Selasa, 10 Maret 2026

Ketupat Gorontalo

Warga Diimbau Datang Lebih Awal ke Bandara, Tradisi Ketupat Gorontalo Diprediksi Picu Kemacetan

Warga yang hendak terbang dari Bandara Djalaluddin hari ini diimbau datang lebih awal, Senin (07/4/2025).

Tayang:
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Warga Diimbau Datang Lebih Awal ke Bandara, Tradisi Ketupat Gorontalo Diprediksi Picu Kemacetan
FOTO: Wawan Akuba, Tribun Gorontalo
DATANG CEPAT -- Penumpang pesawat di Bandara Djalaludin diminta bergegar sebelum terjebak kemacetan perayaan Ketupat Gorontalo. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo — Warga yang hendak terbang dari Bandara Djalaluddin hari ini diimbau datang lebih awal, Senin (07/4/2025).

Hal itu karena akses menuju bandara diprediksi macet akibat perayaan besar-besaran Lebaran Ketupat di wilayah Kabupaten Gorontalo.

Kemacetan diperkirakan terjadi di tiga jalur utama menuju bandara, yaitu Jalan Batudaa, Jalan Kampung Jawa/Limboto, dan jalan Gorontalo Outer Ring Road (GORR).

Sebagai informasi, bahwa hari ini nyaris seluruh wilayah di Gorontalo menggelar perayaan ketupat.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, ribuan warga bakal tersedot ke wilayah Kampung Jawa dan Batudaa untuk mengikuti tradisi tahunan tersebut.

Masalahnya, dua wilayah ini adalah akses utama warga Kota Gorontalo ke Bandara Djalaludin.

Penerbangan pertama dari Bandara Djalaluddin dijadwalkan berangkat pukul 08.40 menuju Jakarta, disusul penerbangan ke Makassar pukul 10.30, 11.55, dan 14.20.

Pihak bandara mengimbau calon penumpang untuk tiba di bandara minimal 4 jam sebelum jadwal penerbangan guna menghindari keterlambatan.

Masyarakat juga diminta bersabar dan mengantisipasi perjalanan lebih lama dari biasanya.

"Pengguna Jasa Penerbangan Melalui Bandara Djalaluddin Gorontalo Sehubungan dengan Tradisi Lebaran Ketupat di Kab. Gorontalo dan sekitarnya pada 7 April 2025, Dengan ini dihimbau agar datang lebih awal minimal 4 jam sebelum jadwal penerbangan untuk menghindari kemacetan. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya Terima kasih," demikian pengumuman pihak bandara dikutip dari laman resminya.

Jejak Panjang Lebaran Ketupat di Gorontalo, Warisan Keturunan Jaton yang Terus Hidup

Setiap tahun, kawasan Kampung Jawa di Kabupaten Gorontalo selalu dipadati warga saat perayaan Lebaran Ketupat. Tradisi yang digelar setiap 8 Syawal atau tepat sepekan setelah Idulfitri ini tak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga peristiwa budaya yang sarat makna sejarah.

Namun, tahukah kamu sejak kapan tradisi ini mulai dirayakan di Gorontalo?

Dalam sebuah jurnal berjudul "Nilai Pendidikan dalam Tradisi Lebaran Ketupat Masyarakat Suku Jawa Tondano di Gorontalo", penulis Muh Arif dan Melki Y.

Lasantu mencatat bahwa Lebaran Ketupat mulai tumbuh di Gorontalo sejak migrasi masyarakat Jawa-Tondano (Jaton) pada awal 1900-an.

Mereka datang dari Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, dan menetap di sejumlah wilayah di Kabupaten Gorontalo.

Saat ini, keturunan Jaton tersebar di empat desa utama: Kaliyoso di Kecamatan Dungaliyo, Roksonegoro di Kecamatan Tibawa, Mulyonegoro di Kecamatan Pulubala, dan Yosonegoro di Kecamatan Limboto Barat.

Keempat desa ini menjadi pusat-pusat budaya yang terus menjaga napas tradisi Lebaran Ketupat.

Perayaan ini biasanya diisi dengan penyajian beragam makanan berbahan dasar beras, seperti ketupat, lontong, soto, coto makassar, hingga makanan khas lainnya seperti nasi bulu (nasi lemak dimasak dalam bambu), dodol, kue mendut, serabi, koa, serta olahan daging ayam dan sapi.

Sebelum dibagikan kepada masyarakat, seluruh makanan tersebut terlebih dahulu didoakan di masjid, sebagai bentuk syukur dan berkah.

Tradisi ini tidak hanya diikuti oleh masyarakat Gorontalo, tetapi juga menarik perhatian warga pendatang dari berbagai daerah seperti Manado, Bitung, Palu, hingga Makassar, yang turut meramaikan suasana di kampung-kampung Jaton.

Sejarah mencatat bahwa komunitas Jaton merupakan keturunan Kiai Modjo, seorang tokoh Islam yang pada tahun 1829 diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda ke tepi Danau Tondano, Sulawesi Utara.

Wilayah pengasingan itu kini dikenal sebagai bagian dari Minahasa, yang kemudian menjadi asal-usul komunitas Jaton yang menyebar hingga ke Gorontalo.

Sosiolog Universitas Negeri Gorontalo, Basri Amin, menyebut bahwa tradisi Lebaran Ketupat di Gorontalo tidak bisa dipisahkan dari eksistensi Kampung Jawa.

Meski awalnya merupakan budaya yang sudah hidup di banyak komunitas Muslim di Nusantara, di Gorontalo tradisi ini menemukan bentuk khasnya sebagai penjaga nilai-nilai kearifan lokal.

“Lebaran ketupat mengajarkan kerendahan hati dan semangat hidup bermasyarakat. Ia hadir sebagai pengikat sosial yang kuat antarwarga,” ujarnya.(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved