Lebaran Ketupat Gorontalo
Warga Jaton Gorontalo Bicara Makna Nasi Bulu dalam Tradisi Hari Ketupat
Kuliner nasi bulu menjadi hidangan utama bagi warga yang tinggal di Desa Yosonegoro, Kecamatan Limboto Barat, Kabupaten Gorontalo.
Penulis: Arianto Panambang | Editor: Fadri Kidjab
TRIBUNGORONTALO.COM – Sejumlah warga Jawa Tondano (Jaton) berbicara tradisi Lebaran Ketupat.
Kuliner nasi bulu menjadi hidangan utama bagi warga yang tinggal di Desa Yosonegoro, Kecamatan Limboto Barat, Kabupaten Gorontalo.
Nasi bulu merupakan makanan berbahan dasar beras pulo. Cara memasaknya menggunakan media bambu dan api.
Rizaldi Lihinta, warga Jaton, menjelaskan bahwa pembuatan nasi bulu memerlukan ketelatenan dan kerja sama.
“Bumbunya itu sederhana, hanya bawang putih, bawang merah, jahe, dan sedikit garam,” ucapnya saat diwawancarai TribunGorontalo.com, Minggu (6/4/2025).
Namun, di balik bumbu sederhana itu, proses memasaknya memakan waktu cukup lama.
Mula-mula beras pulo direndam selama 12 jam. Kemudian beras yang telah tercampur rempah-rempah itu diisi ke dalam bambu yang dalamnya dilapisi daun pisang.
“Kelapa diparut lalu diperas jadi santan, dicampur dengan bumbu halus, dan dimasukkan bersama beras ke dalam bambu. Lalu dibakar pakai kayu, dijejer di atas besi panjang,” jelas Rizaldi.
Baca juga: 1.446 Ketupat Gratis Disediakan untuk Masyarakat Umum di Kota Gorontalo, Cek Lokasinya
Proses pembakaran berlangsung hingga dua jam. Nasi bulu dianggap matang sempurna manakala sudah mengeluarkan aroma wangi.
Nasi bulu ini menjadi sajian utama saat Lebaran Ketupat, berdampingan dengan ketupat dan dodol atau genang khas Jaton.
“Ini sudah tradisi dari orang tua kami. Setiap tahun pasti buat. Rasanya belum lengkap Lebaran Ketupat kalau belum ada nasi bulu,” tambah Rizaldi.
Selain dibuat untuk keluarga dan tamu, sebagian warga juga menjual nasi bulu, terutama untuk masyarakat luar komunitas Jaton yang ingin merasakan cita rasa khas ini.
“Biasanya bisa sampai 500 batang bambu tiap tahun, tergantung pesanan. Harganya tergantung ukuran, ada yang Rp30.000 sampai Rp35.000,” ungkapnya.
Menurutnya, produksi nasi bulu meningkat setelah masa pandemi Covid-19.
Febriani Arni, pengunjung asal Bukittinggi Sumatera Barat, jauh-jauh datang ke Yosonegoro untuk mencicipi nasi bulu khas Jaton.
“Saya baru pertama kali lihat langsung prosesnya. Seru ya, ramai-ramai, aromanya enak. Rasanya juga mirip lemang di kampung saya,” tuturnya.
Lebaran Ketupat bagi warga Jaton bukan sekadar merawat tradisi,tetapi juga momen mempererat ikatan sosial antarwarga.
(TribunGorontalo.com/Arianto Panambang)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Proses-pembuatan-nasi-bulu-di-Desa-Yosonegoro.jpg)