Senin, 9 Maret 2026

Pemusnahan Amunisi di Garut

Ledakan Dahsyat di Garut Tewaskan 13 Orang: Ini 8 Fakta Versi TNI

Ledakan hebat mengguncang Desa Sagara, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, Jawa Barat, pada Senin pagi, 12 Mei 2025.

Tayang:
Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Ledakan Dahsyat di Garut Tewaskan 13 Orang: Ini 8 Fakta Versi TNI
KOMPAS.com/NICHOLAS RYAN ADITYA
PEMUSNAHAN AMUNISI - Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI, Brigjen Kristomei Sianturi ditemui di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis (24/4/2025). 

TRIBUNGORONTALO.COM – Ledakan hebat mengguncang Desa Sagara, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, Jawa Barat, pada Senin pagi, 12 Mei 2025.

Dentuman keras yang menggema sekitar pukul 09.30 WIB itu berasal dari kegiatan pemusnahan amunisi kedaluwarsa yang dilakukan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Tragisnya, peristiwa ini menewaskan 13 orang, empat di antaranya prajurit TNI, sembilan lainnya warga sipil.

Insiden ini memunculkan duka mendalam sekaligus tanda tanya besar tentang prosedur keamanan dalam pemusnahan bahan peledak militer, serta mengapa warga bisa berada begitu dekat dengan lokasi berbahaya.

Berikut delapan hal penting yang dijelaskan TNI terkait insiden memilukan ini:

1. Ledakan Terjadi Saat Pemusnahan Amunisi Kadaluarsa

TNI menyatakan bahwa ledakan terjadi saat pemusnahan rutin amunisi yang sudah tidak layak pakai.

Kegiatan ini dilakukan oleh satuan TNI AD dari Gupusmu III Puspalad dan berlangsung di lahan milik Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) di Desa Sagara.

"Pada 12 Mei 2025 pukul 09.30 WIB telah terjadi musibah di lokasi pemusnahan amunisi tidak layak pakai atau amunisi expired milik TNI AD," ujar Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen Kristomei Sianturi dalam siaran langsung di Kompas TV, Senin (12/5/2025).

2. Granat dan Mortir Jadi Sumber Ledakan

Menurut Mayjen Kristomei, jenis amunisi yang hendak dimusnahkan saat itu terdiri dari granat dan mortir.

Meski belum sempat digunakan, amunisi tersebut sudah melewati masa simpan dan berisiko tinggi.

"Granat dan mortir itu belum sempat dipakai, tapi karena sudah expired, maka harus kami musnahkan. Itu memang prosedur rutin di lingkungan TNI," ungkapnya.

3. Ledakan Susulan Saat Warga Mendekat

Ledakan tidak terjadi sekali. Setelah dentuman pertama saat proses pemusnahan, terjadi ledakan susulan yang diduga berasal dari sisa amunisi yang belum meledak sempurna.

"Ledakan pertama terjadi saat proses berlangsung. Lalu, mungkin karena ada detonator yang belum meledak, saat warga mendekat ke lokasi, terjadilah ledakan kedua," jelas Kristomei.

Dugaan sementara, banyak korban warga sipil muncul karena mereka datang usai ledakan awal, tanpa mengetahui bahaya yang masih tersisa.

4. 13 Korban Jiwa, Termasuk Perwira TNI

Tragedi ini merenggut nyawa 13 orang. Empat di antaranya adalah prajurit TNI yang tengah menjalankan tugas, sisanya sembilan warga sipil yang berada di sekitar lokasi.

Proses identifikasi dan pemulasaraan dilakukan di RSUD dr. Slamet Garut.

Berikut daftar korban:

Prajurit TNI:

1.Kolonel Cpm Antonius Hermawan (Kepala Gudang Gupusmu III Puspalad)

2.Mayor Cpl Anda Rohanda

3.Kopda Eri Priambodo

4.Pratu Aprio Setiawan

Warga sipil:

5. Agus bin Kasmin

6. Ipan bin Obur

7. Anwar

8. Iyus bin Inon

9. Iyus Rizal bin Saepuloh

10. Totok

11. Dadang

12. Rustiawan

13. Endang

5. Kebiasaan Warga Kumpulkan Serpihan Logam

Mayjen Kristomei mengungkap, warga sekitar lokasi sudah lama memiliki kebiasaan mengumpulkan sisa logam, tembaga, atau material peledak usai pemusnahan dilakukan.

"Biasanya setelah peledakan, masyarakat datang untuk mengambil serpihan logam, tembaga, atau besi dari granat atau mortir. Tapi kali ini, kebiasaan itu justru berujung pada bencana karena diduga masih ada amunisi aktif yang belum meledak," katanya.

6. TNI Lakukan Evaluasi dan Investigasi Internal

TNI mengakui bahwa evaluasi menyeluruh sedang dilakukan. Investigasi internal tengah berjalan untuk memastikan apakah seluruh prosedur pengamanan telah dijalankan sesuai standar operasional.

"Kita akan konsentrasi melakukan investigasi agar peristiwa ini tidak terulang. Nanti akan kami sampaikan detailnya, termasuk penyebab teknisnya," ujar Kristomei.

7. Risiko Amunisi Kedaluwarsa Sangat Tinggi

Mayjen Kristomei menjelaskan bahwa amunisi yang telah kedaluwarsa sangat sulit diprediksi. Isian bahan peledak di dalamnya bisa saja berubah dan pemicunya tidak lagi stabil.

"Namanya juga amunisi expired, kita tidak bisa perkirakan kondisinya. Entah isinya masih sesuai atau tidak, atau pemantiknya masih bisa bekerja normal. Itu sebabnya penanganannya sangat berisiko," jelas dia.

8. Lokasi Langsung Diamankan TNI

Pasca ledakan, TNI langsung memperluas perimeter pengamanan dan mensterilkan lokasi untuk mencegah korban tambahan.

Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Brigjen TNI Wahyu Yudhayana mengatakan, koordinasi dilakukan dengan aparat terkait untuk menjamin keamanan warga sekitar.

"Kami pastikan lokasi saat ini sudah diamankan sepenuhnya. Pensterilan terus dilakukan karena masih ada kemungkinan sisa bahan berbahaya di area tersebut," kata Wahyu.

Tragedi ini menjadi pengingat kelam akan betapa pentingnya penerapan standar keamanan maksimal dalam pemusnahan amunisi.

TNI menyatakan akan membuka fakta secara transparan setelah investigasi selesai.

Sementara itu, DPR dan berbagai pihak publik mendesak adanya audit menyeluruh dan pembenahan prosedur untuk mencegah jatuhnya korban jiwa dalam kejadian serupa.(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved