ganda.
Bagi petani padi, pasokan air irigasi mungkin tetap tersedia.
Namun, kelembapan tinggi justru berisiko bagi pertanian hortikultura, membuat tanaman seperti cabai, bawang, dan tomat lebih rentan terhadap serangan hama dan penyakit.
Dwikorita menekankan pentingnya kesiapsiagaan semua pihak, termasuk pemerintah daerah dan masyarakat, dalam merespons dinamika iklim yang semakin sulit diprediksi akibat perubahan iklim global.
"Kita tidak bisa lagi berpaku pada pola iklim lama. Anomali-anomali iklim semakin sering terjadi. Adaptasi harus dilakukan secara cepat dan tepat,” tegasnya.
BMKG berkomitmen untuk terus mendampingi masyarakat dan pemangku kepentingan dalam membaca perubahan cuaca dan iklim dengan lebih presisi, agar setiap langkah ke depan bisa lebih bijak dan berbasis data.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.