Jumat, 6 Maret 2026

Info Tekno

Trump Beri TikTok Tambahan Waktu 75 Hari, Larangan Ditunda hingga 19 Juni

Presiden Donald Trump kembali membuka peluang bagi TikTok di Amerika Serikat.

Tayang:
Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Trump Beri TikTok Tambahan Waktu 75 Hari, Larangan Ditunda hingga 19 Juni
Freepik
MASA DEPAN TIKTOK -- Trump mengumumkan bahwa dirinya menandatangani perintah eksekutif yang memberikan TikTok tambahan waktu 75 hari untuk menjual operasionalnya di AS. 

TRIBUNGORONTALO.COM -- Presiden Donald Trump kembali membuka peluang bagi TikTok di Amerika Serikat.

Lewat unggahan di Truth Social pada Jumat sore, Trump mengumumkan bahwa dirinya menandatangani perintah eksekutif yang memberikan TikTok tambahan waktu 75 hari untuk menjual operasionalnya di AS.

Dengan keputusan ini, batas waktu yang tadinya berakhir Sabtu, mundur hingga 19 Juni 2025.

Trump menyebut telah terjadi "kemajuan luar biasa" menuju kesepakatan, meski diakuinya masih ada hal-hal yang perlu dirampungkan.

Penundaan ini mencegah aplikasi video populer tersebut dari potensi "menghilang" dalam hitungan jam.

Dalam pernyataannya, Trump menegaskan pemerintahannya akan terus bekerja sama dengan China, sekaligus memuji kebijakan tarif yang diberlakukannya awal pekan ini.

Ia menyebut tarif tersebut sebagai "alat ekonomi paling kuat" dan "sangat penting bagi keamanan nasional."

"Kami tidak ingin TikTok 'padam'," tulis Trump. "Kami menantikan kerja sama dengan TikTok dan China untuk menyelesaikan kesepakatan ini."

Namun hingga kini, baik TikTok maupun pemerintah China belum memberikan komentar resmi. Keduanya memang sejak lama menentang penjualan operasional TikTok di AS.

Perang Dagang Memanas

Di sisi lain, China membalas kebijakan tarif Trump dengan memberlakukan tarif balasan terhadap barang-barang AS.

Situasi ini membuat perang dagang kedua negara kembali memanas dan mengguncang pasar saham global.

Indeks Dow Jones anjlok lebih dari 2.200 poin, sementara Nasdaq mencatat penurunan harian terbesar dalam lima tahun terakhir sebesar 5,8 persen.

Banyak Peminat TikTok

Penundaan larangan ini sebenarnya sudah diprediksi. Beberapa calon pembeli potensial TikTok di AS muncul dalam beberapa hari terakhir.

Menurut laporan The New York Times, perusahaan ekuitas swasta Blackstone dan raksasa teknologi Oracle sedang mempertimbangkan tawaran bersama, sementara Amazon dikabarkan ikut mengajukan penawaran menit-menit terakhir.

Sebelumnya, Kongres AS mengesahkan undang-undang yang mewajibkan ByteDance, induk perusahaan TikTok berbasis di China, untuk menjual TikTok kepada pembeli yang disetujui AS.

Jika tidak, TikTok harus ditarik dari toko aplikasi AS. UU ini mendapat dukungan bipartisan luas dan diteken oleh Presiden Joe Biden kala itu, sebelum Mahkamah Agung AS menguatkan legalitasnya pada Januari 2025.

Sikap Trump terhadap TikTok

Saat kampanye pemilu 2024, Trump sempat berjanji akan "menyelamatkan TikTok," meski tak merinci caranya.

Dalam konferensi pers, ia menyatakan ada "minat luar biasa" terhadap TikTok dan menyebut banyak calon pembeli potensial. 

Ia juga mengisyaratkan kemungkinan menurunkan tarif terhadap China jika pemerintah Beijing menyetujui penjualan TikTok.

Trump bahkan sempat mengusulkan ide agar AS memiliki 50 % saham TikTok lewat usaha patungan, meski belum menjelaskan mekanismenya.

TikTok sendiri memiliki peran penting dalam Pemilu 2024. Dalam sebuah konferensi Desember lalu, Trump mengakui TikTok membantunya mendapatkan suara dari kalangan pemuda.

"Saya punya tempat hangat di hati untuk TikTok," kata Trump sambil tersenyum.

Dengan tenggat baru pada 19 Juni — bertepatan dengan peringatan federal Juneteenth — nasib TikTok kini bergantung pada seberapa cepat kesepakatan penjualan bisa tercapai.

Para pengguna setia TikTok, sementara itu, bisa bernapas sedikit lega — setidaknya untuk sekarang. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved