Ramadan 2025
Harga Minyak Tanah Jelang Tumbilotohe di Gorontalo Naik Signifikan
Harisa Hasan, seorang pedagang minyak tanah di Pasar Sentral Kota Gorontalo, menyebutkan bahwa harga bahan bakar ini terus merangkak naik dalam dua pe
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/STOK-MINYAK-TANAH-Harisa-Hasan-pedagang-di-pasar-Sentral-Kota-Gorontalo.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Memasuki bulan Ramadan 1446 Hijriah, harga minyak tanah di Gorontalo mengalami kenaikan yang cukup signifikan.
Sejumlah pedagang mengeluhkan ketidakstabilan harga yang berdampak pada daya beli masyarakat.
Harisa Hasan, seorang pedagang minyak tanah di Pasar Sentral Kota Gorontalo, menyebutkan bahwa harga bahan bakar ini terus merangkak naik dalam dua pekan terakhir.
Jika sebelumnya harga per botol masih berkisar Rp25 ribu, kini melonjak menjadi Rp28 ribu.
“Harga tidak stabil, dua minggu lalu masih Rp25 ribu per botol, sekarang sudah Rp28 ribu. Kenaikan ini cukup terasa bagi pembeli,” ungkap Harisa kepada Tribun Gorontalo, Sabtu (15/3/2025).
Meskipun harga naik, ketersediaan minyak tanah di pasaran diklaim masih mencukupi.
Ini terutama menjelang tradisi Timbilotohe, ritual khas masyarakat Gorontalo yang dilakukan setiap akhir Ramadan dengan menyalakan lampu-lampu untuk menyambut malam Lailatul Qadar.
Namun, Harisa mengungkapkan bahwa permintaan minyak tanah untuk keperluan Timbilotohe kini mulai berkurang.
Banyak warga telah beralih ke lampu hias berbasis listrik, seperti lampu LED, sehingga kebutuhan minyak tanah tidak sebesar tahun-tahun sebelumnya.
“Sekarang lebih banyak yang pakai lampu LED dibandingkan lampu botol. Jadi stok minyak tanah masih cukup aman,” jelasnya.
Pasar Sepi, Pedagang Keluhkan Penurunan Pembeli
Selain menghadapi kenaikan harga minyak tanah, para pedagang juga mengeluhkan sepinya pembeli di Pasar Sentral Kota Gorontalo.
Harisa mengatakan bahwa situasi ini bukan hanya terjadi pada minyak tanah, tetapi juga pada berbagai komoditas pangan lainnya.
“Sejak pagi saya hanya menjual satu botol minyak tanah. Sepinya luar biasa, tidak seperti dulu,” katanya dengan nada prihatin.
Menurutnya, kondisi pasar yang semakin sepi disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah banyaknya pedagang yang kini berjualan di pinggir jalan, membuat konsumen lebih memilih berbelanja di luar pasar.
“Sekarang sudah banyak yang jualan di pinggir jalan, jadi orang tidak perlu masuk ke dalam pasar. Ditambah lagi, model pasar yang tertutup membuat pengunjung semakin sedikit,” ungkap Harisa.
Sementara itu, Wahab Umar, pedagang minyak tanah di Desa Kopi, Kecamatan Bulango Utara, Kabupaten Bone Bolango, menyebutkan bahwa harga minyak tanah di daerahnya bahkan lebih tinggi dibandingkan di Kota Gorontalo.
Di pasar, harga minyak tanah berkisar antara Rp30 ribu hingga Rp32 ribu per botol, sementara di kios-kios eceran, harganya bisa mencapai Rp35 ribu per botol atau setara dengan 1,5 liter.
“Harga ini masih stabil, tapi kalau sudah mendekati malam Timbilotohe, pasti naik lagi,” ujar Wahab.
Meski demikian, ia memastikan bahwa pasokan minyak tanah masih cukup aman hingga perayaan Timbilotohe nanti.
“Tidak akan ada kelangkaan, karena banyak yang sudah beralih ke lampu listrik,” pungkasnya.
Dengan kondisi harga minyak tanah yang terus naik dan daya beli masyarakat yang melemah, para pedagang berharap adanya kebijakan pemerintah yang dapat membantu menstabilkan harga dan meningkatkan kembali aktivitas ekonomi di pasar.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.