Selasa, 24 Maret 2026

Mata Lokal Fest 2025

Mata Lokal Fest 2025, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Bahas Pembiayaan Industri Hijau

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkap strategi untuk mendorong industri bertransformasi ke sektor yang lebih ramah lingkungan.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Ponge Aldi
zoom-inlihat foto Mata Lokal Fest 2025, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Bahas Pembiayaan Industri Hijau
TRIBUNNEWS
MATA LOKAL FEST - Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di acara Tribun Network Mata Lokal Fest 2025 di Hotel Shangri-La Jakarta, Kamis (8/5/2025). Agus membeber keseriusan Pemerintah menyiapkan peraturan untuk pembiayaan transformasi industri hijau. 

TRIBUNGORONTALO.COM - Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkap strategi untuk mendorong industri bertransformasi ke sektor yang lebih ramah lingkungan.

Hal ini diungkapnya saat menjadi pembicara sesi diskusi Mata Local Fest 2025 dengan tema Cutting Edge for Local Sustainability di acara Mata Lokal Fest 2025.

Mata Lokal Fest 2025 digelar Tribun Network di Hotel Shangri-La Jakarta, Kamis (8/5/2025).

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menjabarkan langkah pemerintah dan Kemenperin untuk mewujudkan industri hijau.

"Upaya yang dilakukan oleh pemerintah sebagai bagian dari global community untuk menciptakan dunia yang lebih ramah lingkungan, tapi di satu sisi juga tidak mengorbankan ekonomi mendorong industri menggunakan teknologi yang lebih advance di fasilitas pabrik," ungkap Menperin di Tribun Network Mata Lokal Fest 2025, Kamis (8/5/2025).

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita  897yyyy
MATA LOKAL FEST - Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dan CEO Tribun Network Dahlan Dahi di acara Tribun Network Mata Lokal Fest 2025 di Hotel Shangri-La Jakarta, Kamis (8/5/2025). Agus membeber keseriusan Pemerintah menyiapkan peraturan untuk pembiayaan transformasi industri hijau.

Agus menyebutkan pihaknya tengah menyiapkan peraturan mengenai pembiayaan bagi perusahaan yang berkomitmen bertransformasi ke industri hijau.

Dalam Permenperin yang sedang digodok, nantinya akan akan Green Industry Service Company atau GISCO. Dimana Kementerian Perindustrian sebagai fasilitatornya.

"Kami sekarang sudah dalam proses persiapan penerbitan Peraturan Menteri Perindustrian tentang fasilitasi pembiayaan industri hijau. Nanti akan diatur keberadaan atau pendirian Green Industry Service Company atau GISCO. Kami fasilitatornya," ucapnya.

 Ke depan dalam pembentukan GISCO akan ada investor yang berasal dari financial institution, untuk kemudian mendanai proyek industri hijau yang diajukan perusahaan.

"Mereka yang akan mendanai program-program transformasi dari industri yang ada di Indonesia menuju industri hijau," kata Agus.

Langkah ini diambil sebagai solusi bagi perusahaan. Menurut Agus, saat ini banyak perusahaan yang menganggap transformasi ke industri hijau menjadi sebuah cost atau biaya pengeluaran.

"Transformasi ini pasti mahal dan sebagian besar perusahaan masih menganggap bahwa ini cost bukan investasi. Oleh sebab itu pemerintah juga harus hadir dan membantu dengan bagaimana kita bisa menyiapkan dana-dana yang bisa dipergunakan oleh perusahaan untuk transformasi," ujar Menperin.

Menperin Optimistis GISCO Bisa Danai Transformasi Industri Hijau dan Buka Peluang Ekspor Baru 

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan sedang merancang aturan mengenai pembiayaan untuk transformasi industri ramah lingkungan.

Untuk perubahan industri konvensional ke industri hijau, sebuah lembaga yang nantinya akan didirikan bernama Green Industry Service Company atau GISCO akan dibuat.

"Kami sebagai fasilitator dan pendanaan dari financial institution. Mereka akan mengelontorkan dana untuk transformasi pada industri," ungkap Agus dalam acara Tribun Network Mata Lokal Fest 2025 di Hotel Shangri-La Jakarta, Kamis (8/5/2025).

Dengan rencana tersebut, Menperin optimis Permenperin yang sedang disiapkan akan segera dirilis dan dapat membantu transformasi industri di Indonesia.

Selain itu, dengan beralihnya industri konvensional ke industri hijau dipastikan bisa membuka pasar-pasar ekspor baru ke negara yang secara ketat menerapkan aturan ketat terhadap lingkungan.

 "Industri ini jadinya akan memiliki market yang terbuka, khususnya bagi market-market dari negara-negara ekspor yang memang memiliki rezim pengaturan importasi yang sangat ketat yang dikaitkan dengan lingkungan," terang Menperin.

Kementerian Perindustrian sendiri telah menyiapkan sembilan sektor industri yang menjadi target dekarbonisasi.

 Ke sembilan industri tersebut adalah semen, amonia, logam, pulp dan kertas, tekstil, kimia, keramik, makanan dan minuman, serta otomotif.

Menperin Agus Gumiwang Soroti Potensi Insentif Mobil Berbahan Bakar Hidrogen

Mobil-mobil yang ramah lingkungan di Indonesia mulai mendapatkan insentif dari pemerintah sebagai upaya mencapai Net Zero Emission (NZE) pada 2060.

Sebut saja mobil listrik yang mendapatkan insentif Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) Ditanggung Pemerintah (DTP) 10 persen dan mobil hybrid sebesar 3 persen. 

Teknologi ramah lingkungan lainnya yang sedang berkembang ialah mobil hidrogen, dimana wacana mengenai insentif terhadap mobil ini sempat mencuat.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan, mengenai wacana insentif untuk mobil hybrid saat ini belum ada bahasan fokus di pemerintahan.

"Belum ada insentif mobil hidrogen. Teknologinya saja kan masih belum ini (berkembang). Tapi yang ingin saya sampaikan adalah seperti yang sudah saya sampaikan sejak 6 tahun yang lalu, saat saya ditunjuk sebagai Menteri Perindustrian yaitu bagi kami semua teknologi otomotif itu kami persilahkan untuk berkembang di Indonesia," ungkap Agus saat hadir di acara Tribun Network Mata Lokal Fest 2025 di Shangri-La Jakarta, Kamis (8/5/2025).

Dengan dipersilakannya untuk berkembang, catatan yang diberikan Menperin ialah wajib dikembangkan ke arah yang ramah lingkungan.

Hal ini juga tidak terkecuali untuk mobil konvensional atau Internal Combustion Engine (ICE). Selama modelnya bisa memiliki emisi yang rendah bisa dikembangkan di Indonesia.

Meski begitu, Menperin AGK menilai teknologi mobil hidrogen memiliki prospek cerah, sebab masih memiliki peluang berkembang luas.

 "Hidrogen juga menurut pandangan kami itu sumber potensi teknologi yang menurut saya pribadi akan berkembang," ungkap Agus.

Sementara itu, mobil ramah lingkungan seperti EV dan HEV (Hybrid Electric Vehicle) juga masih memiliki potensi besar. Namun demikian, HEV dinilai Menperin paling fair untuk mengajak masyarakat berperan menurunkan emisi.

"Hybrid itu teknologi yang paling fair, yang paling fair tarik-menarik antara ICE dengan baterai dan juga memang menunjukkan bahwa ada efisiensi dari sumber daya dan dia lebih ramah lingkungan. Jadi intinya semua teknologi otomotif di mata kementerian itu terbuka selama dia menunjukkan progresnya menuju ramah lingkungan," kata Menperin AGK.

Menperin: Tarif Impor Tinggi, Strategi Trump Bawa Pulang Industri Manufaktur AS di Luar Negeri

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan tarif impor baru yang tinggi untuk seluruh barang yang diekspor sejumlah negara ke AS, pada 2 April 2025. Indonesia termasuk yang terkena tarif impor tinggi Donald Trump. 

 Defisit perdagangan AS dengan Indonesia sekitar 18 miliar dolar menjadi alasan Trump menaikkan tarif impor barang impor dari Indonesia menjadi sebesar 32 persen.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menilai, penerapan tarif impor tinggi oleh Presiden Trump merupakan strategi dia untuk mengembalikan industri manufaktur ke negerinya.

"Assessment (penilaian) saya mengatakan bahwa apa yang dilakukan Trump adalah untuk membawa kembali manufaktur ke Amerika," ucap Agus dalam acara Tribun Network Mata Lokal Fest 2025 di Shangri-La Jakarta, Kamis (8/5/2025).

Agus berpandangan bahwa, Trump saat ini sadar bahwa Amerika kehilangan kesempatan karena industri manufaktur Negeri Paman Sam basisnya lebih banyak berada di luar AS.

Saat ini, industri di dalam negeri AS didominasi perusahaan teknologi yang menurut Agus Gumiwang jumlahnya kecil jika dibandingkan industri manufaktur perusahaan AS yang beroperasi di luar negeri.

 "Trump itu sadar persis bahwa mereka kehilangan opportunity karena manufaktur-manufaktur dari perusahaan-perusahaan Amerika basisnya sudah di luar Amerika, kecuali memang mungkin manufaktur yang memiliki teknologi tinggi, tapi itu jumlahnya kecil," ungkapnya.

 Pertanyaannya, apakah dengan cara menaikkan tarif impor seluruh barang yang masuk ke AS adalah langkah yang tepat? Agus tidak bisa berspekulasi.

Akan tetapi, yang jelas ialah membangun sebuah industri manufaktur tidak bisa instan, namun untuk menghancurkannya hanya butuh waktu singkat.

"Apakah beliau (Trump) akan berhasil? Saya nggak berani menjawab dan saya nggak bisa menjawab, karena itu nanti sejarah yang bisa menjawab."

"Saya ingin memberikan satu pesan bahwa membangun sebuah manufaktur di sebuah negara tidak bisa terjadi overnight."

"Indonesia sudah membuktikan konsistensinya, komitmennya dalam membangun manufaktur sudah puluhan tahun sampai hari ini kita jaga, kita lindungi konsistensi dan komitmen itu," terang Menperin. (*/Tribunnews)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Menperin Bahas Pembiayaan Industri Hijau di Mata Lokal Fest 2025

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved