Minggu, 8 Maret 2026

Harga Beras Turun

Harga Beras Bakal Anjlok ke Titik Terendah, Indonesia Alami Alami Surplus Beras

Harga beras di dunia akan mengalami penurunan yang cukup signifikan. Hal itu dikarenakan negara penghasil beras akan memproduksi beras berlebihan.

Tayang:
Editor: Prailla Libriana Karauwan
zoom-inlihat foto Harga Beras Bakal Anjlok ke Titik Terendah, Indonesia Alami Alami Surplus Beras
TribunGorontalo.com
BERAS - Harga beras bakal anjlok. Hal itu dikarenakan beras akan mengalami surplus termasuk di wilayah Indonesia 

TRIBUNGORONTALO.COM -- Harga beras di dunia akan mengalami penurunan yang cukup signifikan.

Hal itu dikarenakan negara penghasil beras akan memproduksi beras berlebihan.

Sehingga stok beras pun akan melimpah.

Hal itulah yang menjadi pemicu utama harga beras akan mengalami penurunan.

Baca juga: Katalog JSM di Alfamart Berlaku hingga 15 Mei 2025 : Ada Potongan Harga Khusus di Minyak Goreng

Dilansir dari Tribunnews.com, Kondisi ini cukup mengguncang eksportir besar, seperti Thailand, Vietnam, dan Kamboja yang mengandalkan pasar tradisional, termasuk Indonesia

Namun, di tengah tekanan global ini, Indonesia justru mencetak tonggak sejarah, yakni mencatatkan rekor produksi tertinggi dan berhasil keluar dari ketergantungan impor beras konsumsi. 

Bahkan, Indonesia disebut mencetak rekor produksi tertinggi se-ASEAN. 

Berdasarkan Rice Outlook edisi April 2025 dari USDA, Indonesia menunjukkan performa luar biasa. 

Produksi beras Indonesia pada musim 2024/2025 mencapai 34,6 juta ton beras giling, tertinggi di ASEAN, sekaligus menempatkan Indonesia sebagai produsen terbesar di kawasan, melampaui Vietnam dan Thailand.

Baca juga: Diskon Beras di Indomaret: 5 Kg Mulai Rp60 Ribuan, 2,5 Kg Rp30 Ribuan, Minyak Goreng Rp30 Ribuan

FAO juga mencatat produksi beras global 2024/2025 mencapai rekor tertinggi sebesar 543,6 juta metrik ton. 

Jika ditambah stok sebelumnya, total pasokan global menembus 743 juta ton, jauh di atas kebutuhan konsumsi dunia yang berada di angka 539,4 juta ton. 

India sendiri mencatatkan stok beras dan gabah pemerintah sebanyak 63,09 juta ton per 1 April 2025, lima kali lipat dari target 13,6 juta ton. 

India diprediksi meningkatkan ekspor sebesar 25 persen, mencapai 22,5 juta ton pada 2025. 

Ini membuat India menguasai lebih dari 40 persen pangsa ekspor global, melampaui gabungan ekspor dari Thailand, Vietnam, Pakistan, dan Amerika Serikat.

Thailand, Vietnam, dan Kamboja Alami Tekanan Berat

Sejumlah negara eksportir, terutama Thailand dan Vietnam dikabarkan sedang ketar-ketir karena harga beras dunia sedang anjlok. 

Baca juga: Cerita Syamsir, Pria Asal Makassar Jadi Dosen Serta Buka Usaha Kedai Kopi di Gorontalo

Penurunan harga global dimulai sejak India mencabut larangan ekspor gandum pada 2022. 

Langkah ini disusul dengan peningkatan tajam produksi dan ekspor beras, sehingga menekan harga beras ekspor India ke titik terendah dalam 22 bulan. 

Harga beras di Thailand pun jatuh ke level terendah dalam tiga tahun, sementara Vietnam mengalami harga terendah dalam hampir lima tahun.

Menurut laporan Reuters, harga beras global kini telah turun sepertiga dibandingkan puncaknya pada 2024. Presiden Asosiasi Eksportir Beras India BV Krishna Rao menyebutkan bahwa harga 5 % broken rice diperkirakan bertahan di kisaran US$390 per ton hingga akhir tahun karena membanjirnya pasokan.

Thailand yang selama ini menjadi eksportir andalan kawasan, kini mengalami tekanan hebat. 

Harga murah beras India membuat ekspor Thailand pada kuartal I 2025 anjlok hingga 30 % , menjadi hanya 2,1 juta ton. 

Baca juga: Cek Harga Beras, Gula dan Minyak Goreng di Alfamart dan Indomaret: Ada Potongan Khusus

Sepanjang 2025, ekspor diperkirakan turun 24 % menjadi 7,5 juta ton. 

Penurunan harga gabah domestik sebesar 30 % pada Februari 2025 memicu gelombang protes dari petani Thailand. 

Pemerintah setempat berupaya mengatasi gejolak ini dengan mengusulkan kerja sama bersama India dan Vietnam untuk menstabilkan harga dan melindungi petani lokal.

Vietnam yang sebelumnya sukses mengekspor 8 juta ton beras pada 2023, kini juga menghadapi tekanan akibat membanjirnya beras murah India dan hilangnya pasar Indonesia

Ekspor Vietnam diprediksi turun 17 % menjadi 7,5 juta ton pada 2025. 

Baca juga: Promo Harga Minyak Goreng di Alfamart dan Indomaret 9 Mei 2025: 2 Liter Hanya Rp30 Ribuan

Dalam Forum Ekonomi Beras ASEAN di Hanoi pada Maret 2025 lalu, Menteri Pertanian Vietnam Le Minh Hoan menyatakan Vietnam tengah berupaya memperluas pasar ekspor ke Timur Tengah dan Afrika, serta mendorong ekspor beras premium untuk bertahan di tengah persaingan harga yang ketat.

Hal serupa terjadi di Kamboja. Dalam pertemuannya dengan Presiden RI Prabowo Subianto di Jakarta pada 5 Mei 2025, Presiden Senat Kamboja Hun Sen menyatakan bahwa Kamboja kini kehilangan pasar penting karena Indonesia tidak lagi mengimpor beras. 

Hun Sen mengapresiasi keberhasilan Indonesia dalam ketahanan pangan, namun menegaskan bahwa lonjakan produksi domestik Indonesia berdampak pada pasar regional. 

Kamboja kini berusaha mencari pasar baru ke Eropa dan Asia Timur untuk menyerap kelebihan stok beras, meskipun harus bersaing dengan harga murah dari India dan Vietnam.

Indonesia Cetak Rekor Produksi, Akhiri Impor Konsumsi

Berbanding terbalik dengan negara eksportir yang kini menghadapi tantangan besar, Indonesia justru sedang di atas angin. 

Baca juga: Ramalan Zodiak Aries, Taurus dan Gemini Hari Ini Jumat 9 Mei 2025: Cinta hingga Keuangan

Cadangan beras pemerintah menembus angka 3,5 juta ton per Mei 2025, tertinggi dalam 57 tahun terakhir, seluruhnya berasal dari produksi lokal tanpa tambahan impor beras medium. 

Prestasi ini merupakan hasil nyata dari strategi intensifikasi dan ekstensifikasi yang dijalankan pemerintah, termasuk percepatan tanam, pompanisasi, hingga penggunaan benih unggul.

Bulog juga berperan penting dalam menyerap produksi petani. 

Hingga Mei 2025, Bulog telah menyerap 1,8 juta ton beras dari petani, menjadi penyangga utama ketahanan pangan nasional. 

Pemerintah menyatakan bahwa produksi dalam negeri kini telah melampaui kebutuhan nasional, sehingga Indonesia tidak lagi melakukan impor beras konsumsi pada 2025. 

Baca juga: Ramalan Zodiak Cancer, Leo dan Virgo Hari Ini Jumat 9 Mei 2025: Cinta hingga Keuangan

Impor hanya dilakukan secara terbatas untuk keperluan khusus seperti hotel, restoran, dan kafe.

“Alhamdulillah, hari ini kita buktikan bahwa Indonesia bisa kuat stok berasnya. Ini bukan hanya soal angka, tapi soal kedaulatan dan martabat bangsa,” tegas Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.

Ia menambahkan bahwa keberhasilan ini adalah buah kerja keras seluruh jajaran, mulai dari petani, penyuluh, pemerintah daerah, hingga dukungan penuh dari Presiden RI Prabowo Subianto.

“Kami bergerak cepat dengan strategi pompanisasi, mekanisasi, dan penyediaan benih unggul. Hasilnya nyata: kita tidak lagi impor beras konsumsi dan stok kita tertinggi dalam sejarah,” jelas Mentan Amran.

Sebagai catatan, Indonesia sebelumnya merupakan pengimpor beras terbesar kelima dunia pada 2023, dengan total impor 3,06 juta ton. 

Mayoritas diimpor dari Thailand (1,38 juta ton atau 45,12 % ) dan Vietnam (1,15 juta ton atau 37,47 % ). 

Tantangan dan Peluang: Kunci di Ketahanan dan Kolaborasi

Anjloknya harga beras dunia menjadi peringatan keras bagi eksportir seperti Thailand, Vietnam, dan Kamboja untuk segera beradaptasi dengan dinamika pasar. 

Di sisi lain, ini adalah momen emas bagi Indonesia untuk memperkuat posisi sebagai negara mandiri pangan dan bahkan bersiap menjadi eksportir di masa depan.

Baca juga: Cek Harga Beras, Gula dan Minyak Goreng di Alfamart dan Indomaret: Ada Potongan Khusus

Namun, pemerintah tetap harus mewaspadai tantangan jangka panjang seperti perubahan iklim, penurunan luas lahan pertanian, dan fluktuasi pasar global. 

Penguatan teknologi pertanian, pengelolaan air, dan infrastruktur distribusi menjadi kunci mempertahankan pencapaian ini.

“Ke depan, kami akan perkuat lagi petani kita agar bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Bukan tidak mungkin, Indonesia jadi pengekspor beras,” ujar Mentan Amran optimistis. (*)


Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved